BRIN Koleksi 361 Spesies Tumbuhan Terancam Punah di Lima Kebun Raya
“Angka tersebut sangat signifikan, mengingat luas daratan Indonesia hanya mencakup 1,3 persen dari total luas daratan dunia,” kata Lutfi dalam kegiatan Talk About Scientific Collection ke-17 secara daring, Senin (20/7).
Mayoritas Spesies Masih Mengalami Penurunan Populasi
Analisis dilakukan terhadap empat kategori spesies berdasarkan Daftar Merah IUCN, yakni Extinct in the Wild (EW), Critically Endangered (CR), Endangered (EN), dan Vulnerable (VU).
Menurut Lutfi, kategori Endangered dan Vulnerable mendominasi sekitar 88,4 persen dari keseluruhan spesies yang dianalisis.
“Kategori Endangered dan Vulnerable mendominasi sekitar 88,4 persen dari seluruh spesies yang dianalisis, yang berarti sebagian besar spesies yang dikoleksi masih memiliki populasi di alam namun terus mengalami penurunan,” jelasnya.
Dari total 361 spesies terancam punah tersebut, 214 spesies atau sekitar 59,3 persen merupakan flora asli Indonesia. Sebanyak 63 di antaranya merupakan tumbuhan endemik yang secara alami hanya ditemukan di Indonesia.
"Spesies endemik menjadi tanggung jawab nasional karena hanya ditemukan di Indonesia. Jika tumbuhan ini punah di Indonesia, maka tumbuhan ini juga tidak ditemukan di bagian lain di seluruh dunia,” tegas Lutfi.
Salah satu koleksi penting adalah mangga kasturi (Mangifera casturi). Spesies tersebut berstatus Extinct in the Wild atau punah di alam liar sehingga keberadaannya kini dipertahankan melalui konservasi di kebun raya.
Analisis BRIN juga menemukan persoalan lain dalam upaya konservasi. Sebanyak 260 dari 361 spesies hanya terdapat di satu kebun raya, sehingga berisiko apabila lokasi penyimpanan koleksi mengalami bencana, serangan penyakit, atau gangguan lainnya.
“Jika di lokasi kebun raya tersebut terjadi bencana atau terkena serangan penyakit tertentu, maka BRIN tidak memiliki koleksi cadangan,” jelas Lutfi.
Dari jumlah tersebut, terdapat 29 spesies berstatus Critically Endangered dan 111 spesies yang tergolong tunggal ganda kritis.
Sebagai tindak lanjut, BRIN akan melakukan verifikasi kondisi koleksi secara langsung di lapangan, mengaudit asal-usul koleksi, mengevaluasi kemampuan perbanyakan, serta memperbanyak spesies tertentu untuk ditempatkan sebagai koleksi cadangan di kebun raya lainnya.
Lima Kebun Raya BRIN bersama 44 Kebun Raya Binaan juga dinilai perlu ditempatkan sebagai satu jaringan konservasi nasional yang saling melengkapi. Pengembangannya dapat diselaraskan dengan tiga wilayah fitogeografi Indonesia, yakni Sunda Shelf, Wallacea, dan Sahul Shelf.
"Tantangan utama konservasi tumbuhan terancam bukan sekadar membawa spesies masuk ke kebun raya, tetapi menjaga material tersebut tetap hidup, teridentifikasi valid, terlacak asal-usulnya, dan terintegrasi dalam jaringan koleksi nasional yang saling melengkapi,” ujar Lutfi.