Jurnalis Bali doa bersama harap lima pewarta hilang di Selat Sunda lekas ditemukan - ANTARA News Bali
Denpasar (ANTARA) - Jurnalis di Bali menggelar doa bersama pada hari keenam pencarian lima pewarta yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau agar seluruh korban segera ditemukan dalam keadaan selamat.
"Karena ini hari keenam, sekiranya operasi SAR tidak diperpanjang, kami semua berharap agar besok pada hari ketujuh bisa ditemukan atau ada hasil yang lebih baik dengan doa-doa yang kita panjatkan hari ini," kata Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Denpasar Dicky Bisinglasi yang sekaligus koordinator kegiatan doa bersama.
Dicky di Denpasar, Minggu, menjelaskan aksi solidaritas ini diinisiasi oleh PFI Denpasar bersama sejumlah organisasi profesi dan kewartawanan di Bali, seperti AJI Denpasar, IJTI Bali, IWO Bali, AMSI Bali, SMSI Bali, PENA NTT, hingga PWI Bali.
Ia mengungkapkan musibah yang menimpa kelima rekan jurnalis dan tiga awak kapal tersebut tidak terlepas dari tuntutan tugas jurnalis visual yang membutuhkan gambar visual langsung dari lokasi kejadian.
"Ada perbedaan yang sangat signifikan terhadap wartawan visual, baik foto maupun video dengan wartawan teks, dalam logika visual, jika beritanya erupsi Gunung Anak Krakatau, logika visualnya harus dapat minimal gunungnya atau visual erupsinya, rupanya itulah yang menjadi motivasi kelima teman kita," ujar Dicky
Ia menegaskan jurnalis yang hilang tersebut merupakan senior yang berpengalaman dalam medan konflik dan bencana, salah satunya Ari Basuki dari merdeka.com yang sudah meliput sejak konflik Aceh 2003, Tsunami 2004, hingga konflik Libya.
Namun, faktor naas yang tidak terduga menghampiri mereka.
Meski demikian, Dicky mengingatkan kembali prinsip utama keselamatan jurnalis dalam menjalankan tugas di lapangan.
"Kembali lagi kepada prinsip wartawan bahwa tidak ada berita seharga nyawa, baik jurnalis visual, teks, maupun radio, ada baiknya kita tetap mempertimbangkan keselamatan diri sendiri, tim, serta kelayakan sarana, seperti kapasitas perahu dan pelampung," tuturnya.
Ia juga mendorong perusahaan media dan lembaga profesi untuk rutin membekali personel lapangannya dengan pelatihan serta mitigasi bencana yang ketat.
Kepala Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Biro Bali Ardi Irawan menambahkan bahwa peristiwa ini harus menjadi refleksi bersama bagi seluruh pelaku dan pengelola media, sekaligus wadah menyatukan empati di tengah komentar publik yang terkadang mengabaikan proses kerja jurnalistik.
"Sedih sebenarnya mendengar kondisi di luar sana yang mempertanyakan kenapa harus mendekat atau tidak menggunakan teknologi, banyak yang hanya melihat hasilnya, tetapi prosesnya dikesampingkan, padahal yang dilakukan lima ksatria pewarta kita adalah perjuangan," kata Ardi.
Ardi mengajak seluruh jurnalis untuk menyerahkan hasil pencarian kepada tuhan setelah upaya ikhtiar di lapangan terus dilakukan.
"Ini bukan kuasa kita, kita sampaikan kepada tuhan yang paling berkuasa, kita sudah berusaha semaksimal mungkin, kini saatnya melangitkan doa-doa kita, saya percaya tuhan punya rahasia, semoga kita mendapat kabar bahagia mereka selamat dan kembali ke keluarga serta organisasinya," ucap Ardi.
Senada dengan itu, Ketua AJI Denpasar Kadek Novi Febriani juga menekankan pentingnya peristiwa ini dijadikan pembelajaran kolektif bagi para jurnalis dalam memprioritaskan mitigasi keselamatan kerja saat bertugas.
"Ini menjadi refleksi bersama bagaimana agar saat bekerja ke depan kita selalu melakukan mitigasi risiko, meskipun bencana kadang tidak bisa dihindari," ujar Novi.
Acara doa bersama tersebut berlangsung khidmat dengan dihadiri puluhan jurnalis dari lintas organisasi di Bali.
Doa bersama yang berlangsung di area Monumen Perjuangan Rakyat Bali Niti Mandala Renon dimulai sekitar pukul 18.00 Wita.
Prosesi diawali dengan doa yang dipimpin masing-masing perwakilan agama, selanjutnya mengheningkan cipta bersama mengelilingi poster dan lilin, lalu pembacaan puisi sebagai bentuk dukungan moral bagi para korban yang masih dalam pencarian.
Adapun lima pewarta yang hilang saat meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau adalah Muhammad Bagus Khoirunnas dari ANTARA Biro Banten, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro dari iNews.id, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni jurnalis lepas.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.