Di Antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda: Cara Generasi Muda Berkomunikasi Hari Ini | Retizen

Image Radit Zikra

Curhat | 2026-07-21 20:54:20

Mahasiswa dari berbagai daerah menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung dalam kehidupan sehari-hari. Sumber: Dokumentasi Pribadi

"A, atos tuang acan?"

Kalimat sederhana itu pernah diucapkan salah seorang teman saya kepada mahasiswa baru yang berasal dari Kalimantan. Respons yang muncul bukan jawaban, melainkan tatapan bingung. Teman saya kemudian tertawa kecil sambil mengulang pertanyaannya dalam bahasa Indonesia, "Udah makan belum?"

Peristiwa tersebut mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun, dari situ saya menyadari bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa juga menjadi identitas budaya sekaligus jembatan untuk membangun hubungan dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda.

Sebagai mahasiswa yang lahir dan besar di Kota Bandung, bahasa Sunda sudah menjadi bagian dari kehidupan saya sejak kecil. Di rumah, di lingkungan tempat tinggal, hingga ketika bercanda bersama teman, bahasa Sunda sering digunakan. Akan tetapi, setelah memasuki dunia perkuliahan yang dipenuhi mahasiswa dari berbagai daerah, saya mulai menyadari adanya perubahan dalam cara kami berkomunikasi.

Saya dan teman-teman sebenarnya masih menggunakan bahasa Sunda. Namun, tanpa disadari, percakapan kami lebih sering bercampur dengan bahasa Indonesia. Misalnya, satu kalimat diawali menggunakan bahasa Indonesia, kemudian disambung dengan bahasa Sunda, lalu kembali lagi ke bahasa Indonesia. Cara berbicara seperti itu terasa sangat alami sehingga kami sering tidak menyadari bahwa bahasa yang digunakan sudah menjadi campuran.

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Pengalaman lain yang membuat saya semakin memahami pentingnya bahasa daerah datang dari seorang teman yang berasal dari Kalimantan. Ketika pertama kali datang ke Bandung, ia hanya mampu menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Bahasa Sunda sama sekali terdengar asing baginya.

Namun, setelah hampir dua tahun tinggal di Bandung, perlahan ia mulai memahami beberapa kosakata bahasa Sunda. Bahkan, sesekali ia ikut mengucapkan kata-kata sederhana seperti mangga, punten, atuh, atau hatur nuhun ketika berbicara dengan teman-teman.

Meskipun belum fasih, usaha tersebut menunjukkan bahwa bahasa daerah tidak selalu menjadi penghalang komunikasi. Sebaliknya, bahasa daerah justru mampu menjadi jembatan yang membantu seseorang beradaptasi dengan lingkungan baru. Melalui bahasa, seseorang tidak hanya belajar memahami kata-kata, tetapi juga belajar menghargai budaya masyarakat tempat ia tinggal.

Pengalaman tersebut membuat saya semakin percaya bahwa komunikasi lintas budaya tidak selalu harus dimulai dari hal-hal yang rumit. Terkadang, memahami beberapa kosakata sederhana saja sudah cukup untuk menciptakan rasa akrab di tengah perbedaan.

Mahasiswa dari luar Jawa Barat mulai mengenal bahasa Sunda sebagai bagian dari proses beradaptasi dengan lingkungan baru & Sumber : Dokumentasi Pribadi

Menariknya lagi, saya justru menemukan pengalaman lain pada diri saya sendiri. Meskipun lahir dan besar di Bandung, ternyata masih banyak kosakata maupun ungkapan dalam bahasa Sunda yang belum saya pahami. Beberapa istilah baru saya dengar ketika berbincang dengan orang yang lebih tua atau berasal dari daerah lain di Jawa Barat.

