Dinkes Kaltim minta faskes siaga hadapi penyakit dampak asap karhutla - ANTARA News Kalimantan Timur

Samarinda (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) meminta fasilitas pelayanan kesehatan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi penyakit akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seiring peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut di sejumlah daerah.

"Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mulai menunjukkan peningkatan, sehingga kami meminta fasilitas kesehatan (faskes) meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan,' ujar Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin di Samarinda, Kamis.

Arahan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Dinkes Kaltim Nomor 400.7.7.1/2277/DINKES-III yang diterbitkan pada Agustus 2026. Surat ini antara lain mengatur penguatan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan terhadap penyakit yang sensitif terhadap perubahan iklim.

Faskes, kata dia, diminta memperkuat pemantauan kasus, meningkatkan kemampuan diagnosis dan tata laksana, memastikan ketersediaan obat serta logistik kesehatan, dan memperkuat promosi kesehatan kepada masyarakat.

Selain itu, pemantauan kondisi lingkungan, terutama kualitas udara dan air, perlu ditingkatkan sebagai bagian dari kewaspadaan terhadap potensi peningkatan penyakit.

Jaya mengatakan kelompok rentan seperti bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta perlu mendapat perhatian khusus ketika terjadi penurunan kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan.

Berdasarkan data Dinkes Kaltim, secara kumulatif hingga Agustus 2026, kasus ISPA tertinggi tercatat di Balikpapan sebanyak 66.468 kasus, disusul Samarinda 48.230 kasus dan Kutai Kartanegara 29.453 kasus.

Selanjutnya Kabupaten Paser 22.284 kasus, Kutai Timur 22.032 kasus, Berau 20.549 kasus, Penajam Paser Utara 10.386 kasus, Bontang 7.670 kasus, serta Kabupaten Mahakam Ulu 1.482 kasus.

Dari sembilan kabupaten/kota yang tercantum dalam data tersebut, total kasus ISPA mencapai 228.554 kasus hingga akhir Agustus 2026, meningkat jauh ketimbang Januari-Maret yang sekitar 9.400 kasus.

Jaya menegaskan tingginya jumlah kasus ISPA di suatu daerah tidak otomatis menunjukkan tingkat keparahan penyakit lebih tinggi dibandingkan daerah lain, karena jumlah penduduk juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingginya angka kasus.

"Kami juga imbau masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, serta menggunakan pelindung pernapasan untuk mengurangi risiko paparan asap dan polutan," kata Jaya.

Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.