Kanurian Al Ghozi, petembak pertama yang tembus final 10m Air Rifle

Jakarta (ANTARA) - Atlet tembak Indonesia Kanurian Al Ghozi menjadi atlet menembak pertama tanah air yang berhasil menembus babak final nomor Men’s 10m Air Rifle di Asian Games.

Kepastian ini didapatkan setelah Ghozi yang mencatatkan debutnya di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya itu memastikan tiket final usai menempati peringkat keenam pada babak kualifikasi yang berlangsung di Aichi Prefectural General Shooting Gallery.

Dari 46 atlet yang bertanding, Ghozi membukukan skor 630,2 poin sekaligus mencatatkan skor terbaik sepanjang karirnya di pertandingan resmi.

“Pertandingan kali ini di luar ekspektasi saya, yang mana skor saya bisa perform di Asian Games. Sebelumnya saya belum pernah sampai 630. Lebih senangnya lagi dapat pengalaman final di Asian Games pertama,” ujar Ghozi, dikutip dari keterangan resmi NOC Indonesia, Senin.

Pencapaian Ghozi semakin berarti karena keberhasilan tersebut diraih pada penampilan perdananya di Asian Games. Ia juga menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berhasil melaju ke final dari tiga atlet yang turun pada nomor Men’s 10m Air Rifle.

Dua wakil Indonesia lainnya, Anang Febrian dan Fathur Gustafian, masing-masing menempati peringkat ke-14 dengan skor 627,4 dan posisi ke-23 dengan torehan 624,9.

Baca juga: Sepak takraw putri Indonesia paksa Thailand bekerja keras

Di babak final, Ghozi menghadapi tujuh petembak terbaik dari Asia. Berhadapan dengan sejumlah atlet yang memiliki pengalaman di Olimpiade dan World Cup, Ghozi akhirnya menyelesaikan pertandingan di peringkat kedelapan dengan perolehan 123,2 poin.

Meski belum berhasil meraih medali, keberhasilan menembus final menjadi pencapaian penting bagi Ghozi sekaligus catatan bersejarah bagi tim menembak Indonesia.

“Pelatih ngomong ini sudah bagus, karena ini di Asian Games baru saat ini final pertama dari Indonesia pada nomor 10m Air Rifle. Tidak masalah kamu belum dapat medali,” ucap Ghozi menirukan pesan pelatihnya.

Medali emas nomor Men’s 10m Air Rifle diraih atlet asal China Lihao Sheng, peraih emas Olimpiade Paris 2024, dengan catatan 254,2 poin. Himanshu Dhillon dari India meraih medali perak dengan 252,4 poin, sementara compatriot Dhillon, Rudrankksh Patil meraih medali perunggu dengan 230,9 poin.

Baca juga: Indonesia nyaris dapat medali dari 10m air rifle beregu putra

“Ini multievent terbesar yang pernah saya ikuti. Senang sih bisa masuk final, melawan juara Olimpiade dan juara World Cup. Bisa ketemu, bisa ngobrol, mereka saling support satu sama lain,” ujar petembak asal Yogyakarta tersebut.

Lebih lanjut, Ghozi mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari debutnya di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Selain pengalaman bertanding di level multicabang olahraga, Ghozi juga merasakan langsung atmosfer kompetisi yang mempertemukannya dengan para atlet papan atas dunia.

Menurutnya, atmosfer Asian Games memberikan tekanan sekaligus euforia yang berbeda dibandingkan kompetisi yang pernah ia ikuti sebelumnya.

“Suasana Asian Games beda dengan kompetisi lain. Euforianya bagus di Asian Games, kita itu deg-degannya lebih terasa, karena menembak itu melawan peserta Olimpiade dan World Cup. Dan saya pertama kali main di Asian Games langsung masuk final,” tutup dia.

Baca juga: Indonesia finis peringkat kelima triathlon, China sabet emas

Baca juga: Leica bersyukur raih perunggu, percaya terus berkembang

Pewarta: Zaro Ezza Syachniar
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.