Manggala-Agni deteksi 218 hotspot di Singkawang sejak Februari 2026 - ANTARA News Kalimantan Barat
Singkawang (ANTARA) - Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Kalimantan IX/Singkawang mendeteksi sebanyak 218 titik panas (hotspot) di wilayah Kota Singkawang sejak Februari hingga Juli 2026.
"Seluruh titik panas tersebut langsung diverifikasi melalui pengecekan lapangan (groundcheck) sebagai bagian dari upaya deteksi dini untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas," ujar Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang, Yuyu Wahyudin, di Singkawang, Selasa.
Dia mengatakan pemantauan hotspot dilakukan secara intensif melalui aplikasi Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) yang kemudian ditindaklanjuti dengan verifikasi di lapangan.
"Seluruh informasi hotspot segera kami tindak lanjuti melalui kegiatan groundcheck untuk memastikan kondisi di lapangan sehingga setiap potensi kebakaran dapat ditangani sedini mungkin," katanya.
Ia menegaskan deteksi dini menjadi strategi utama dalam pengendalian karhutla. Selain memanfaatkan pemantauan berbasis satelit, Manggala Agni juga mengintensifkan patroli rutin maupun patroli mandiri di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Menurut dia, hasil identifikasi di lapangan menunjukkan sebagian besar kejadian karhutla masih dipicu oleh aktivitas pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar. Karena itu, setiap hotspot yang terkonfirmasi langsung ditangani melalui pemadaman, pendinginan lokasi, serta pemberian edukasi kepada masyarakat agar tidak lagi menggunakan api saat mengelola lahan.
Menghadapi musim kemarau dan potensi pengaruh fenomena El Nino, Manggala Agni bersama tim gabungan terus memperkuat langkah pencegahan sejak awal tahun melalui patroli terpadu, pemantauan hotspot, sosialisasi kepada masyarakat, dan peningkatan kesiapsiagaan personel di lapangan.
Berdasarkan data SIPONGI, luas kebakaran hutan dan lahan di Kota Singkawang selama periode Januari hingga Juni 2026 mencapai sekitar 374,74 hektare. Data tersebut menunjukkan pentingnya penguatan sistem deteksi dini agar setiap titik panas dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
"Setiap hotspot yang terpantau melalui SIPONGI dianalisis dan diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual di lokasi serta menentukan langkah penanganan yang diperlukan," ujar Yuyu.
Sementara itu, Kepala Seksi Wilayah II Pontianak Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Sahat Irawan Manik, mengimbau masyarakat dan pelaku usaha menghentikan praktik pembakaran lahan karena masih menjadi penyebab dominan terjadinya karhutla.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat dan pelaku usaha di Singkawang untuk tidak melakukan pembakaran saat membuka atau membersihkan lahan. Pencegahan menjadi tanggung jawab bersama agar bencana asap tidak kembali terjadi," katanya.
Ia menambahkan sinergi antara pemerintah, Manggala Agni, TNI-Polri, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat akan terus diperkuat guna meningkatkan efektivitas deteksi dini dan penanganan karhutla selama musim kemarau.
Pewarta: Narwati
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.