Harapan Hanung Bramantyo soal Film Kartini

Jakarta -

Sutradara film Kartini, Hanung Bramantyo, memberikan harapan soal filmnya. Suami Zaskia Adya Mecca itu mengungkapkan versi film Kartini yang diputar di rangkaian pameran TATAH adalah versi berbeda dengan yang tayang di bioskop.

Menurut Hanung, penyuntingan ulang dilakukan agar film lebih dekat dengan nilai historis dan menghadirkan pesan yang lebih autentik mengenai sosok Kartini.

Ia menilai perjuangan Kartini, tidak hanya berbicara mengenai emansipasi perempuan, tetapi juga melahirkan dampak nyata terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang menarik dari Kartini adalah perjuangannya bukan hanya melahirkan kesetaraan, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi bagi perempuan dan masyarakat di sekitarnya," kata Hanung Bramantyo saat ditemui di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, akhir pekan kemarin.

Hanung menambahkan, melalui surat-surat Kartini, terlihat bagaimana tokoh asal Jepara tersebut mendorong perempuan untuk berkarya dan mengembangkan keterampilan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Menurutnya, aspek inilah yang relevan dengan tantangan pemberdayaan perempuan saat ini.

Ia menambahkan, film memiliki fungsi utama sebagai pemantik rasa ingin tahu, bukan sebagai sumber pengetahuan yang lengkap.

"Film memberi rangsangan kepada penonton untuk kemudian mencari literatur, membaca buku, atau mempelajari sejarah lebih dalam. Karena itu, film, pameran, perpustakaan, dan ruang budaya seharusnya saling terintegrasi," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Jepara memanfaatkan pemutaran dan diskusi film Kartini versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai ruang memperkenalkan kembali pemikiran R.A. Kartini kepada generasi muda, sekaligus memperkuat identitas Jepara sebagai bumi kelahiran tokoh emansipasi perempuan Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar. Menurut Ibnu Hajar, Kartini tidak cukup dikenang sebagai nama jalan, museum, ataupun peringatan tahunan. Lebih dari itu, Kartini merupakan simbol keberanian berpikir, semangat belajar, serta inspirasi untuk membuka ruang kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat.

"Bagi masyarakat Jepara, Kartini adalah semangat untuk terus hidup, terus belajar, berpikir merdeka, dan membuka kesempatan bagi semua," ujarnya.

Ia menilai pemutaran film menjadi medium penting untuk mendekatkan nilai-nilai perjuangan Kartini kepada generasi masa kini melalui bahasa visual yang lebih mudah dipahami.

Menurutnya, film bukan sekadar menceritakan perjalanan hidup seorang tokoh, tetapi juga mengajak publik memahami gagasan Kartini bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian berpikir, bertanya, dan membayangkan masa depan yang lebih baik.

Ibnu Hajar mengatakan semangat tersebut hingga kini masih menjadi fondasi pembangunan di Jepara, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan kreativitas masyarakat hingga pelestarian warisan budaya yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Ia juga mengajak masyarakat dari berbagai daerah untuk mengunjungi Jepara dan menyaksikan langsung berbagai jejak sejarah kehidupan R.A. Kartini, mulai dari tempat kelahiran hingga lokasi yang menjadi saksi lahirnya surat-surat Kartini yang kemudian dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

(wes/mau)