Ketika Galodo Merenggut Usaha: Menyalakan Kembali Harapan Perajin Tusuk Sate
Padang (ANTARA) - Ketika kami pertama kali melihat kondisi usaha perajin tusuk sate Bambu Jaya 26 pascagalodo, hampir tidak ada lagi yang tersisa. Mesin-mesin yang selama ini menjadi penopang produksi telah hanyut terbawa galodo. Tempat usaha dan rumah pemiliknya rata dengan tanah. Aktivitas produksi yang sebelumnya berjalan dan memiliki permintaan pasar pun terhenti seketika. Usaha tersebut milik Khusnun Sodiq, perajin tusuk sate di Kelurahan Lambung Bukit, Kota Padang. Bersama kelompok usahanya, Bambu Jaya 26, ia mengolah bambu menjadi tusuk sate dengan menggunakan sejumlah peralatan produksi.
Sebelum galodo, produk yang dihasilkan telah memiliki pasar dan dipasarkan hingga ke luar Sumatera Barat. Karena itu, yang hilang akibat galodo bukan hanya mesin dan tempat produksi. Ada usaha yang telah dirintis, ada pasar yang telah dibangun, dan ada sumber penghidupan yang mendadak terputus. Dari kondisi itulah kami melihat bahwa pemulihan UMKM pascabencana tidak cukup hanya berbicara tentang bagaimana mengganti aset yang hilang. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membuat pelaku usaha memiliki harapan dan kemampuan untuk memulai kembali. Langkah awal tentu harus menyentuh persoalan paling mendasar bagi kami yaitu sebuah pertanyaan bagaimana mereka dapat kembali berproduksi jika peralatannya sudah tidak ada?
Melalui Program Kemitraan Masyarakat Membantu Usaha Berkembang (PKM-MUB) Universitas Andalas tahun 2026, kami berupaya membantu memulihkan kembali sarana produksi Bambu Jaya 26. Tujuh jenis peralatan disediakan untuk mendukung rangkaian produksi, mulai dari mesin potong bambu, mesin irat, mesin serut, mesin potong lidi, mesin peruncing, mesin poles hingga oven pengering. Peralatan tersebut dibutuhkan dalam berbagai tahapan pengolahan bambu menjadi tusuk sate. Bagi kami mungkin yang terlihat adalah tujuh mesin.
Namun bagi pelaku usaha yang kehilangan hampir seluruh sarana produksinya akibat bencana, hadirnya kembali peralatan memiliki arti yang berbeda. Ada kesempatan untuk kembali bekerja. Ada kemungkinan untuk memenuhi kembali permintaan pelanggan. Dan yang terpenting, ada harapan untuk memulai kembali usaha yang sempat terhenti.
Rasa syukur dan kegembiraan itu sangat terasa ketika peralatan mulai tersedia. Apalagi, sebelum galodo, permintaan terhadap produk mereka sebenarnya sudah cukup baik. Persoalannya bukan mereka tidak memiliki pasar, tetapi bencana telah menghilangkan kemampuan mereka untuk memenuhi pasar tersebut. Namun sejak awal kami menyadari satu hal yaitu memberikan mesin saja tidak cukup, mesin harus datang bersama dengan pengetahuan. Bantuan peralatan sering menjadi bagian penting dalam pemulihan usaha pascabencana. Namun keberlanjutannya sangat bergantung pada kemampuan penerima dalam memanfaatkan bantuan tersebut.
Karena itu, pengadaan alat kami kombinasikan dengan pelatihan dan pendampingan. Mitra tidak hanya mendapatkan peralatan produksi, tetapi juga diperkuat pemahamannya mengenai penggunaan dan perawatan mesin, proses produksi, pengeringan, pengendalian kualitas, hingga penerapan prosedur kerja yang lebih teratur. Prinsipnya sederhana: alat dapat membantu sebuah usaha kembali bergerak, tetapi pengetahuanlah yang membantu usaha tersebut terus berjalan.
Hal yang sama berlaku pada pengelolaan usaha. Selama pendampingan, kami menemukan bahwa persoalan UMKM tidak selalu berada pada kemampuan membuat produk. Banyak pelaku usaha sangat terampil dalam produksi, tetapi belum mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mempelajari pengelolaan usaha secara lebih sistematis. Ada pengalaman menarik ketika pelatihan manajemen usaha dilakukan. Hal-hal yang bagi kalangan akademisi mungkin terdengar sangat mendasar seperti Harga Pokok Produksi (HPP), pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga, atau pencatatan transaksi ternyata dapat memberikan perspektif baru bagi pelaku UMKM.
Mereka mulai memahami, “Oh, ternyata menghitung HPP itu seperti ini.” Mereka juga mulai menyadari bahwa uang hasil usaha sebaiknya tidak begitu saja bercampur dengan uang untuk kebutuhan rumah tangga. Begitu pula dengan transaksi usaha. Pencatatan bukan sekadar pekerjaan administratif, tetapi membantu pemilik mengetahui kondisi usahanya. Sebelumnya, pencatatan usaha Bambu Jaya 26 masih sederhana. Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi, harga pokok, serta keuntungan usaha menjadi lebih sulit diketahui secara sistematis.
