◐

BPS Ungkap Kelompok Termiskin Habiskan 64% Anggaran Buat Makan

Liputan6.com, Jakarta - Ketimpangan kesejahteraan masyarakat Indonesia masih membayang tebal di awal tahun ini. Jurang kemampuan ekonomi antara kelompok berpendapatan bawah dan kelompok atas terlihat sangat nyata dari struktur belanja harian mereka, yakni semakin bawah kelas sosialnya, semakin besar porsi pendapatan yang tersedot hanya untuk mempertahankan isi perut.

Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk 'Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026', pola pengeluaran penduduk jika dibedah berdasarkan kelompok kuintil pengeluaran menunjukkan penerapan nyata dari Hukum Engel. 

Pada kelompok Kuintil 1, yakni 20% penduduk dengan pengeluaran terendah, porsi pengeluaran untuk kelompok makanan mendominasi hingga 64,60% dari total anggaran rumah tangga. Sebaliknya, pengeluaran bukan makanan hanya tersisa 35,40%.

Kondisi tersebut berbanding terbalik secara ekstrem jika dibandingkan dengan kelompok Kuintil 5, yaitu 20% penduduk dengan pengeluaran tertinggi. Bagi kelompok terkaya ini, belanja makanan hanya mengambil porsi minoritas dari total anggaran belanja harian mereka.

"Penduduk pada Kuintil 5 mencatatkan porsi pengeluaran untuk makanan sebesar 39,21%, sementara porsi pengeluaran bukan makanan mencapai 60,79%," tulis BPS dalam publikasinya, dikutip Minggu (11/10/2026).

Dominasi pengeluaran bukan makanan pada kelompok teratas menunjukkan fleksibilitas finansial yang jauh lebih besar untuk mengalokasikan dana pada kebutuhan sekunder dan tersier, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, hingga hiburan dan tabungan.

Sementara bagi kelompok Kuintil 1 hingga Kuintil 3, sebagian besar daya beli habis menguap untuk komoditas pangan pokok. Hal ini menjadikan masyarakat kelas bawah sangat rentan terhempas ke jurang kemiskinan mendalam setiap kali terjadi lonjakan inflasi bahan makanan.