Ekskavator dikerahkan gali embung untuk penanganan karhutla di Kotim

Ekskavator dikerahkan gali embung untuk penanganan karhutla di Kotim

Selasa, 1 September 2026 04:34 WIB

Image Print

Pengerahan alat berat dari Dinas SDABMBKPRKP Kotim untuk penggalian embung di Jalan Ir Soekarno, Kamis (27/8/2026). ANTARA/HO-Dinas SDABMBKPRKP Kotim

Sampit (ANTARA) - Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengerahkan alat berat untuk menggali embung di sejumlah titik sebagai upaya memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Dinas SDABMBKPRKP siap mendukung pelaksanaan penanganan karhutla di Kotim, salah satunya dengan penggalian embung,” kata Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama di Sampit, Senin.

Mentana menjelaskan, dukungan tersebut dilakukan dengan melihat kebutuhan di lapangan, terutama pada kawasan yang memerlukan tambahan sumber air untuk membantu petugas dalam menangani kebakaran maupun melakukan pembasahan lahan.

Penggalian embung dan parit menjadi salah satu langkah yang ditempuh untuk menambah sekaligus menjaga ketersediaan air di sekitar kawasan rawan karhutla.

Dengan adanya sumber air yang lebih dekat dengan lokasi kejadian, petugas diharapkan dapat lebih mudah memperoleh pasokan air untuk proses pemadaman dan pembasahan lahan yang berpotensi kembali terbakar.

Pengerjaan tersebut juga merupakan bagian dari sinergi di lingkungan Pemkab Kotim dalam memperkuat penanganan karhutla yang saat ini membutuhkan dukungan lintas perangkat daerah.

“Selain membantu proses pemadaman, keberadaan embung dan saluran air juga diharapkan dapat membantu mengurangi dampak kebakaran terhadap lingkungan serta masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan,” pungkasnya.

Baca juga: DPRD Kotim telusuri isu pencatutan nama Komisi III untuk permintaan dana di sekolah

Sementara itu, Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan, Drainase dan Pertamanan Dinas SDABMBKPRKP Kotawaringin Timur Suhardiyono menambahkan, penggalian embung direncanakan dilakukan secara bertahap pada 12 titik yang tersebar di sejumlah kawasan.

“Lokasi yang direncanakan dikerjakan bertahap, yakni Jalan Tjilik Riwut kilometer 9 dan kilometer 10, Jalan Jaksa Agung sisi kiri dan kanan, serta beberapa titik di Jalan Lingkar Utara,” sebutnya.

Selain itu, lokasi lainnya berada di Jalan Lingkar Utara kawasan Pesantren Al Marhamah, tikungan tajam setelah gardu induk, ujung Jalan Bumi Raya, dan dekat muara Jalan Bumi Raya.

Dua lokasi juga berada di Jalan Lingkar Selatan, yakni dekat perumahan Bundaran Balanga dan dekat Kantor Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, serta satu titik lainnya berada di Jalan Bawi Jahawen.

Suhardiyono menerangkan, pengerjaan di sejumlah lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan kebutuhan penanganan karhutla, sehingga tidak seluruh titik dapat dikerjakan secara bersamaan.

Salah satu pekerjaan yang telah dilakukan yakni pengerukan parit untuk embung darurat di Jalan Bawi Jahawen, simpang Jalan Pelita Barat, dengan panjang pengerjaan sekitar delapan meter.

“Pengerukan parit untuk embung darurat di Jalan Bawi Jahawen simpang Jalan Pelita Barat sudah dikerjakan sepanjang delapan meter, namun saluran airnya tidak bisa dilanjutkan karena lumpurnya kembali lagi,” bebernya.

Baca juga: DPRD Kotim dorong bupati segera tindaklanjuti SE Gubernur terkait PJJ

Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala teknis yang harus diperhatikan dalam pengerjaan saluran air di lapangan, khususnya ketika kondisi tanah dan aliran air tidak memungkinkan untuk dilakukan pengerukan lebih panjang.

Selain menggali embung dan parit, Dinas SDABMBKPRKP juga mengerahkan alat berat ke Jalan Tjilik Riwut kilometer 8. Pengerahan alat berat di lokasi tersebut ditujukan untuk membantu pengerukan sekaligus membuat penyekatan agar pergerakan api dapat dikendalikan.

“Alat berat juga dikerahkan di Jalan Tjilik Riwut kilometer 8 untuk membantu pengerukan dengan tujuan penyekatan agar api tidak semakin meluas,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam juga menyampaikan bahwa kendala utama dalam upaya pemadaman karhutla saat ini adalah kurangnya sumber air.

Musim kemarau yang telah berlangsung cukup lama menyebabkan sumber air semakin terbatas, parit maupun embung air mengering, sehingga untuk suplai air pemadaman saat ini mengandalkan dari Sungai Mentaya yang jaraknya biasanya cukup jauh dari lokasi kebakaran.

Dengan penggalian embung di sejumlah titik strategis, diharapkan ketersediaan sumber air dapat lebih terjaga sehingga respons terhadap karhutla dapat dilakukan lebih cepat, terutama pada wilayah yang sulit mendapatkan sumber air saat terjadi kebakaran.

“Maka dari itu, kami berkoordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air untuk melakukan pembukaan embung baru maupun pendalaman embung yang sudah lama agar penanganan di lapangan bisa lebih cepat,” demikian Multazam.

Baca juga: Legislator Kalteng minta pengaspalan jalan Sampit-Samuda tidak ditunda-tunda

Baca juga: DPRD Kotim pastikan kawal penggunaan anggaran karhutla tepat sasaran

Baca juga: PLN bersama Kantah Kotim percepat sertifikasi aset tanah tapak tower SUTT 150 kV

Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.