6 Fakta Kampala, Kota Asal Ghetto Kids yang Viral di Piala Dunia Bareng Shakira

Kampala -

Final Piala Dunia FIFA 2026 tak hanya tentang duel perebutan trofi, juga ada aksi dance Ghetto Kids yang viral berjoget bareng penyanyi Shakira.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah FIFA, partai final juga menghadirkan halftime show yang berlangsung di sela jeda pertandingan.

Panggung megah tersebut diisi oleh Shakira, Burna Boy, dan kelompok penari asal Uganda, The Ghetto Kids, yang dijadwalkan membawakan lagu resmi Piala Dunia 2026 berjudul Dai Dai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nama The Ghetto Kids kini menjadi perhatian dunia. Kelompok tari yang mengawali perjalanan dengan membuat video sederhana di jalanan ini berasal dari Kampala, ibu kota Uganda.

Dari sudut-sudut kota tersebut, mereka berhasil menembus panggung internasional hingga tampil di salah satu acara olahraga terbesar di dunia.

Di balik kisah inspiratif itu, Kampala ternyata menyimpan banyak fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui wisatawan.

1. Dibangun di Atas Tujuh Bukit

Julukan "City of Seven Hills" bukan sekadar sebutan. Kampala memang pertama kali berkembang di atas tujuh bukit utama, yakni Old Kampala, Mengo, Kibuli, Namirembe, Rubaga, Nsambya, dan Kololo.

Ketujuh bukit ini menjadi pusat pemerintahan, keagamaan, hingga kehidupan masyarakat Buganda sejak kota tersebut mulai berkembang. Kini wilayah Kampala telah meluas jauh melampaui tujuh bukit awalnya.

Meski begitu, julukan Kota Tujuh Bukit tetap melekat sebagai identitas sekaligus salah satu daya tarik sejarah ibu kota Uganda.

2. Arti Namanya "Bukit Impala"

Sebelum berkembang menjadi kota besar, Kampala merupakan sebuah padang berbukit yang menjadi tempat kawanan antelop impala merumput. Ketika pemerintah kolonial Inggris membangun benteng di Old Kampala Hill, masyarakat Buganda menyebut lokasi itu sebagai Akasozi ke'Empala yang berarti "Bukit Impala".

Seiring berjalannya waktu, penyebutan nama kota tersebut disingkat hingga menjadi Kampala seperti yang dikenal sekarang.

3. Dijuluki Kota Boda-boda

Kampala terkenal dengan boda boda, sebuah sepeda motor yang menjadi moda transportasi utama masyarakat. Ribuan boda boda memenuhi jalanan setiap hari dan menjadi cara tercepat untuk menembus kemacetan ibu kota Uganda.

Moda transportasi ini juga menjadi bagian penting dari denyut ekonomi kota karena digunakan untuk mengantar penumpang maupun barang.

4. Kuil Bahá'í Satu-satunya di Afrika

Di Bukit Kikaaya berdiri Bahá'í House of Worship, rumah ibadah Bahá'í yang selesai dibangun pada 1961. Bangunan ini menjadi istimewa karena hingga kini masih menjadi satu-satunya Kuil Bahá'í di seluruh Benua Afrika.

Letaknya dikelilingi taman yang luas dan tenang sehingga menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana damai di Kampala.

5. Tempat Lahir Kuliner "Rolex"

Di Kampala, Rolex bukanlah jam tangan mewah melainkan salah satu jajanan kaki lima paling populer di Uganda. Nama tersebut berasal dari frasa rolled eggs, yaitu telur dadar yang dicampur kol, tomat, dan bawang, kemudian digulung bersama chapati hangat.

Makanan sederhana ini terkenal karena murah, mengenyangkan, dan mudah ditemukan hampir di setiap sudut kota.

6. Ibu Kota Negara Sekaligus Jantung Kerajaan Buganda

Kampala memiliki keunikan yang jarang dimiliki kota lain. Selain menjadi ibu kota Uganda, kota ini juga merupakan pusat budaya Kerajaan Buganda, salah satu monarki tradisional tertua di Afrika Timur.

Di kota ini berdiri Bulange, gedung parlemen Kerajaan Buganda, serta Kasubi Tombs, situs Warisan Dunia UNESCO yang menjadi tempat peristirahatan para Kabaka atau raja-raja Buganda.

Dari jalanan sederhana tempat The Ghetto Kids memulai mimpi hingga panggung halftime show Final Piala Dunia 2026, Kampala membuktikan bahwa sebuah kota tak harus megah untuk melahirkan kisah yang mengguncang dunia.