Ibu Kota Nuklir Muslim Lockdown: Jalan Diblokir-22.000 Aparat Patroli
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas keamanan di ibu kota Pakistan mengambil langkah drastis dengan memblokir rute akses utama ke dalam kota menggunakan tumpukan ganda kontainer kargo pada hari Kamis. Langkah pembatasan berskala besar ini dilakukan menjelang demonstrasi akhir pekan yang digagas oleh para pendukung mantan perdana menteri yang kini dipenjara, Imran Khan.
Mengutip Manila Times, Jumat (25/9/2026), sejumlah pejabat mengatakan kepada Agence France-Presse (AFP) bahwa kepolisian telah mengerahkan 22.000 personel keamanan untuk mengunci wilayah Islamabad. Pihak berwenang juga melarang akses masuk dan keluar ke provinsi tetangga, Khyber Pakhtunkhwa, yang saat ini dikuasai oleh partai pimpinan Khan.
Sejumlah jalan raya utama, titik masuk, dan persimpangan besar tampak diblokir sehingga benar-benar memutus jaringan transportasi dan membuat pergerakan masyarakat lumpuh total. Mobil-mobil terlihat terjebak dalam kemacetan lalu lintas, sementara para pengendara sepeda motor harus bersusah payah menyelip di antara celah kontainer.
Pilihan Redaksi
- Dua Negara Muslim Ini Perang Lagi, Drone Bombardir Kota Penting
- Raja Salman Murka, Houthi Disebut Milisi Teroris-Makkah Diincar
- "NATO Islam" Siaga, Arab Saudi Cs Siapkan Amunisi Hadapi Houthi Yaman
Tindakan keras pencegahan oleh pemerintah menjelang protes yang direncanakan pada hari Minggu ini telah diintensifkan sejak awal pekan. Tiga saudara perempuan Khan, yakni Aleema Khan, Uzma Khan, dan Noreen Niazi, ditahan di bawah ordonansi Pemeliharaan Ketertiban Umum (MPO) Punjab.
Perintah penahanan pencegahan selama 30 hari tersebut menuduh mereka memobilisasi pendukung melalui media sosial dan menghasut terhadap institusi negara.
Selain itu, puluhan anggota parlemen, pemimpin regional, dan aktivis oposisi yang berafiliasi dengan partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) milik Imran Khan juga turut ditangkap di berbagai distrik di provinsi Punjab dan Islamabad.
Langkah represif ini langsung memicu reaksi dari pengawas hak asasi manusia internasional, yang berulang kali menyatakan kekhawatiran atas meningkatnya penyensoran pers, penangkapan massal, dan pembatasan kebebasan mendasar di Pakistan di tengah kebuntuan politik. Perwakilan Amnesty International Babu Ram Pant menyoroti pelanggaran ini secara langsung.
"Penargetan keluarga Imran Khan dan aktivis partai PTI merupakan pelanggaran mencolok terhadap hak-hak mereka atas kebebasan, kebebasan berekspresi, berserikat, dan berkumpul secara damai," ungkapnya.
"Tindakan tersebut menunjukkan betapa parahnya pembatasan saat ini di Pakistan."
Sebagai informasi, mantan bintang kriket berusia 73 tahun tersebut telah mendekam di balik jeruji besi sejak Agustus 2023. Ia menghadapi puluhan tuduhan yang berkisar dari korupsi hingga pengkhianatan dan hasutan kekerasan menyusul kerusuhan anti-pemerintah yang meluas pada Mei 2023. Khan beserta tim hukumnya secara tegas menolak semua tuduhan itu dan menyebutnya sebagai kasus bermotif politik yang bertujuan untuk menetralisir popularitasnya.
Pawai ke ibu kota ini sejatinya merupakan gebrakan jalanan besar pertama PTI dalam beberapa bulan terakhir untuk mendesak pembebasan Khan. Meski situasi di lapangan menunjukkan sebaliknya, Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar membantah bahwa kota tersebut sedang dikunci dalam sebuah konferensi pers di Khyber Pakhtunkhwa.
"Mereka tidak harus datang ke Islamabad," tegasnya. "Tidak ada seorang pun yang akan diizinkan untuk menutup kota."
Di sisi lain, sebuah demonstrasi paralel yang awalnya direncanakan oleh partai sayap kanan Jamaat-e-Islami dan para pemimpin serikat petani mengenai melonjaknya inflasi dan retribusi minyak bumi dilaporkan telah ditangguhkan. Penangguhan ini diputuskan setelah mereka melakukan komunikasi telepon dengan pemerintahan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, yang pada akhirnya membiarkan partai Khan harus berbaris sendirian dalam protes akhir pekan ini.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]