Dokter: Gaya hidup yang picu plak numpuk berisiko jantung bermasalah

Belum lagi kalau makanannya gitu kan, lemak-lemak, gula-gula, tambah berproses dia menyebabkan plak atau kerak tersebut

Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Jantung dari IHC RS Pusat Pertamina Maya Munigar Apandi menyampaikan plak atau kerak di pembuluh darah bisa menjadi sumbatan yang berisiko pada penyakit jantung koroner, dipengaruhi pola gaya hidup tidak seperti merokok.

Menurut dia, merokok termasuk salah satu gaya hidup yang memang harus diatur karena bisa dimodifikasi, termasuk dengan menghentikan penggunaan rokok konvensional maupun rokok elektrik, lantaran risikonya diketahui dapat serupa.

“Jadi kalau rokok konvensional kan mostly permasalahan di sekitar paru saja, rokok yang elektrik itu permasalahan bisa ke organ lain. Jadi kami tetap menyarankan untuk setop merokok dengan metode apapun. Nah itu kan di dalam lifestyle juga,” ujar Maya dalam diskusi kesehatan di RS Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta pada Rabu.

Maya mengatakan hipertensi menjadi faktor risiko yang paling sering berkaitan dengan penyakit jantung koroner di Indonesia, disusul kebiasaan merokok. Risiko tersebut dapat semakin besar apabila keduanya terjadi bersamaan.

Baca juga: Lemak di perut tingkatkan risiko diabetes hingga penyakit jantung

Hipertensi dapat membuat pembuluh darah menjadi kaku dan tidak fleksibel, sementara merokok juga dapat menyebabkan dinding pembuluh darah lebih sensitif dan rentan mengalami pembentukan plak.

“Belum lagi kalau makanannya gitu kan, lemak-lemak, gula-gula, tambah berproses dia menyebabkan plak atau kerak tersebut,” ucapnya.

Penyakit jantung koroner, kata Maya, terjadi ketika pembuluh darah jantung, dalam hal ini arteri koroner yang berfungsi memasok oksigen serta nutrisi ke otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan.

Lebih jauh Maya menyoroti gaya hidup dalam konsumsi makanan yang bisa memicu risiko penyakit jantung ketika makanan tidak mengandung gizi seimbang, seperti terlalu tinggi gula, lemak, atau banyak karbohidrat.

Baca juga: Penyakit katup jantung berkembang perlahan, kenali gejala sejak dini

Selain itu kata dia, faktor gaya hidup lain seperti istirahat juga perlu diperhatikan. “Kalau istirahat kurang, tidur kurang, 5-10 tahun ke depan kita punya risiko sakit jantung," katanya.

Maya mengatakan pengelolaan stres merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pola hidup sehat. Iaj juga mengimbau olahraga dilakukan secara teratur dengan mempertimbangkan kemampuan setiap individu.

Konsistensi, lanjut Maya, lebih penting daripada olahraga yang hanya dilakukan sesekali karena manfaatnya lebih optimal dan risiko cedera atau sakit juga lebih rendah.

“Mengontrol faktor risiko kalau memang punya, misalnya darah tinggi, kencing manis, kolesterol itu wajib dikontrol semua harus optimal diusahakan ya,” tutur dia.

Baca juga: Menkes prioritaskan deteksi dini, tekan kasus meninggal akibat jantung

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.