BRIN-UIN Ar-Raniry kembangkan konservasi manuskrip terdampak bencana
Model tersebut dirancang portabel, modular, berbiaya rendah, dan dapat diterapkan secara in situ di wilayah rawan bencana hidrologi
Banda Aceh (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengembangkan model konservasi manuskrip terdampak bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Aceh pada akhir 2025.
"Model tersebut dirancang portabel, modular, berbiaya rendah, dan dapat diterapkan secara in situ di wilayah rawan bencana hidrologi," kata Ketua Tim Riset Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN Husnul Fahimah Ilyas di Banda Aceh, Minggu
Ia menjelaskan pengembangan model konservasi tersebut dilakukan melalui riset kolaboratif BRIN, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Perpustakaan Nasional (Perpusnas), dan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry.
Ia mengatakan penelitian tersebut tidak hanya fokus pada penyelamatan fisik manuskrip, tetapi juga pengembangan manajemen risiko bencana untuk melindungi warisan dokumenter dari ancaman bencana hidrometeorologi.
Baca juga: Masyarakat Pernaskahan serukan penyelamatan informasi naskah Nusantara
Menurut dia, banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh pada akhir 2025 menyebabkan kerusakan pada berbagai sektor, termasuk warisan budaya. Salah satu yang terdampak adalah manuskrip yang menyimpan memori kolektif, pengetahuan lokal, serta identitas budaya masyarakat Aceh.
Ia mengatakan penelitian tersebut bertujuan mengembangkan model konservasi manuskrip terdampak banjir dengan metode pengeringan manual knockdown.
Anggota tim riset BRIN sekaligus Ketua Umum Manassa Pusat Agus Iswanto mengatakan riset tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan model atau protokol manajemen risiko bencana hidrologi khusus untuk warisan dokumenter berupa manuskrip.
Sementara itu Konservator Perpusnas Aris Riyadi mengatakan tim mengembangkan ruang pengering atau chamber portabel sebagai solusi taktis untuk mempercepat proses penyelamatan manuskrip yang terdampak banjir.
Menurutnya, chamber portabel dapat digunakan langsung di lokasi bencana sehingga lebih cepat, efisien, dan mudah dimobilisasi, dibandingkan mesin freeze drying yang selama ini digunakan dalam proses penanganan bahan pustaka basah.
Baca juga: Manuskrip Al Quran usia 180 tahun tulisan ulama Aceh didigitalisasi
Ia menjelaskan penyelamatan manuskrip terdampak banjir harus dilakukan melalui beberapa tahapan yakni identifikasi tingkat kerusakan perlu dilakukan sesegera mungkin setelah bencana, kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan sebelum masuk ke tahap restorasi sesuai kondisi masing-masing manuskrip.
Ketua Komisariat Manass Aceh sekaligus Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Hermansyah menyebutkan berdasarkan hasil pendataan sedikitnya 520 manuskrip di sembilan lokasi kabupaten/kota di Aceh ditemukan terdampak bencana.
"Hasil riset yang dilakukan BRIN ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam penanganan manuskrip yang terdampak bencana serupa di tempat lain," ujarnya.
Ia mengatakan UIN Ar-Raniry, khususnya Fakultas Adab dan Humaniora, akan diarahkan menjadi Laboratorium Manuskrip atau Naskah Kuno sebagai bagian dari penguatan fungsi akademik dan pelestarian manuskrip Aceh.
Peneliti dari Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN AS Rakhmad Idris mengatakan hasil riset perlu diperkuat dengan dokumen kebijakan agar model konservasi yang dikembangkan dapat diterapkan secara lebih luas.
"Dokumen kebijakan diperlukan untuk memberikan analisis dan rekomendasi penting kepada pemangku kebijakan mengenai bagaimana konservasi manuskrip terdampak bencana hidrologi sebaiknya dilakukan," ujarnya.
Baca juga: BRIN soroti ekosistem manuskrip sebagai kunci ketahanan budaya
Pewarta: M Ifdhal
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.