◐

Dony Oskaria minta bangunan baru GOR Haji Agus Salim bisa diwariskan hingga 100 tahun

Padang (ANTARA) - Kepala Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadirkan fasilitas olahraga yang kokoh dan berkelanjutan saat meninjau langsung proyek pembangunan kembali Stadion Haji Agus Salim di Kota Padang, Sumatera Barat.

"Jadi saya titip, pembangunan ini harus dilakukan dengan sebaik mungkin agar stadion ini menjadi warisan berharga yang bisa bertahan dan dinikmati oleh berbagai lintas generasi hingga 100 tahun ke depan," kata Dony Oskaria di sela-sela peninjauan di Padang, Selasa.

Dony yang didampingi oleh Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade dan Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Koentjoro, menjelaskan bahwa Stadion Haji Agus Salim memiliki nilai historis yang sangat kuat bagi masyarakat Sumatera Barat, termasuk bagi dirinya pribadi sejak masa kanak-kanak.

Ia mengenang memori masa kecilnya saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) di kawasan Ulak Karang, Padang, di mana stadion tersebut mulai resmi digunakan untuk perhelatan akbar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional pada tahun 1983 silam.

Setelah lebih dari empat dekade berlalu tanpa ada perubahan arsitektur maupun fasilitas yang signifikan, Dony menilai momentum pemugaran total ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk menghadirkan kualitas infrastruktur berstandar modern.

Kepala BP BUMN tersebut menginstruksikan kepada seluruh jajaran kontraktor dan pihak pelaksana proyek agar menempatkan faktor kekuatan struktur bangunan sebagai prioritas utama yang sama sekali tidak boleh dikompromikan.

Ia mengingatkan bahwa ketahanan fisik stadion merupakan aspek krusial yang mendasar, terutama dalam memastikan keamanan dan keselamatan publik mengingat wilayah Sumatera Barat memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap aktivitas gempa bumi.

Lebih lanjut, Dony menggarisbawahi bahwa keberhasilan sebuah pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya diukur dari keindahan visual di atas kertas, melainkan harus dibuktikan melalui presisi dan ketelitian nyata pada tahap eksekusi lapangan.

Menurut dia, visualisasi desain arsitektur yang megah akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan penggunaan material berkualitas tinggi serta pengawasan pengerjaan teknik yang ketat sesuai dengan standar internasional.

Revitalisasi Stadion Haji Agus Salim ini diharapkan tidak sekadar menjadi sebuah proyek penyelesaian fasilitas olahraga daerah, melainkan menjelma sebagai ikon baru kebanggaan masyarakat Minang yang mampu memicu geliat prestasi olahraga.

Melalui standardisasi pembangunan yang ketat tersebut, pemerintah optimistis Stadion Haji Agus Salim akan menjadi salah satu arena olahraga terbaik di Indonesia yang terus menemani dan melahirkan memori baru bagi generasi muda Sumatera Barat di masa depan.*