Konsumsi Naik, Tabungan Menyusut: Ekonomi Indonesia Sedang Pulih atau Rumah Tangga Mulai Menguras Buffer?

Idham Nur Indrajaya

| 14 September 2026, 17:11 WIB

Konsumsi Naik, Tabungan Menyusut: Ekonomi Indonesia Sedang Pulih atau Rumah Tangga Mulai Menguras Buffer?

Konsumsi rumah tangga naik, tetapi tabungan menyusut. Apakah ekonomi Indonesia pulih atau buffer keluarga mulai terpakai? - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Belanja masyarakat mulai menunjukkan tanda-tanda lebih bergairah. Keyakinan konsumen meningkat, konsumsi naik di hampir seluruh kelompok, tetapi pada saat yang sama porsi tabungan sejumlah rumah tangga justru menyusut. Kondisi ini membuat pemulihan ekonomi Indonesia perlu dibaca lebih hati-hati: apakah masyarakat mulai memiliki uang lebih banyak untuk dibelanjakan, atau mereka mulai mengambil sebagian bantalan keuangannya?

Secara sederhana, kenaikan konsumsi rumah tangga merupakan sinyal positif bagi perekonomian karena belanja masyarakat menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi. Namun, konsumsi yang meningkat bersamaan dengan penurunan tabungan belum cukup untuk membuktikan bahwa daya beli telah pulih secara solid. Pendapatan riil, kondisi pasar tenaga kerja, dan inflasi tetap menjadi penentu apakah pemulihan tersebut benar-benar sehat.

Konsumsi rumah tangga naik, tetapi mengapa justru muncul pertanyaan?

Data yang disampaikan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 meningkat menjadi 118,5 dari 116,8 pada Juli.

Kenaikan ini secara umum merupakan kabar baik. Ketika masyarakat lebih yakin terhadap kondisi ekonomi, kecenderungan untuk melakukan pembelian barang dan jasa juga dapat meningkat. Aktivitas tersebut kemudian dapat menopang permintaan domestik.

Namun, angka IKK tidak boleh dibaca sendirian.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini pada Agustus berada di level 109,4, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen mencapai 127,6. Artinya, terdapat selisih 18,2 poin antara cara konsumen melihat kondisi ekonomi saat ini dan harapan mereka terhadap masa depan.

Gap tersebut menarik karena menunjukkan optimisme masyarakat terhadap masa depan jauh lebih tinggi dibandingkan penilaian terhadap kondisi ekonomi yang sedang mereka rasakan sekarang.

Novani Karina Saputri, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan perbaikan keyakinan konsumen memang mulai terlihat, tetapi belum berlangsung merata.

“Perbaikan belum terjadi secara menyeluruh. Kelompok pengeluaran Rp4,1–5 juta justru menjadi satu-satunya kelompok yang mencatat penurunan keyakinan, sementara persepsi pasar tenaga kerja melemah pada responden berpendidikan universitas dan pascasarjana,” jelas Novani.

Dengan kata lain, kenaikan IKK nasional tidak berarti seluruh rumah tangga merasakan perbaikan dalam intensitas yang sama.