Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional jadi fondasi pembangunan Sumsel

Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional jadi fondasi pembangunan Sumsel

Selasa, 8 September 2026 19:01 WIB

Image Print

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Selatan Edward. (ANTARA/HO/Pemprov Sumsel)

Palembang (ANTARA) - Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Edward Candra mengatakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi fondasi penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan agar lebih tepat sasaran.

“Data yang baik akan menghasilkan kebijakan yang baik. Sebaliknya, keterbatasan kualitas data dapat menyebabkan program pembangunan tidak mencapai sasaran secara optimal,” kata Sekda Sumsel Edward Candra di Palembang, Selasa.

Menurut dia, kualitas perencanaan dan ketepatan kebijakan pembangunan sangat bergantung pada ketersediaan data yang akurat, mutakhir, terpadu, dan mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara menyeluruh.

Selama ini pemerintah menghadapi tantangan berupa perbedaan sumber data, cakupan, tujuan, dan variabel yang digunakan dalam berbagai program.

Kondisi tersebut, berpotensi menimbulkan ketidaktepatan sasaran, baik masyarakat yang seharusnya menerima program tetapi belum terjangkau maupun masyarakat yang tidak menjadi sasaran namun justru memperoleh program.

Oleh sebab itu, kehadiran DTSEN menjadi langkah strategis untuk menghadirkan satu basis data sosial ekonomi yang terintegrasi dan dapat menjadi rujukan bersama dalam perencanaan serta pelaksanaan pembangunan.

DTSEN juga membantu pemerintah melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat secara lebih komprehensif karena penilaian tidak hanya didasarkan pada satu indikator, tetapi mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersamaan.

“Pendekatan ini menjadi sangat penting karena kondisi masyarakat bersifat dinamis. Tingkat kesejahteraan seseorang atau keluarga dapat berubah seiring perubahan kondisi pekerjaan, pendidikan, kesehatan, kepemilikan aset, kondisi tempat tinggal, maupun faktor sosial ekonomi lainnya,” ujar dia.

Edward mengatakan DTSEN bukan merupakan data yang bersifat statis. Data tersebut harus terus diperbarui dan disempurnakan mengikuti perubahan kondisi masyarakat, termasuk kelahiran, perpindahan penduduk, perubahan pekerjaan, dan kondisi ekonomi keluarga.

Keberhasilan implementasi DTSEN tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat dan BPS sebagai pengelola data, tetapi juga membutuhkan dukungan aktif seluruh pemangku kepentingan, termasuk perangkat daerah.

Budaya kerja berbasis data perlu diperkuat agar data menjadi dasar dalam menyusun kebijakan, menentukan sasaran program, mengalokasikan anggaran, hingga melakukan evaluasi pembangunan.

Dengan pemanfaatan DTSEN secara optimal, ia berharap kebijakan dan anggaran pemerintah dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Sumatera Selatan.

Ia juga mengajak seluruh perangkat daerah dan instansi terkait memperkuat koordinasi dengan BPS Sumsel dalam pemanfaatan DTSEN, termasuk memberikan informasi dan masukan yang diperlukan untuk menjaga kualitas serta keberlanjutan pembaruan data.

Sementara itu, Kepala BPS Sumsel Mohammad Wahyu Yulianto menjelaskan DTSEN hadir untuk menjawab kebutuhan pemerintah terhadap informasi sosial ekonomi masyarakat secara by name by address.

Sebelumnya terdapat berbagai sumber data dengan perbedaan cakupan, tujuan, dan variabel. Integrasi melalui DTSEN diharapkan memberikan rujukan yang lebih terpadu bagi pemerintah dalam merancang dan melaksanakan program pembangunan.

Untuk pemeringkatan desil dalam DTSEN tidak semata-mata didasarkan pada ukuran kemiskinan atau nominal pendapatan.

Penentuan desil menggunakan metode statistik Proxy Mean Test (PMT) dengan mempertimbangkan berbagai variabel sosial ekonomi keluarga, antara lain kondisi perumahan, sumber air minum, bahan bakar dan energi untuk memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, status pekerjaan, serta kesehatan dan disabilitas.

“Melalui DTSEN, keluarga telah diurutkan berdasarkan tingkat kesejahteraan relatif sehingga data tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan sasaran berbagai program pemerintah secara lebih tepat,” kata Wahyu.

Pewarta: Ahmad Rafli Baiduri
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026