Ketua MPR: Persatuan jadi kekuatan utama bangsa

Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan persatuan merupakan kekuatan utama bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan dan menjaga keutuhan Republik Indonesia.

“Perbedaan politik tidak akan memecah belah persaudaraan kebangsaan,” kata Muzani dalam pidato pengantar Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat.

Menurut Muzani, momentum kemerdekaan bukan sekadar seremoni konstitusional, tetapi kesempatan meneguhkan kembali komitmen kebangsaan dalam menjaga Indonesia sebagai rumah bersama.

Ia mengatakan Indonesia lahir dari kesediaan berbagai golongan mengesampingkan kepentingan kelompok demi cita-cita yang lebih besar.

Para pendiri bangsa, kata Muzani, pernah berdebat mengenai dasar negara, bentuk pemerintahan, wilayah negara, hingga hubungan agama dan negara.

Namun, perdebatan tersebut tidak berujung pada perpecahan karena para pendiri bangsa bersedia mencari titik temu hingga melahirkan Republik Indonesia.

Muzani menilai Indonesia mampu bertahan bukan semata-mata karena kekayaan alam atau dukungan internasional, melainkan juga karena kekuatan rakyat yang bersatu.

“Persatuanlah yang menyebabkan kemajuan terjadi. Bila persatuan melemah, energi bangsa ini akan habis untuk saling curiga dan saling meniadakan. Namun bila persatuan kita kokoh, perbedaan dapat kita ubah menjadi sumber energi dan kemajuan,” ujarnya.

Ia menegaskan persatuan harus dirawat setiap hari melalui keadilan, keteladanan, dialog, dan rasa saling percaya.

Menurut dia, menjaga persatuan berarti menegakkan keadilan sehingga kritik tidak boleh digunakan untuk merusak persatuan. Sebaliknya, persatuan juga tidak boleh digunakan untuk meredam perbedaan pendapat.

Muzani menekankan Pancasila sebagai titik temu terbesar bangsa Indonesia. Menurut dia, Pancasila lahir dari pengalaman sejarah, kebudayaan, agama, dan kearifan yang hidup di tengah masyarakat serta dirumuskan melalui proses perdebatan.

Ia mengatakan Pancasila telah diuji berbagai persoalan bangsa, mulai dari pergolakan politik, konflik ideologi, krisis ekonomi, kekerasan komunal, ancaman separatisme, terorisme, hingga pandemi.

Karena itu, nilai-nilai Pancasila harus diwujudkan dalam kehidupan nyata, termasuk melalui penegakan hukum, pemberantasan korupsi, pengelolaan kekayaan nasional, serta kemampuan menjaga persatuan di tengah perbedaan.

“Demokrasi tidak akan menjadi lebih kuat karena kita semakin keras mencela. Demokrasi akan menjadi kuat jika kebebasan berbicara disertai tanggung jawab,” katanya.

Muzani mengatakan perkembangan teknologi digital telah memperluas ruang demokrasi sehingga masyarakat semakin mudah menyampaikan pendapat, memperoleh informasi, dan terlibat dalam perdebatan publik.

Namun, ia mengingatkan ruang digital juga dapat menjadi sarana penyebaran kebencian, fitnah, manipulasi, dan kabar bohong secara cepat.

Karena itu, menurut dia, budaya politik yang dibangun harus lebih beradab. Perbedaan pendapat dapat disampaikan secara keras dalam gagasan, tetapi tetap santun dalam penyampaian.

Dalam pidatonya, Muzani juga menyoroti sejumlah agenda pembangunan nasional, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kelurahan Merah Putih, Sekolah Rakyat, serta Sekolah Unggul Garuda.

Menurut dia, MBG bukan sekadar pembagian makanan, tetapi bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun manusia Indonesia yang sehat serta berkualitas menuju Generasi Emas 2045.

Pemenuhan gizi bagi anak-anak, ibu hamil, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan dinilai sebagai investasi jangka panjang. Meski demikian, pelaksanaannya harus tepat sasaran dengan tata kelola yang baik dan akuntabel.

Muzani mengajak seluruh rakyat menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai momentum memperkuat tekad kebangsaan untuk mewujudkan Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

“Jangan biarkan Sang Saka Merah Putih hanya berkibar di ujung tiang. Hidupkanlah semangat dalam keberanian membela kebenaran,” tutur Muzani.

Pidato tersebut ditutup dengan seruan “Dirgahayu Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia. Bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Sekali merdeka, tetap merdeka”.

Sebelum mengakhiri rangkaian sidang, Muzani juga menyampaikan tiga pantun yang menegaskan optimisme terhadap masa depan Indonesia, dukungan terhadap kebijakan yang berpihak kepada rakyat, serta ajakan menjaga persatuan dan tidak saling menghujat.