Harga Pangan Naik, Kemenkeu Pastikan Standar Gizi Menu MBG Tetap Terjaga - Nasional Katadata.co.id
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menilai kenaikan harga pangan tidak akan memengaruhi kualitas dan kandungan gizi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Juda menuturkan, inflasi berada di kisaran 2,5% atau masih berada di kisaran perhitungan pemerintah. Atas dasar itu, ia menjamin kenaikan harga pangan tidak berpengaruh pada kualitas menu program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
“Dampak dari inflasi Kepada MBG saya kira kalau inflasinya masih 2,5% plus-minus 1% Itu masih dalam range kita, ga akan mempengaruhi Kualitas dari gizinya. Saya kira ruang 2,5 persen itu Tidak akan mempengaruhi kualitas makanan dan kualitas gizinya,” kata Juda dalam acara Media Gathering Kemenkeu 2026, di Hotel Rancamaya Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10).
Di sisi lain, ia memastikan pemerintah akan mengontrol harga pangan, lantaran dampaknya yang saling terikat dengan kebutuhan masyarakat.
“Inflasi ini penting untuk dijaga, ya terutama yang terkait dengan Inflasi pangan ini yang mengena langsung kepada masyarakat-masyarakat menengah ke bawah, ini memang benar-benar harus dikendalikan,” kata Juda.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar 3,28% pada September . Kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu sumber tekanan terbesar terhadap inflasi, dengan laju kenaikan harga mencapai 4,37%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menuturkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan September 2026, yakni sebesar 1,28%.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,37% dan memberikan andil inflasi sebesar 1,28%,” kata Ateng dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (1/10).
Sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang utama inflasi pada kelompok tersebut. Komoditas dengan andil terbesar antara lain ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, serta daging sapi.
Selain pangan, kelompok transportasi juga menjadi sumber tekanan inflasi tahunan. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,84% dan memberikan andil sebesar 0,58%.
Inflasi transportasi terutama didorong oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, biaya pemeliharaan atau servis, serta mobil.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi sebesar 7,77%. Kelompok ini memberikan andil sebesar 0,53% terhadap inflasi tahunan, terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan.
Jika diklasifikasikan berdasarkan komponennya, seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan. Komponen inti mencatat inflasi sebesar 2,84% dengan andil 1,82%.
Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop atau notebook, serta pelumas atau oli mesin.
Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 3,25% dengan andil 0,63%. Komoditas yang dominan memberikan andil antara lain bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan bahan bakar rumah tangga.
Adapun komponen harga bergejolak mengalami inflasi tahunan sebesar 5,03% dengan andil sebesar 0,83%. Komoditas yang dominan memberikan andil berasal dari daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi.
Secara keseluruhan, inflasi September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka tersebut menunjukkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026.
BPS juga mencatat inflasi bulanan pada September 2026 sebesar 0,30%. Inflasi bulanan tersebut terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil sebesar 0,26%.
Ateng juga menjelaskan kenaikan sejumlah harga pangan pada September dipengaruhi kondisi produksi komoditas hortikultura.
Produksi cabai rawit menurun di sejumlah daerah sentra seperti Garut, Temanggung, Bandung, Sampang, dan Magelang.
Produksi cabai merah juga mengalami penurunan, terutama di Bandung, Garut, dan Malang. Sementara produksi bawang merah meningkat di Bima, Probolinggo, dan Malang.
BPS turut menyoroti risiko perkembangan harga pangan ke depan. Ateng mengatakan BMKG telah merilis prediksi El Nino pada 2026 yang berpotensi bertahan hingga awal 2027.
“Hal ini perlu menjadi perhatian terkait dampaknya terhadap perubahan harga terutama pada komoditas pangan,” kata Ateng.