Laba Sejumlah BPD Tetap Tumbuh Meski Kredit Tertekan
ILUSTRASI. Bank Jatim - kontan kilas online (BANK JATENG/KILAS)
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kinerja sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD) masih mencatat pertumbuhan laba hingga Agustus 2026, meski penyaluran kredit di beberapa bank justru mengalami kontraksi.
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) atau bank bjb misalnya, mencatat laba bersih Rp923,26 miliar pada Agustus 2026. Angka tersebut melonjak 58,68% secara tahunan (yoy) dibandingkan Rp581,85 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Padahal, kredit bank bjb justru turun 3,74% yoy dari Rp115,80 triliun menjadi Rp111,47 triliun.
Di tengah penurunan kredit, pendapatan bunga bersih bank bjb masih tumbuh 2,45% menjadi Rp4,14 triliun dari Rp4,04 triliun. Sementara itu, CKPN turun 15,58% menjadi sekitar Rp586 miliar dari Rp694 miliar.
Baca Juga: Strategi Prudential Indonesia Perkuat Produktivitas Agen untuk Dorong Kinerja Bisnis
Pendapatan berbasis komisi juga menjadi penopang. FBI bank bjb meningkat 9,01% menjadi sekitar Rp969,96 miliar dari sebelumnya Rp890 miliar.
Pola serupa terlihat pada Bank BPD DIY. Hingga Agustus 2026, kredit BPD DIY turun 6,50% yoy menjadi Rp9,53 triliun dari Rp10,20 triliun. Namun, laba bersih masih tumbuh 2,47% menjadi Rp214,85 miliar dari Rp209,66 miliar.
Pendapatan bunga bersih BPD DIY relatif stagnan, turun tipis menjadi Rp792,17 miliar dari Rp793,46 miliar. Sementara CKPN turun menjadi Rp87,47 miliar dari Rp104 miliar dan FBI naik menjadi Rp70,64 miliar dari sekitar Rp66 miliar.
Bank Jatim (BJTM) juga menghadapi kondisi serupa. Kredit hingga Agustus 2026 turun 3,71% menjadi Rp63,67 triliun dari Rp66,13 triliun. Namun, laba bersih tetap tumbuh 2,70% menjadi Rp950,61 miliar dari Rp925,63 miliar.
Pendapatan bunga bersih BJTM naik tipis menjadi Rp3,96 triliun dari Rp3,93 triliun. Di sisi lain, CKPN turun menjadi sekitar Rp963 miliar dari Rp1,01 triliun, sedangkan FBI naik menjadi sekitar Rp401 miliar dari Rp391 miliar.
Berbeda dengan sejumlah BPD tersebut, Bank Banten (BEKS) justru mencatat ekspansi bisnis yang cukup agresif.
Kredit BEKS hingga Agustus 2026 tumbuh 39,82% yoy menjadi Rp5,98 triliun dari Rp4,28 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut turut mendorong pendapatan bunga bersih yang melonjak 34,90% menjadi Rp176,16 miliar dari Rp130,59 miliar.
Alhasil, laba bersih Bank Banten melesat 284,40% menjadi Rp32,10 miliar dari Rp8,35 miliar.
Namun, peningkatan laba tersebut juga diiringi kenaikan pencadangan. CKPN yang sebelumnya nihil meningkat menjadi Rp25,68 miliar. Sementara FBI tumbuh 20,10% menjadi Rp41,94 miliar dari Rp34,92 miliar.
Bank Sumsel Babel juga masih mencatat pertumbuhan kredit, meski terbatas. Kredit naik 1,56% menjadi Rp22,79 triliun dari Rp22,44 triliun.
Baca Juga: CNAF Sebut Penerbitan Surat Berharga Multifinance Turun Dipengaruhi Sejumlah Faktor
Pendapatan bunga bersih hanya meningkat 0,16% menjadi Rp1,28 triliun. Meski demikian, laba bersih tumbuh 6,89% menjadi Rp336,54 miliar dari Rp314,86 miliar.
Salah satu faktor yang cukup signifikan adalah penurunan CKPN dari Rp208,56 miliar menjadi Rp86,88 miliar. Pada saat yang sama, FBI tumbuh 7,94% menjadi Rp159,06 miliar dari Rp147,35 miliar.
Sementara itu, Bank Jakarta mencatat kredit tumbuh 1,81% menjadi Rp47,48 triliun dari Rp46,63 triliun. Namun, pendapatan bunga bersih justru turun 8,29% menjadi Rp1,58 triliun dari Rp1,72 triliun.
Meski demikian, laba bersih Bank Jakarta masih naik 5,96% menjadi Rp500,02 miliar dari Rp471,90 miliar. FBI menjadi salah satu penopang dengan pertumbuhan 22,15% menjadi Rp204,27 miliar dari Rp167,23 miliar.
Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan mengatakan, pertumbuhan laba BPD di tengah perlambatan atau kontraksi kredit dapat ditopang oleh sejumlah faktor.
