◐

Eropa Bergejolak, Ratusan Ribu Warga Turun ke Jalan, Ada Apa? |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gelombang demonstrasi melanda sejumlah negara Eropa ketika kenaikan biaya hidup, mahalnya harga perumahan, dan ketidakpuasan terhadap layanan publik memicu kemarahan masyarakat. Ratusan ribu orang turun ke jalan dalam aksi terpisah di Prancis, Italia, Belgia, dan Portugal pada Sabtu (17/10/2026), memperlihatkan besarnya tekanan ekonomi yang kini dihadapi pemerintah-pemerintah di kawasan tersebut.

Prancis menjadi pusat demonstrasi terbesar dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai ratusan ribu orang. Sebagian besar aksi berlangsung damai, tetapi kerusuhan pecah di sejumlah kota setelah kelompok demonstran bentrok dengan polisi, merusak bangunan, dan melakukan penjarahan.

Di Italia, demonstrasi menentang perang dan kenaikan biaya hidup berubah menjadi kerusuhan di pusat Kota Milan. Sementara itu, polisi Belgia menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstran di Brussels, sedangkan puluhan ribu warga Portugal berunjuk rasa menuntut kenaikan upah dan perumahan yang lebih terjangkau.

Gelombang protes tersebut terjadi ketika inflasi di kawasan euro kembali meningkat. Data terbaru Eurostat yang diterbitkan pada Jumat (16/10/2026) menunjukkan inflasi tahunan kawasan euro mencapai 3,8 persen pada September, naik dari 3,2 persen pada Agustus dan 2,2 persen pada September tahun sebelumnya.

Kenaikan harga energi menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi kawasan euro. Kondisi ini memperberat pengeluaran rumah tangga, terutama bagi masyarakat yang harus mengalokasikan sebagian besar penghasilannya untuk kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan, dan tempat tinggal.

Al Jazeera melaporkan bahwa demonstrasi di empat negara tersebut berlangsung secara terpisah dan tidak berada di bawah satu koordinasi gerakan. Namun, terdapat kesamaan tuntutan mengenai biaya hidup, kualitas layanan publik, dan ketidakpastian ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Prancis Jadi Pusat Gelombang Demonstrasi

Prancis mengalami salah satu hari demonstrasi paling bergejolak dalam beberapa dekade terakhir. Associated Press melaporkan sekitar 550 ribu hingga 800 ribu orang mengikuti aksi di sekitar 110 lokasi, berdasarkan perbedaan perkiraan pemerintah dan serikat pekerja.

Demonstrasi berlangsung di Paris, Lyon, Marseille, Bordeaux, Limoges, dan sejumlah kota lainnya. Pesertanya terdiri atas pelajar, mahasiswa, anggota serikat pekerja, serta masyarakat yang menuntut perbaikan daya beli dan peningkatan kualitas layanan publik.

Aksi tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketidakpuasan terhadap kondisi pendidikan dan persoalan ekonomi. Keluhan mengenai kekurangan guru, keterbatasan fasilitas sekolah, dan pembiayaan pendidikan berkembang menjadi tuntutan lebih luas mengenai keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.

Di Paris, demonstrasi berubah menjadi bentrokan ketika sebagian peserta melemparkan benda ke arah aparat keamanan. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok yang melakukan kekerasan, sementara sejumlah kendaraan dan pertokoan mengalami kerusakan.

Kerusuhan juga dilaporkan terjadi di beberapa kota lain. Associated Press mencatat adanya pembakaran, penjarahan, dan serangan terhadap fasilitas publik, meskipun sebagian besar demonstrasi di seluruh Prancis berlangsung tanpa kekerasan.

Pihak berwenang melaporkan sekitar 400 penangkapan dalam pembaruan yang dikutip Associated Press. Angka tersebut merupakan jumlah yang dilaporkan pada tahap pemberitaan itu, bukan angka akhir keseluruhan penangkapan.

Pemerintah Prancis mengecam tindakan perusakan dan menegaskan bahwa demonstrasi damai tidak boleh dijadikan alasan untuk menyerang fasilitas publik. Aparat keamanan juga menghadapi sorotan setelah seorang demonstran muda di Saint-Étienne mengalami cedera tangan yang diduga berkaitan dengan penggunaan perlengkapan pengendalian massa.

Peristiwa tersebut kembali mengingatkan masyarakat kepada gerakan rompi kuning atau gilets jaunes yang mengguncang Prancis sejak 2018. Gerakan itu bermula dari penolakan terhadap kenaikan pajak bahan bakar sebelum berkembang menjadi protes mengenai daya beli, ketimpangan ekonomi, dan kebijakan pemerintah.

Meski terdapat kemiripan persoalan, demonstrasi Oktober 2026 tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan gerakan rompi kuning. Aksi terbaru melibatkan kelompok pelajar dan serikat pekerja dengan tuntutan yang juga menekankan persoalan pendidikan serta layanan publik.

Italia Bergejolak, Milan Dilanda Kerusuhan

Kerusuhan juga terjadi di pusat Kota Milan, Italia, ketika demonstrasi yang semula berlangsung damai berubah menjadi bentrokan antara kelompok demonstran bertopeng dan aparat keamanan. Aksi tersebut diselenggarakan untuk menyuarakan penolakan terhadap perang dan meningkatnya biaya hidup.

Associated Press melaporkan sejumlah perusuh melemparkan batu dan benda keras lainnya ke arah polisi. Mereka juga membakar barikade yang dibuat menggunakan meja restoran serta melakukan penjarahan terhadap pertokoan.

Situasi memburuk di kawasan Piazza del Duomo, salah satu pusat wisata dan perdagangan paling terkenal di Milan. Aparat keamanan mengosongkan kawasan tersebut dan pusat perbelanjaan di sekitarnya untuk mencegah meluasnya kerusuhan.

Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk mengendalikan massa. Sedikitnya dua anggota polisi mengalami luka, sementara sekitar 50 demonstran, termasuk sejumlah anak di bawah umur, ditahan berdasarkan laporan media Italia yang dikutip Associated Press.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam tindakan kekerasan tersebut. Ia menegaskan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan penyerangan, penjarahan, atau perusakan.

Wali Kota Milan Giuseppe Sala juga mengecam kerusuhan, meskipun mengakui bahwa persoalan yang melatarbelakangi demonstrasi layak mendapat perhatian. Menurutnya, tuntutan masyarakat tidak membenarkan tindakan kekerasan yang merugikan keselamatan publik.

Aksi serupa berlangsung di Bologna, tempat demonstran bentrok dengan polisi. Al Jazeera melaporkan adanya pelemparan batu dan bentrokan dalam demonstrasi yang berlangsung bersamaan dengan aksi di Milan.

Kerusuhan tersebut menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup menjadi salah satu persoalan yang mengemuka dalam demonstrasi di Italia. Namun, aksi di negara itu juga berkaitan dengan penolakan terhadap perang sehingga tidak seluruh pesertanya dapat dianggap memiliki tuntutan ekonomi yang sama.