Melalui pelatihan manajemen usaha, mitra kemudian diperkenalkan dengan pencatatan transaksi berbasis akuntansi, pengelolaan biaya, perhitungan HPP, dan pemisahan keuangan usaha dari keuangan rumah tangga.Tujuannya bukan menjadikan perajin sebagai akuntan. Tujuannya adalah membuat mereka memiliki informasi yang cukup untuk mengambil keputusan atas usahanya sendiri. Ketika seorang pelaku UMKM mengetahui berapa biaya sebenarnya untuk menghasilkan satu produk, ia mempunyai dasar yang lebih baik dalam menentukan harga. Ketika transaksi dicatat, ia dapat melihat arus uang. Ketika keuangan rumah tangga dan usaha dipisahkan, ia lebih mudah mengetahui apakah usahanya benar-benar menghasilkan keuntungan.
Pemulihan produksi juga harus berjalan bersama pemulihan pasar. Bambu Jaya 26 sebenarnya telah memiliki permintaan pasar sebelum galodo. Namun ketika produksi berhenti, hubungan antara usaha dengan pasar tentu ikut terganggu. Karena itu, pelatihan pemasaran digital menjadi bagian lain dari pendampingan yang kami lakukan. Kami tidak ingin digitalisasi berhenti pada sekadar membuat akun media sosial. Mitra didampingi untuk kembali mengoptimalkan kanal daring yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan pelanggan dan memperkenalkan produk. Saat ini, mereka mulai mengoptimalkan kembali pemanfaatan kanal digital seperti WhatsApp Business dan Facebook sebagai bagian dari aktivitas pemasaran. Bagi UMKM, transformasi digital tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang canggih. Teknologi yang paling bermanfaat sering kali justru teknologi yang paling dekat, dipahami, dan benar-benar digunakan oleh pelaku usaha.
Dari pengalaman mendampingi Bambu Jaya 26, kami belajar bahwa pemulihan UMKM pascabencana seharusnya tidak hanya diarahkan untuk mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana. Bencana memang menghancurkan banyak hal. Namun proses pemulihan dapat sekaligus menjadi kesempatan untuk memperbaiki berbagai aspek usaha yang sebelumnya masih lemah. Jika mesin hilang, kita membantu menghadirkan kembali teknologi produksi. Tetapi ketika mesin itu datang, kita juga dapat memperkuat kemampuan orang yang menggunakannya. Jika sebelumnya pembukuan belum tertata, proses pemulihan dapat menjadi momentum untuk mulai membangun pencatatan usaha. Jika keuangan usaha masih bercampur dengan rumah tangga, pendampingan dapat menjadi kesempatan untuk mulai memisahkannya. Jika pemasaran digital belum optimal, pemulihan dapat menjadi titik awal untuk membangun kembali hubungan dengan pasar melalui kanal yang lebih luas. Bahkan pengalaman menghadapi galodo dapat menjadi pembelajaran untuk menata bahan baku, aset, dan peralatan dengan mempertimbangkan risiko bencana di masa mendatang. Dengan demikian, pemulihan bukan hanya mengganti apa yang hilang, tetapi membangun kembali dengan pengetahuan yang lebih baik.
Pengalaman ini juga mengingatkan kami tentang makna pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi tidak seharusnya hadir hanya pada saat menyerahkan bantuan, mengambil dokumentasi, kemudian pergi. Teknologi yang dibawa harus dapat digunakan. Pelatihan yang diberikan harus dapat dipraktikkan. Pengetahuan yang dibagikan harus dapat membantu masyarakat mengambil keputusan setelah program berakhir. Karena itulah pengadaan alat untuk Bambu Jaya 26 dibarengi dengan pelatihan teknologi produksi, manajemen usaha, pemasaran digital, pendampingan implementasi, serta monitoring dan evaluasi. Pada akhirnya, keberhasilan program semacam ini bukan hanya tentang berapa banyak mesin yang diserahkan atau berapa kali pelatihan dilaksanakan. Keberhasilannya akan terlihat ketika masyarakat kembali mampu berdiri dan menjalankan usahanya dengan kekuatan mereka sendiri. Ketika pertama kali kami datang, mesin telah hanyut dan tempat usaha rata dengan tanah. Hampir tidak ada lagi yang dapat digunakan untuk melanjutkan produksi.
Kini, yang perlahan dibangun kembali bukan hanya tempat untuk menghasilkan tusuk sate. Ada pengetahuan baru tentang bagaimana menghitung biaya usaha. Ada kesadaran untuk memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga. Ada pencatatan yang mulai dibangun. Ada kanal digital yang kembali dioptimalkan. Dan ada peralatan produksi yang memberi kesempatan kepada perajin untuk kembali menjalankan pekerjaan yang sebelumnya terhenti. Bencana memang dapat menghanyutkan mesin dan meratakan tempat usaha. Namun selama pengetahuan, semangat, dan harapan untuk bangkit masih ada, sebuah usaha selalu memiliki kesempatan untuk dimulai kembali.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas