Imbal Hasil Obligasi Naik, Bank Berpeluang Genjot Kredit Korporasi?
ILUSTRASI. Era bunga tinggi yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi membuat daya saing kredit perbankan sebagai sumber pendanaan korporasi meningkat. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)
Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Era suku bunga tinggi yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi membuat daya saing kredit perbankan sebagai sumber pendanaan korporasi meningkat. Namun, bank tetap punya banyak pertimbangan dalam menyalurkan kredit tahun ini.
Lembaga pemeringkat efek PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat ada total Rp 87,35 triliun obligasi yang diterbitkan korporasi nasional sepanjang semester I-2026. Nominalnya turun 3,91% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto menyebut, melandainya penerbitan obligasi oleh korporasi ini salah satunya disebabkan oleh peningkatan biaya dana seiring naiknya suku bunga acuan selama kuartal II-2026.
Untuk obligasi korporasi dengan rating relatif rendah, utamanya A ataupun BBB, yield yang ditawarkan bakal cenderung lebih tinggi ketimbang bunga kredit bank. Dus, korporasi perlu menggelontorkan biaya dana lebih besar jika memutuskan menerbitkan obligasi alih-alih mengambil kredit bank.
“Sehingga mungkin memang akhirnya membuat penerbitan lebih selektif di tahun ini,” ujar Darto dalam konferensi pers daring, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: Laju Kencang Kredit Belum Kuat Dorong Saham Bank di Semester II-2026
Secara teoretis. Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi bilang, kenaikan imbal hasil obligasi dapat menciptakan momentum pergeseran pendanaan dari pasar modal ke perbankan. Namun, efektivitas fenomena ini dalam mendorong lonjakan permintaan kredit investasi dan modal kerja tak bisa dibaca secara kasat mata.
Meski korporasi beralih ke bank, kata Rahma, perbankan kini tengah menghadapi tekanan biaya dana yang membuat penerapan prinsip kehati-hatian (prudential banking) lebih ketat. Dus, perpindahan permintaan ini tak serta-merta bertransmisi menjadi penyaluran kredit baru secara masif.
Di tengah ketatnya likuiditas saat ini, perjuangan bank memperebutkan Dana Pihak Ketiga (DPK) melalui instrumen simpanan berbiaya mahal (deposito) mempersempit ruang bank dalam menurunkan suku bunga kredit secara agresif.
Bank cenderung mengarahkan ekspansi kreditnya kepada korporasi besar dengan fundamental sangat sehat, yang memiliki profil risiko rendah untuk menjaga kualitas aset dari risiko kredit macet.
Rahma melihat, kenaikan imbal hasil obligasi korporasi ini berpotensi mendorong permintaan kredit perbankan, khususnya untuk kebutuhan modal kerja jangka pendek dan bagi korporasi yang sangat membutuhkan kepastian likuiditas operasional.
Namun, untuk kredit investasi, dampaknya masih bakal tertahan oleh sikap wait and see pelaku usaha akibat tingginya beban biaya modal secara keseluruhan.
“Ekspansi kredit investasi korporasi baru akan bergerak ekspansif secara masif ketika ada sinyal kuat pelonggaran moneter dari bank sentral yang menstabilkan kembali biaya dana di pasar keuangan,” tutur Rahma kepada Kontan, Minggu (26/7/2026).
Beri Ruang Kredit Korporasi
Dari sudut pandang pelaku industri, Direktur OK Bank Efdinal Alamsyah sepakat bahwa kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi memberikan ruang bagi pertumbuhan kredit korporasi, terutama karena biaya pendanaan melalui pasar obligasi menjadi relatif lebih mahal.
“Kondisi tersebut dapat mendorong sebagian perusahaan untuk kembali memanfaatkan fasilitas kredit investasi maupun modal kerja dari perbankan,” kata Efdinal saat dihubungi, Jumat (24/7/2026).
Baca Juga: Saham BMRI Melemah Pasca Paparan Kinerja Semester I-2026, Simak Rekomendasi Analis
Meski begitu, ia melihat dampaknya tak bakal terlalu besar. Pasalnya, keputusan pendanaan korporasi umumnya juga mempertimbangkan prospek bisnis, kebutuhan likuiditas, fleksibilitas tenor, serta strategi struktur permodalan, bukan semata-mata perbedaan biaya dana.
Hingga akhir tahun, Efdinal melihat, prospek kredit korporasi masih positif jika aktivitas investasi terus membaik dan stabilitas ekonomi tetap terjaga. Di luar itu, permintaan kredit bakal dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga acuan serta kondisi likuiditas perbankan.
Secara umum, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan bilang sebenarnya segmen korporasi memang paling prospektif dalam hal pertumbuhan kredit ke depannya.
Namun, menurutnya minat investasi, yang memengaruhi permintaan kredit nasabah di segmen ini, tetap bergantung pada prospek ekonomi ke depan. “Tergantung perbaikan daya beli masyarakat dan stabilitas peraturan,” sebut Lani.
Baca Juga: Kredit UMKM Baru Tumbuh 1% hingga Juni 2026, OJK Optimistis Membaik Semester II
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag