Demi Jadi Biksu, Bos Es Krim Thailand Jual Bisnisnya Rp88 Miliar!

Jakarta -

Bos es krim Thailand menjual Hawell's seharga Rp88 miliar untuk menjadi biksu. Bisnisnya mencakup pabrik, resep, merek dagang, dan rencana ekspansi.

Memiliki bisnis kuliner yang sukses bagi sebagian orang terlihat menguntungkan. Keuntungan yang terus masuk dan nama merek yang telah populer seolah tak butuh upaya lebih untuk mengembangkannya.

Namun bukan berarti kehidupan yang nyaman tersebut menjadi tujuan bagi semua orang. Ada beberapa orang yang justru meninggalkan zona nyamannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Misalnya kisah pebisnis es krim asal Thailand ini. Dilansir dari 8Days, (1/9/2026), ia menawarkan seluruh bisnisnya untuk dijual demi mengejar kehidupan spiritual sebagai biksu.

Demi Jadi Biksu, Bos Es Krim Thailand Jual Bisnisnya Rp88 Miliar!Seorang pemilik bisnis es krim memutuskan untuk menjual seluruh bisnisnya seharga Rp88 Miliar. Foto: 8Days

Pengusaha tersebut adalah Siripong Akkarasriyuk, pendiri merek es krim Hawell's. Bisnis tersebut ditawarkan dengan harga 165 juta baht atau sekitar Rp88 miliar.

Nilai penjualan itu mencakup berbagai aset milik Hawell's. Di antaranya lahan seluas 1,1 hektare, gedung kantor, pabrik, mesin, hingga lisensi produksi.

Pembeli juga akan mendapatkan gerai Hawell's Ice Cream & Fast Food. Merek dagang perusahaan serta berbagai pengetahuan bisnis turut masuk dalam paket penjualan.

Tak hanya itu, pengalaman bisnis selama 37 tahun juga akan diwariskan kepada pemilik baru. Ia ingin memastikan Hawell's tetap berkembang meski dirinya meninggalkan dunia bisnis.

"Hawell's bukan hanya bisnis yang saya bangun. Ini sudah menjadi bagian dari hidup dan keluarga saya," ujar Siripong.

Demi Jadi Biksu, Bos Es Krim Thailand Jual Bisnisnya Rp88 Miliar!Alasan dibalik penjualan bisnisnya tersebut ternyata karena ia ingin menjadi seorang biksu. Foto: 8Days

Ia juga memberikan imbalan bagi orang yang berhasil mempertemukannya dengan pembeli. Nilai hadiah tersebut mencapai 5 juta baht atau sekitar Rp2,6 miliar.

Keputusan Siripong rupanya bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ia bahkan menulis buku berjudul Success Derived from the Buddha yang diterbitkan pada 2016.

Dalam dua tahun ke depan, ia ingin menyelesaikan penjualan bisnisnya. Rencana tersebut juga berarti Siripong akan meninggalkan berbagai hubungan duniawi, termasuk istri dan anak perempuannya.

Di sisi lain, perjalanan Hawell's sendiri memiliki sejarah panjang di Thailand. Siripong membuka gerai pertama merek tersebut pada 1999 dan berhasil memperluasnya menjadi 22 gerai.

Hawell's kemudian dikenal sebagai salah satu merek es krim Thailand yang populer pada era Y2K. Menariknya, Siripong tidak menjual bisnis karena menganggap Hawell's sudah tidak memiliki masa depan.

Justru, ia telah menyiapkan rencana ekspansi besar untuk calon pemilik baru.

(dfl/adr)