DPPKB Kutim rangkul keluarga cegah stunting sejak dini - ANTARA News Kalimantan Timur
Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur merangkul keluarga berisiko stunting untuk mencegah kondisi tersebut sejak dini, yakni dengan sistem jemput bola dengan memberikan edukasi sekaligus penyerahan bantuan makanan tambahan.
"Pendekatan jemput bola ini dilakukan agar keluarga yang teridentifikasi berisiko stunting tidak hanya menjadi baris data di atas kertas, tetapi harus disentuh, diberi pemahaman, dan didampingi secara langsung," ujar Plh. Kepala DPPKB Kabupaten Kutim Yuriansyah T di Sangatta, Kamis.
Jemput bola tersebut telah dilakukan ke sejumlah kecamatan, salah satunya di Kecamatan Telen pada Rabu, 26 Agustus. Dalam kesempatan itu, diserahkan pula bantuan makanan tambahan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kutim secara simbolis kepada keluarga sasaran untuk periode Juni–Agustus.
Ia menyebut bahwa berdasarkan Sistem Informasi Keluarga (SIGA), terdapat 482 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Telen yang masuk kategori Keluarga Berisiko Stunting (KRS).
"Data ini bukan sekadar angka, ini adalah peta jalan bagi pemerintah untuk tahu ke mana harus pergi dan siapa yang perlu didampingi. DPPKB mendata dan mengidentifikasi keluarga berisiko. Ketika sudah menjadi kasus stunting, penanganan lebih lanjut menjadi ranah Dinas Kesehatan, maka pencegahan sejak dini adalah kunci utama," ujarnya.
Sedangkan terkait bantuan makanan tambahan dari Baznas Kutim, penyaluran selanjutnya akan diteruskan oleh penyuluh lapangan KB agar pendampingan tetap berjalan berkelanjutan.
Namun ia mengingatkan bahwa pencegahan stunting tidak bisa disederhanakan hanya soal makanan. Ada banyak faktor yang harus berjalan bersamaan seperti air bersih, sanitasi, kondisi rumah, asupan gizi balita, tingkat kesejahteraan keluarga, hingga pemenuhan kebutuhan kesehatan ibu dan anak.
Kenyataan itu terlihat nyata saat tim mengunjungi keluarga Rima di Desa Muara Pantun, yang memiliki anak dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK), salah satu tanda risiko stunting yang harus segera ditangani secara menyeluruh.
"Mengingat permasalahan yang kompleks, maka tidak mungkin pekerjaan ini dilakukan sendiri-sendiri. Harus kolaborasi semua pihak, pemerintah desa, Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), perusahaan, tenaga kesehatan, penyuluh, dan masyarakat," katanya.
Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.