Bukan Fenomena Baru, Peserta Tur Kabur dari Rombongan Ada Sejak 90-an

Jakarta -

Media sosial sedang dihebohkan dengan unggahan akun Threads @sarjanabackpacker yang menjelaskan satu peserta tour di Korea Selatan tiba-tiba kabur dari rombongan dan tidak bisa dihubungi. Ketua Umum Indonesian Tour Leaders Association (ITLA), Robert Alexander S. Moningka, fenomena tersebut bukanlah sebuah kejadian baru.

Marketing Manager Berani Backpacker Wiky membeberkan kronologi seorang peserta tur asal Madiun bernama Femas (22) kabur saat mengikuti open trip di Korea Selatan. Femas disebut menghilang di Seoul.

Rombongan itu berangkat dari Jakarta pada 27 Juni 2026. Pada malam pertama tur, atau 28 Juni 2026, seluruh peserta diberi waktu bebas setelah rangkaian tur selesai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat itu, beberapa peserta 5-7 orang bersama tour leader (TL) berkeliling ke kawasan Myeongdong di Seoul. Di lokasi tersebut, Femas kemudian berpamitan ingin mencari sepatu.

Robert, yang tergabung ITLA (asosiasi profesi tour leader di Indonesia yang berfokus pada pengembangan kompetensi, sertifikasi, dan standar profesi tour leader nasional) mengatakan modus peserta tour yang sengaja memisahkan diri dari rombongan sudah ada sejak lama.

"Modus seperti ini itu sebenarnya sudah sejak lama, sejak tahun 90-an. Peserta tour ikut rombongan dengan alasan berwisata, setelah itu memisahkan diri tanpa memberitahukan kepada tour leader," ujar Robert dalam wawancara dengan detikTravel, Kamis (17/7/2026).

Dulu Jepang dan Korea Paling Sering

Robert menjelaskan bahwa pada dekade 1990-an, negara yang paling sering menjadi tujuan kasus seperti ini adalah Jepang dan Korea.

"Kalau yang dulu tahun 90-an itu yang paling sering adalah Jepang dan Korea, kalau sekarang Arab Saudi melalui umrah," kata Robert.

Menurutnya, motif yang paling umum adalah faktor ekonomi, terutama keinginan untuk bekerja secara ilegal di negara tujuan. Namun, motif setiap orang dapat berbeda dan tidak bisa diketahui secara pasti jika mereka memang sengaja menghilangkan keberadaan dirinya dari semua orang yang mencari.

Pengalaman Pribadi di Jepang Tahun 1996

Robert mengaku pernah mengalami langsung kejadian serupa yang hingga kini masih membekas dalam kariernya sebagai tour leader.

"Saat tahun 96 itu peserta saya kabur di Jepang, itu yang paling ekstrem karena ada belasan yang kabur," kata dia.

Kala itu, menurut Robert, tren bekerja di Jepang sedang tinggi sehingga sejumlah peserta memanfaatkan perjalanan wisata sebagai jalan masuk.