IHSG Ditutup Melemah, Lonjakan Harga Minyak Picu Investor Berhati-hati

IHSG ditutup turun 19,17 poin atau 0,30% ke level 6.315,31. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar terkoreksi 5,43 poin atau 0,86% menjadi 627,12.

Baca Juga: IHSG Sesi I Naik 1,51 Persen ke 6.430,15, Seluruh Indeks Sektoral Menghijau

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim mengatakan, kenaikan harga minyak dunia membuat investor mulai mengubah strategi perdagangan menjadi lebih defensif.

"Berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah pada level tertinggi selama enam pekan terakhir membuat para pelaku pasar cenderung mulai berhati-hati dan melakukan trading jangka pendek," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Dirinya menjelaskan, pada awal perdagangan IHSG sempat bergerak menguat dan mencapai level tertinggi intraday. Penguatan tersebut terutama ditopang oleh saham-saham komoditas, khususnya sektor energi dan emas yang diuntungkan oleh kenaikan harga minyak mentah serta emas di pasar global.

Namun memasuki sesi kedua, sentimen positif mulai memudar. Investor kembali memilih melakukan aksi jual setelah harga minyak terus meningkat akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat bertahan di atas USD89 per barel, sedangkan minyak Brent diperdagangkan di atas USD97 per barel.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi tekanan inflasi global dan dampaknya terhadap prospek pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: IHSG Bisa Lanjutkan Reli ke 6.400 Usai BI Rate Ditahan

Untuk perdagangan Jumat (24/7/2026), Ratna memperkirakan IHSG masih akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah karena investor berpotensi melakukan aksi ambil untung menjelang akhir pekan.

"Diperkirakan jika IHSG breakdown dari level MA5 di sekitar 6.279, maka berpotensi menguji level support berikutnya di kisaran 6.200 hingga 6.250," kata Ratna.

Secara sektoral, pergerakan pasar menunjukkan adanya rotasi ke saham-saham yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas. Sektor properti memimpin penguatan dengan kenaikan 3,20%, disusul sektor energi sebesar 1,59% dan sektor barang konsumen primer sebesar 1,54%.

Di sisi lain, tekanan jual terjadi pada sektor barang konsumen nonprimer yang turun 1,08%. Sektor keuangan dan industri juga masing-masing melemah 1,00% dan 0,94% sehingga membebani laju IHSG hingga ditutup di zona merah.

Pada perdagangan hari ini, saham FUTR, MPRO, ENAK, ZATA, dan ALKA menjadi emiten dengan kenaikan terbesar. Sebaliknya, saham SWID, HOPE, LUCK, WMUU, dan FORU mencatat pelemahan terdalam.

Aktivitas perdagangan di BEI berlangsung cukup ramai. Frekuensi transaksi mencapai sekitar 3,15 juta kali dengan volume perdagangan sebanyak 59,77 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp23,88 triliun. Sebanyak 343 saham menguat, 309 saham melemah, sementara 313 saham lainnya ditutup stagnan.

Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham bergerak menguat. Indeks Nikkei naik 0,39%, Shanghai Composite menguat 0,25%, Hang Seng bertambah 1,28%, dan Kospi melonjak 4,40%. Sementara itu, indeks Strait Times Singapura menjadi satu-satunya yang ditutup melemah 0,32%.