Gegara Panas Ekstrem, Kentang di Korea Sampai 'Mateng' di Tanah!
Jakarta -
Gelombang panas ekstrem yang melanda Korea Selatan bikin nasib petani di sana babak belur. Kentang di ladang malah ditemukan sudah lembek dan hancur jadi bubur, padahal masih tertanam di dalam tanah.
Dikutip dari Must Share News (17/8), kejadian aneh ini pertama kali terungkap lewat media lokal Korea Selatan awal bulan ini. Seorang petani di Provinsi Gangwon bernama Lee Sang-hyuk mengaku kaget saat menggali ladang kentangnya dan mendapati hasil panennya sudah berubah tekstur jadi lembek layaknya bubur.
Padahal, seminggu sebelumnya tanaman kentang tersebut masih terlihat sehat dan tumbuh normal seperti biasa. Selama 40 tahun jadi petani, Lee mengaku belum pernah menyaksikan kejadian semacam ini sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kubis Ikut Membusuk, Ternak dan Ikan Banyak yang Mati
Foto: Must Share News
Bukan cuma kentang, suhu panas ekstrem ini juga merusak berbagai ladang dan tanaman lain milik petani Korea Selatan. Salah satu yang paling memilukan buat Lee adalah hilangnya tanaman kubis miliknya, yang sebenarnya bisa bernilai puluhan juta won atau setidaknya S$9.100 (Rp127 juta) kalau berhasil dijual dengan harga normal.
Dampaknya pun tak cuma menimpa tanaman. Hewan ternak dan ikan budi daya turut jadi korban gelombang panas ini. Menurut The Korea Times, lebih dari 900.000 ekor hewan ternak dilaporkan mati dalam sepekan terakhir. Sementara itu, sekitar 864.000 ekor ikan budi daya juga mati akibat suhu air yang ikut melonjak.
Yang lebih memprihatinkan, masa simpan bahan pangan pun jadi lebih singkat dari biasanya. Bahkan beberapa produk pangan disebut tak sanggup bertahan cukup lama untuk bisa sampai ke pasar.
Harga Sayur Meroket, Bayam Naik 150 Persen
Foto: Must Share News
Kerusakan panen besar-besaran ini otomatis bikin harga bahan pangan di Korea Selatan melonjak tajam, khususnya harga sayuran. Harga bayam misalnya, dilaporkan naik lebih dari 150%. Sementara harga selada ikut terkerek naik hingga 41,7%.
Gelombang Panas Juga Renggut Nyawa
Dampak cuaca ekstrem ini ternyata tak berhenti di soal pangan saja. Mengutip DW, setidaknya 16 orang di Korea Selatan dilaporkan meninggal dunia akibat gelombang panas, sementara 2.025 orang lainnya menderita penyakit terkait suhu panas dalam rentang 15 Mei hingga 2 Agustus.
Cuaca ekstrem ini bahkan memaksa otoritas setempat mengeluarkan peringatan gelombang panas pertama kalinya untuk sebagian wilayah Seoul pada 3 Agustus lalu.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, pun menyerukan "perombakan mendasar" terhadap sistem penanganan krisis nasional. Ia menyebut cuaca ekstrem semacam ini kini sudah jadi hal yang lumrah terjadi.
(adr/adr)