Kota Bekasi sebut Bantargebang kawasan inovasi lingkungan - ANTARA News Megapolitan
Kota Bekasi (ANTARA) - Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat menyebut wilayah Kecamatan Bantargebang diproyeksikan menjadi kawasan inovasi lingkungan, ditandai dengan dimulainya pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kelurahan Ciketing Udik hari ini.
"Momentum peresmian pembangunan fasilitas PSEL ini menjadi langkah strategis dalam upaya mengubah pengelolaan sampah sekaligus mendorong lahirnya kawasan yang lebih ramah lingkungan dan bernilai ekonomis," kata Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono di Bekasi, Rabu.
Dia mengatakan peresmian fasilitas PSEL ini bukan sekadar tentang dimulainya pembangunan fasilitas pengolahan sampah tetapi turut menjadi titik awal perubahan wajah kawasan Bantargebang.
Kawasan yang selama ini identik sebagai tempat pembuangan sampah tersebut diharapkan ke depan dapat berkembang menjadi pusat pengolahan sampah, penghasil energi baru sekaligus kawasan inovasi lingkungan.
"Bantargebang sudah lama menjadi tempat sampah. Hari ini kita mulai menjadikannya sebagai tempat lahirnya energi. Harapan ke depan, Bantargebang akan menjadi pusat inovasi lingkungan dan kawasan industri hijau yang tentunya membawa peningkatan ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.
Menurut dia pembangunan PSEL merupakan salah satu langkah strategis dalam mengurangi persoalan sampah di Kota Bekasi. Dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah per hari, proyek ini diharapkan mampu mengurangi beban sampah yang selama ini masuk ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Namun dia menegaskan dimulainya pembangunan PSEL bukan berarti seluruh persoalan sampah otomatis selesai. Masih terdapat pekerjaan rumah sekitar 300 ton sampah setiap hari yang harus diselesaikan secara bersama-sama.
"PSEL ini kapasitasnya 1.500 ton per hari. Artinya masih ada PR sekitar 300 ton setiap harinya. Ini yang harus kita selesaikan bersama, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah," ucapnya.
Tri menilai penanganan persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Mulai dari rumah tangga, sekolah, perkantoran, pusat perbelanjaan, pelaku usaha, pedagang hingga lingkungan masyarakat dengan mengambil peran dalam mengurangi timbulan sampah.
"Teknologi saja tidak cukup. Sebagus apa pun teknologinya, pengelolaan sampah tidak akan berhasil tanpa kesadaran masyarakat. Karena itu, perubahan harus dimulai dari rumah, bagaimana kita mengurangi sampah, memilah dan membuangnya dengan benar," katanya.
Ia pun mengajak masyarakat Kota Bekasi menjadikan pemilahan sampah sebagai kebiasaan sehari-hari. Sampah organik dan anorganik perlu dipisahkan sejak dari sumber agar dapat dikelola dengan lebih baik dan jumlah sampah yang harus diolah semakin berkurang.
Bagi Tri, awal pembangunan fasilitas PSEL hari ini harus menjadi momentum untuk membangun kesadaran baru bahwa sampah bukan hanya persoalan yang harus dibuang tetapi juga memiliki potensi untuk diolah menjadi sumber energi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dia berharap kehadiran PSEL Bantargebang tidak hanya menjadi solusi terhadap persoalan sampah, tetapi juga menjadi awal perubahan besar dalam membangun ekosistem lingkungan yang berkelanjutan.
"Bantargebang harus kita ubah. Dari tempat sampah menjadi tempat lahirnya energi baru, menjadi pusat inovasi lingkungan dan kawasan industri hijau. Tetapi semua itu hanya bisa terwujud kalau pemerintah, dunia usaha dan masyarakat bergerak bersama," kata dia.
Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Editor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.