Makin Panas, AS Kembali Serang ICC dan Desak Amerika Latin Ikut Angkat Kaki

Bagikan:

JAKARTA — Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, mendesak negara-negara Amerika Latin yang tergabung dalam Koalisi Anti-Kartel Amerika (Americas Counter-Cartel Coalition/ACCC) untuk keluar dari Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC).

Langkah tersebut disampaikan Hegseth dalam pidatonya di Panama, Rabu (12/8/2026), dengan tuduhan bahwa ICC telah melemahkan kedaulatan nasional negara-negara anggota.

"Saya sangat mendorong setiap anggota ACCC untuk keluar dari ICC dan menolak upaya mereka merampas kedaulatan pemerintah dan pengadilan Anda," tegas Hegseth.

Alasan AS Menolak Kewenangan ICC

Hegseth menegaskan bahwa setiap negara harus memiliki kewenangan penuh untuk mengerahkan pasukan militer dan melindungi warganya berdasarkan hukum serta konstitusi nasional masing-masing.

Melalui inisiatif "budaya prajurit" yang dipeloporinya, Hegseth menilai bahwa tentara hanya boleh bertanggung jawab kepada aturan dalam negeri.

"Negara-negara kita mempertahankan kedaulatan dan kemampuan untuk mengerahkan prajurit kita sendiri untuk membela diri. Kami hanya bertanggung jawab kepada warga negara dan konstitusi kami sendiri, bukan birokrat internasional yang tidak dipilih," ujar Hegseth.

Ia juga menuduh ICC melancarkan "upaya perebutan kekuasaan yang melanggar hukum" karena berusaha mengklaim yurisdiksi atas personel militer AS maupun negara mitranya dalam berbagai operasi militer. Menurutnya, aturan internasional yang tidak perlu justru memaksa prajurit bertempur dengan "satu tangan terikat di belakang," padahal prioritas utama militer adalah daya mematikan (lethality).

BACA JUGA:


Kolombia Resmi Masuk ACCC dan Gandeng Militer AS

Dalam kesempatan yang sama, Hegseth mengumumkan bergabungnya Kolombia sebagai anggota ke-19 ACCC.

Presiden baru Kolombia, Abelardo de la Espriella—yang kerap dijuluki Presiden "El Tigre" oleh Presiden AS Donald Trump—telah meminta dukungan militer AS untuk memberantas terorisme narkoba di wilayahnya.

"Melalui presiden yang baru dilantik, Kolombia telah meminta Departemen Perang untuk bergabung dalam perjuangan melawan terorisme narkoba, dengan mengizinkan operasi militer bersama untuk menghancurkan jaringan teroris," kata Hegseth.

Tekanan Washington terhadap ICC Menguat

Sikap keras Hegseth menambah panjang deretan tekanan Washington terhadap ICC. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga secara terbuka mengkritik keabsahan ICC dengan menyebut lembaga tersebut "tidak sah" karena mengklaim yurisdiksi atas negara bukan anggota.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa langkah diplomasi Rubio ditujukan untuk membela Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta pihak-pihak lain yang kini menghadapi pemeriksaan oleh peradilan internasional tersebut.

Amerika Serikat sendiri bukan merupakan negara pihak (state party) dalam Statuta Roma ICC dan secara konsisten menolak yurisdiksi lembaga tersebut. Ketegangan antara AS dan ICC kian memuncak sejak ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan pada November 2024 terhadap Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang di Jalur Gaza.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+