Kemenperin Bidik Ekspor Mamin RI Tembus USD83,08 Miliar pada 2029
Lukman Nur Hakim Akurat.co
| 18 September 2026, 18:14 WIB

Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza - AKURAT.CO/Lukman Nur Hakim
AKURAT.CO Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berkomitmen untuk memperkuat struktur industri pangan melalui percepatan hilirisasi, peningkatan nilai tambah bahan baku lokal, penguatan standar mutu, serta perluasan kemitraan dan akses pasar internasional.
Langkah ini semakin penting seiring perubahan preferensi konsumen global yang menempatkan aspek kesehatan, keamanan pangan, kualitas, dan keberlanjutan sebagai pertimbangan utama.
Berdasarkan data Manufacturing Value Added (MVA) 2025 yang dirilis World Bank, nilai tambah industri manufaktur Indonesia mencapai USD275,61 miliar.
Baca Juga: Pabrik Grease Shell di Marunda Beroperasi, Kemenperin Bidik Substitusi Impor
Capaian tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia dan tertinggi di kawasan Asia Tenggara, mengungguli Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia.
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza mengatakan, capaian tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai nilai industri pangan regional maupun global.
“Industri manufaktur kita semakin solid. Ke depan, kekuatan ini harus diterjemahkan menjadi produk yang bernilai tambah, berkualitas, inovatif, dan berdaya saing di pasar global,” kata Faisol dikutip dari laman Kemenperin, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki posisi penting dalam memperkuat struktur manufaktur nasional.
Karena itu, pemerintah berkomitmen membangun ekosistem industri pangan yang mampu menjawab tuntutan konsumen sekaligus memenuhi standar pasar internasional.
Baca Juga: Kemenperin Wajibkan SNI Food Tray untuk Perbaikan Program MBG
“Kami berkomitmen memperkuat ekosistem industri pangan yang halal, sehat, inovatif, dan berkelanjutan. Penyelenggaraan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 menjadi momentum penting untuk mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan mitra internasional dalam memperkuat kolaborasi, termasuk dalam transfer teknologi dan pengetahuan,” jelasnya.