Ma'ruf Amin dorong NU perkuat pendidikan dan kemandirian ekonomi

Jakarta (ANTARA) - Wakil Presiden Ke-13 RI Ma'ruf Amin mendorong Nahdlatul Ulama (NU) memperkuat umat dan memakmurkan negara melalui pengembangan pendidikan, kemandirian ekonomi serta penguatan kerukunan bangsa.

Ma'ruf mengatakan NU tidak sekadar menjadi wadah berkumpul, tetapi merupakan organisasi yang memiliki peran dalam memperjuangkan keadilan, menjaga keamanan, dan mendorong perbaikan kehidupan masyarakat.

"Jadi, NU itu adalah organisasi yang memperjuangkan keadilan, menebarkan keamanan, wa islahin dan melakukan berbagai perbaikan, wa ihsanin dan membawa kebaikan-kebaikannya," kata Ma'ruf pada "Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi NU" di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen, Senayan, diikuti daring di Jakarta, Sabtu.

Dalam penguatan umat (taqwiyatul ummah), Ma'ruf menekankan pentingnya menjaga masyarakat dari pemahaman keagamaan yang menyimpang sekaligus meningkatkan pemberdayaan umat secara nyata.

Ia mendorong pengembangan pendidikan melalui konsep majma'ul bahrain atau pertemuan dua lautan, yakni pendidikan keagamaan yang kuat sekaligus penguasaan sains dan teknologi.

"Pendidikan yang harus kita bangun sekarang itu ada dua, yaitu menyiapkan orang-orang fakir, orang ulama untuk menjaga. Tadi, himayatul umat. Supaya tetap di dalam paham yang benar, dan kemudian, yang akan membangun bumi. Ya, yang mengawasi sains dan teknologi," ujar Ma'ruf.

Selain pendidikan, Ma'ruf menilai kemandirian ekonomi perlu menjadi bagian dari upaya memakmurkan negara. Menurut dia, gerakan ekonomi warga NU telah memiliki akar sejarah melalui Nahdlatul Tujjar yang dirintis para ulama sebelum NU berdiri.

Dalam dimensi kebangsaan, ia menekankan pentingnya menjaga tanah air (hifzhul wathon) sekaligus memelihara kerukunan melalui empat bingkai, yakni politis, yuridis, sosiologis, dan teologis.

Bingkai politis diwujudkan melalui komitmen terhadap konsensus nasional. Sedangkan bingkai yuridis memastikan aturan dan kebijakan tidak diskriminatif. Bingkai sosiologis mengoptimalkan kearifan lokal untuk menyelesaikan konflik. Sementara bingkai teologis mengedepankan narasi kerukunan antarumat beragama.

"Kita di perintah takwa, semua agama bertakwa, tetapi bagaimana menggunakan narasi kerukunan. Bukan narasi konflik," ujar dia.

Ma'ruf juga mendorong NU meningkatkan kualitas kepemimpinan melalui al-ishlah, yakni upaya mendamaikan kelompok yang berkonflik sekaligus memperbaiki arah organisasi agar tetap berlandaskan Fikrah Nahdliyyah yang moderat dan dinamis.

Ia menekankan pentingnya warga Nahdliyin memahami alasan dan landasan dalam berorganisasi sehingga tidak sekadar mengikuti arus.

"Ke depan ini kita harus membangun ber-NU ala bashirah itu kata Syekh Nawawi al-Bantani, ala hujjatin wadihatin ghairi amya. Atas dasar alasan yang kuat. Kenapa dia ber-NU? Alasannya kuat. Landasannya kuat," kata Ma'ruf.

Baca juga: Muzani: Qanun Asasi NU jadi landasan menjaga keutuhan negara

Baca juga: Ma'ruf Amin luncurkan buku dihadiri sejumlah bakal calon Ketum PBNU

Baca juga: Ma'ruf Amin serukan Arab Saudi dan Houthi Yaman gelar jembatan dialog

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.