Hujan Turun di Sangatta Setelah Sholat Istisqa, Warga Sambut dengan Syukur |Republika Online

Umat Islam berdoa usai melaksanakan Sholat Istisqa di pelataran Masjid Raya Mujahidin, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (29/8/2026). Sholat sunah Istisqa tersebut digelar untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan sehingga kemarau panjang serta kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat segera berakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, SANGATTA -- Sebagian wilayah Sangatta, ibu kota Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, akhirnya diguyur hujan pada Rabu (9/9/2026). Hujan terjadi tidak lama setelah pemda setempat bersama masyarakat melaksanakan Sholat Istisqa di Lapangan Kantor Bupati Kutim.

"Kami imbau masyarakat tidak mudah terpengaruh pandangan yang meragukan efektivitas doa bersama. Jangan sampai baru dua kali sudah dibilang doa tidak terkabul. Insya Allah doa kita terkabul," ujar Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, setelah Sholat Istisqa.

Sementara itu, hujan dengan intensitas lebat turun di kawasan Jalan Yos Sudarso, Jalan Dayung, serta Kelurahan Teluk Lingga. Namun, curah hujan belum merata ke seluruh wilayah. Kawasan APT Pranoto hanya disiram rintik halus, sementara kawasan Bukit Pelangi belum menerima hujan sama sekali.

Turunnya hujan disambut warga dengan rasa syukur di tengah kekhawatiran akibat kemarau panjang dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah lokasi di Kutim. Jalanan beraspal maupun semen yang berdebu perlahan basah, sementara tanah yang kering kembali menerima air.

Sholat Istisqa yang diprakarsai Kementerian Agama Kabupaten Kutim ini diikuti jajaran Forkopimda, perangkat daerah, ratusan pelajar, tokoh agama, alim ulama, serta tokoh masyarakat sebagai ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan.

Mahyunadi menyampaikan tradisi Sholat Istisqa di masa lalu dilakukan berulang kali, bukan cukup satu kali. Sehingga, jika belum turun hujan secara merata dalam waktu dekat, pihaknya akan kembali melaksanakan Sholat Istisqa.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melonggarkan kewaspadaan terhadap risiko karhutla. Hujan yang turun belum merata di seluruh wilayah, sehingga potensi kebakaran masih mengintai di kawasan yang belum diguyur.

"Pengalaman kemarau panjang tahun 1997 dan 2015 menjadi pengingat bahwa musim kering dapat berlangsung hingga Desember. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian risiko kebakaran tetap diperlukan secara berkelanjutan," ujar dia.

sumber : Antara