Awalnya saya mengira sebagai orang Sunda saya sudah memahami bahasa Sunda dengan baik. Namun kenyataannya tidak demikian. Saya baru menyadari bahwa bahasa Sunda memiliki banyak ragam kosakata, dialek, dan tingkatan tutur yang tidak semuanya digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa mempelajari bahasa daerah ternyata merupakan proses yang tidak pernah benar-benar selesai. Bahkan seseorang yang lahir di lingkungan budaya tersebut masih terus belajar memahami bahasa yang menjadi bagian dari identitasnya sendiri.

Fenomena ini sebenarnya bukan hanya saya rasakan sendiri. Berdasarkan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Indonesia memiliki 718 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Namun, hasil pemetaan vitalitas bahasa pada tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya 18 bahasa daerah yang berada dalam kondisi aman. Selebihnya berada pada kategori rentan, mengalami kemunduran, terancam punah, kritis, bahkan telah dinyatakan punah. Data tersebut menjadi pengingat bahwa kekayaan bahasa Indonesia merupakan warisan budaya yang perlu dijaga bersama.

Bahasa daerah merupakan bagian dari identitas budaya yang masih dapat dijumpai di berbagai ruang publik di Jawa Barat. Sumber: Pinterest

Perubahan pola komunikasi generasi muda tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi. Setiap hari kita menghabiskan waktu di media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, maupun platform digital lainnya. Konten-konten tersebut lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia bahkan bahasa asing.

Tidak mengherankan apabila ungkapan seperti bro, guys, healing, literally, atau random menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Hal tersebut bukan sesuatu yang salah karena bahasa memang akan selalu berkembang mengikuti zamannya. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah jangan sampai perkembangan tersebut membuat generasi muda semakin jauh dari bahasa daerahnya sendiri.

Dalam komunikasi lintas budaya, kemampuan menggunakan beberapa bahasa justru menjadi sebuah kelebihan. Bahasa Indonesia tetap menjadi alat pemersatu bangsa, bahasa asing membuka kesempatan di tingkat global, sedangkan bahasa daerah menjaga identitas budaya yang kita miliki. Ketiganya bukan untuk saling menggantikan, melainkan saling melengkapi.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga mengutip data UNESCO yang menyebutkan bahwa sekitar satu bahasa di dunia hilang setiap dua minggu. Ketika sebuah bahasa punah, yang hilang bukan hanya kosakata, tetapi juga sejarah, cerita rakyat, pengetahuan lokal, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Melestarikan bahasa daerah dapat dimulai dari percakapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sumber: Google/Tempo.com

Sebagai generasi muda, kita tentu harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Menguasai bahasa Indonesia dan bahasa asing merupakan sebuah kebutuhan di era globalisasi. Namun, di saat yang sama, kita juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga bahasa daerah agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Saya percaya bahwa melestarikan bahasa daerah tidak harus dilakukan melalui cara-cara yang besar. Menggunakan bahasa Sunda saat berbicara dengan keluarga, menyapa teman menggunakan bahasa daerah, atau membuat konten media sosial yang mengenalkan budaya lokal sudah menjadi langkah kecil yang berarti.

Pengalaman saya bersama teman-teman di kampus mengajarkan bahwa bahasa daerah ternyata masih hidup, hanya cara penggunaannya yang mulai berubah. Bahasa Sunda tidak lagi selalu digunakan secara penuh, melainkan bercampur dengan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Bahkan, teman saya yang berasal dari Kalimantan perlahan ikut mempelajarinya sebagai bagian dari proses beradaptasi di Bandung.

Bahasa daerah tidak benar-benar hilang, tetapi sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang semakin beragam. Tantangannya bukan sekadar mempertahankan bahasa agar tetap digunakan, melainkan memastikan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi, bahasa daerah tetap menjadi bagian dari identitas yang kita banggakan. Sebab, ketika sebuah bahasa berhenti digunakan, yang hilang bukan hanya kata-kata, melainkan juga cerita, nilai, dan jati diri sebuah budaya.

  • #bahasa daerah
  • #bahasa sunda
  • #generasi muda
  • #budaya indonesia
  • #identitas budaya
  • #bandung
  • #mahasiswa
  • #
  • Disclaimer

    Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.