Cara Melindungi Internet Banking dari Hacker
Albertus menyoroti pentingnya melindungi data yang digunakan untuk mengakses layanan digital, termasuk kata sandi (password) pada aplikasi perbankan.
Dia menjelaskan, salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah metode harvest now, decrypt later. Dalam metode ini, pelaku mengumpulkan data terenkripsi untuk kemudian mencoba membukanya pada masa mendatang ketika teknologi yang digunakan memungkinkan.
Ancaman tersebut menjadi perhatian seiring perkembangan komputasi kuantum (quantum computing), yang berpotensi melemahkan algoritma kriptografi tertentu yang digunakan saat ini.
"Untuk passphrase, untuk password yang Bapak-Ibu sering gunakan di mobile banking, di internet banking, ketika terhubung dengan jaringan internet yang tidak aman, itu mereka akan melakukan harvest juga," ujar Albertus.
Dia mengingatkan, perlindungan data tidak cukup hanya mengandalkan kata sandi. Pengamanan juga perlu memperhatikan jaringan yang digunakan, perangkat, aplikasi, serta sistem enkripsi yang melindungi informasi.
Albertus menekankan bahwa data perlu dilindungi ketika disimpan, digunakan, maupun dikirimkan melalui jaringan. Dengan demikian, risiko pencurian informasi dapat ditekan pada berbagai tahapan pengelolaan data.
Enkripsi Jadi Kunci Perlindungan Data
Albertus menjelaskan, kriptografi merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga kepercayaan digital. Teknologi ini digunakan untuk menjaga kerahasiaan dan integritas informasi serta membantu memastikan bahwa hanya pihak yang berwenang yang dapat mengakses data tertentu.
Dia menyebut BSSN masih menemukan data sensitif yang disimpan atau dipertukarkan tanpa enkripsi sehingga dapat dibaca dalam bentuk teks biasa (plaintext).
"Data harus diproteksi in transit, in use, and at rest. Baik data itu disimpan, dipertukarkan, maupun ketika data itu diolah," kata Albertus.