HUT JAKARTA 499, Kerak Telur Tetap Menjadi Sejarah Kulineran | Retizen
angelina Octaviani
Sejarah | 2026-08-07 01:03:09
Jakarta --- Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair Kemayoran kembali menjadi salah satu rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 DKI Jakarta. Acara yang berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran ini menghadirkan perpaduan antara pameran produk, hiburan musik, kuliner, promosi UMKM, hingga pertunjukan budaya yang menarik ribuan pengunjung setiap harinya. Sejak pagi, kawasan JIExpo mulai dipadati masyarakat dari berbagai daerah. Pengunjung datang bersama keluarga, teman, maupun pasangan untuk menikmati berbagai wahana permainan, berburu produk dengan harga promosi, serta mencicipi berbagai kuliner khas Nusantara.
PRJ tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga menjadi ajang promosi bagi pelaku usaha. Ratusan perusahaan nasional, UMKM, hingga industri kreatif memasarkan produk unggulan mereka. Mulai dari otomotif, elektronik, fesyen, makanan dan minuman, hingga produk kerajinan lokal dapat ditemukan di berbagai area pameran. Selain pameran produk, panggung hiburan menjadi salah satu daya tarik utama. Setiap malam, pengunjung disuguhi konser musik dari sejumlah musisi Indonesia yang membuat
suasana semakin meriah. Berbagai pertunjukan budaya Betawi juga turut ditampilkan sebagai bentuk pelestarian budaya lokal sekaligus memperkenalkan identitas Jakarta kepada masyarakat. Menurut panitia penyelenggara, Jakarta Fair bukan hanya menjadi hiburan tahunan, tetapi juga menjadi penggerak roda perekonomian. Kehadiran ribuan pengunjung setiap hari memberikan dampak positif terhadap peningkatan penjualan pelaku usaha dan membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar. Salah satu pengunjung, Nabila (22), mengaku sengaja datang ke PRJ bersama teman-temannya untuk menikmati suasana sekaligus berburu berbagai produk diskon. "Saya hampir setiap tahun datang ke PRJ.
Selain banyak hiburan, banyak juga promo yang menarik. Suasananya ramai dan cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman."
Sementara itu, Bapak Andi, salah seorang pelaku UMKM yang menjual makanan tradisional seperti kerak telur, mengatakan penjualan selama mengikuti PRJ mengalami peningkatan dibandingkan hari biasa.
"Selama mengikuti PRJ, penjualan cukup meningkat. Pengunjungnya ramai dari siang sampai malam. Acara seperti ini sangat membantu pelaku usaha kecil untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat yang lebih luas.
" Di sisi lain, seorang petugas keamanan, Rizky, menjelaskan bahwa pengamanan dilakukan secara menyeluruh agar seluruh pengunjung merasa aman dan nyaman. "Kami melakukan pengamanan di setiap pintu masuk dan area pameran. Pengunjung juga diimbau menjaga barang bawaan serta mengikuti aturan yang berlaku selama berada di lokasi.
" Pekan Raya Jakarta kembali membuktikan perannya sebagai salah satu agenda tahunan terbesar di ibu kota. Selain menjadi sarana hiburan masyarakat, PRJ juga memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha, UMKM, dan sektor pariwisata. Melalui kegiatan ini, semangat perayaan ulang tahun Jakarta tidak hanya dirasakan melalui hiburan, tetapi juga melalui tumbuhnya aktivitas ekonomi, promosi budaya, dan kebersamaan masyarakat.
Sejarah kerak telor diperkirakan telah dimulai sejak masa kolonial Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Makanan ini dipercaya lahir dari kreativitas masyarakat Betawi dalam memanfaatkan bahan pangan yang mudah diperoleh di sekitar lingkungan mereka, seperti beras ketan putih, telur bebek, kelapa parut sangrai, ebi, serta berbagai bumbu tradisional. Kombinasi bahan-bahan tersebut menghasilkan cita rasa gurih dengan aroma khas yang membedakan kerak telor dari makanan tradisional lainnya.
Kerak telor merupakan salah satu makanan tradisional yang paling identik dengan budaya Betawi. Kuliner ini tidak hanya dikenal sebagai jajanan khas Jakarta, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya masyarakat Betawi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Hingga saat ini, kerak telor masih mudah dijumpai pada berbagai acara kebudayaan, festival kuliner, maupun perhelatan besar seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ), sehingga keberadaannya tetap menjadi bagian penting dari identitas ibu kota. Nama "kerak telor" berasal dari proses pembuatannya yang unik.
Adonan beras ketan dan telur dimasak menggunakan wajan kecil di atas bara arang, kemudian wajan dibalik menghadap bara api tanpa membuat isi masakan jatuh. Teknik memasak ini menghasilkan lapisan kerak berwarna kecoklatan pada bagian bawah makanan sehingga muncullah sebutan "kerak telor".
Hingga kini, cara memasak tradisional tersebut masih dipertahankan oleh sebagian besar pedagang karena dianggap mampu menghasilkan cita rasa yang autentik. Pada masa lalu, kerak telur termasuk makanan yang cukup populer di kalangan masyarakat Betawi maupun kaum bangsawan Belanda yang tinggal di Batavia.
Seiring berkembangnya kota Jakarta dan masuknya berbagai jenis makanan modern, popularitas kerak telor sempat mengalami penurunan. Banyak pedagang beralih menjual makanan lain yang dianggap lebih praktis, sementara generasi muda mulai lebih mengenal makanan cepat saji dibandingkan kuliner tradisional. Meskipun demikian, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah daerah maupun masyarakat Betawi. Salah satunya melalui penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta, Festival Budaya Betawi, serta berbagai kegiatan promosi pariwisata yang selalu menghadirkan kerak telor sebagai salah satu ikon kuliner daerah.
Kehadiran makanan ini dalam berbagai acara tersebut menjadi bentuk nyata pelestarian warisan budaya sekaligus memperkenalkan kuliner tradisional kepada generasi muda maupun wisatawan. Dalam kajian komunikasi budaya, kerak telor dapat dipandang sebagai media pelestarian identitas budaya lokal. Keberadaannya bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol yang merepresentasikan sejarah, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Betawi.
Promosi melalui media sosial, festival kuliner, hingga berbagai pemberitaan di media massa turut membantu membangun citra kerak telor sebagai salah satu kuliner khas Jakarta yang memiliki nilai sejarah tinggi. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kerak telor merupakan makanan tradisional khas Betawi yang telah ada sejak masa kolonial dan lahir dari kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bahan pangan lokal. Keunikan proses memasak, cita rasa khas, serta nilai budaya yang melekat menjadikan kerak telor tidak hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya Jakarta yang terus dilestarikan hingga saat ini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.