"Pertumbuhan laba BPD di tengah kredit yang melambat atau terkontraksi ditopang oleh penurunan beban CKPN, perbaikan kualitas aset, efisiensi biaya, fee-based income, dan pengelolaan likuiditas," kata Trioksa kepada kontan.co.id, Selasa (22/9).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan laba yang terlalu bergantung pada penurunan CKPN perlu dicermati. Pasalnya, faktor tersebut memiliki ruang yang terbatas dan kurang berkelanjutan.
Menurut Trioksa, lemahnya pertumbuhan kredit BPD mencerminkan kombinasi antara permintaan kredit dan aktivitas ekonomi daerah yang belum merata. Selain itu, BPD masih berhati-hati dalam menjaga kualitas aset dan sebagian model bisnis BPD masih terkonsentrasi pada kredit konsumsi ASN.
Karena itu, ke depan BPD perlu mendorong pertumbuhan laba yang lebih berbasis bisnis. Salah satunya melalui ekspansi kredit produktif secara selektif, terutama ke sektor UMKM dan sektor unggulan daerah.
BPD juga perlu memperkuat ekosistem transaksi pemerintah daerah, meningkatkan FBI, serta memanfaatkan digitalisasi dan sinergi Kelompok Usaha Bank (KUB) untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan efisiensi.
Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah Bank BPD DIY R. Agus Trimurjanto mengatakan, kinerja perseroan masih menghadapi tekanan dari kenaikan biaya bunga dan pemupukan atau penambahan CKPN yang turut mempengaruhi rasio biaya terhadap pendapatan (BOPO).
"Beberapa tekanan seperti kenaikan biaya bunga, dan pemupukan/penambahan CKPN sedikit mempengaruhi BOPO, 74%, target kami 72%. Namun secara pertumbuhan laba yoy masih positif dan kami berharap sampai akhir tahun tetap tercapai sesuai anggaran sebesar Rp443 miliar," ujarnya.
Untuk semester II-2026, BPD DIY memperkirakan pertumbuhan kredit berada di kisaran 2%, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) sekitar 3%.
Meski pertumbuhan bisnis diperkirakan terbatas, Agus mengatakan perseroan tetap optimistis target laba dapat tercapai 100%. Sementara itu, posisi outstanding loan (OSL) dan DPK diperkirakan berada di kisaran 95%-98% dari target.
Dari sisi bisnis, BPD DIY akan memperkuat penghimpunan DPK melalui tabungan ritel, tabungan sekolah dan tabungan haji muda. Perseroan juga mendorong layanan pemerintah daerah untuk penerimaan pajak dan retribusi melalui berbagai kanal dan aplikasi.
Untuk kredit, fokus diarahkan pada UMKM yang berkaitan dengan sektor pariwisata, akomodasi dan perdagangan.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra mengatakan, laba bersih perseroan hingga Agustus 2026 mencapai Rp318,3 miliar atau tumbuh 10,95% yoy.
Namun, pertumbuhan kredit secara konsolidasi masih terkontraksi 0,22%. Kondisi tersebut terjadi di tengah sejumlah tantangan ekonomi dan daya beli masyarakat yang belum begitu baik.
Baca Juga: Simpanan Valas Melonjak 19,8%, Nasabah Makin Banyak Pegang Dolar Ketimbang Rupiah?
Di sisi lain, pembiayaan syariah Bank Nagari tumbuh 14,33%. Untuk DPK, perseroan menerapkan pendekatan funding follow the lending guna menjaga rentabilitas pada level LDR yang efisien.
Dengan strategi tersebut, DPK konsolidasi tumbuh 1,07%, sedangkan DPK syariah mencatat pertumbuhan lebih tinggi sebesar 24,73%.
Bank Nagari juga telah menyelesaikan evaluasi dan asesmen Rencana Bisnis Bank (RBB). Berdasarkan hasil analisis eksternal dan internal, perseroan melakukan revisi proyeksi kinerja 2026 untuk mengamankan laba bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan.
Dalam revisi tersebut, Bank Nagari memproyeksikan aset akhir 2026 mencapai Rp33,8 triliun, kredit Rp25,9 triliun dan DPK Rp26,7 triliun. Sementara laba bersih diperkirakan mencapai Rp505,2 miliar.
Dari sisi penyaluran kredit, Bank Nagari tetap menjaga segmen yang selama ini menjadi basis nasabah BPD, yakni ASN, pegawai dan pensiunan melalui kredit multiguna maupun KPR.
Untuk segmen produktif, Bank Nagari akan mempertahankan dominasi UMKM melalui berbagai kredit program dan skema pembiayaan perseroan. Bank juga meningkatkan porsi kredit korporasi untuk mendukung investasi, program strategis nasional dan pelaku usaha agar naik kelas.
Di sisi lain, produk dan layanan syariah Bank Nagari juga disebut mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Baca Juga: Ubah Nama, OJK Beri Izin Usaha PT Intercoastal Indonesia Insurance Broker
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag
- Bank BJB
- Bank Jatim
- Bpd Bank Pembangunan Daerah
- Kinerja BPD
- Kredit BPD
- Kredit BPD DIY