BPDP: Keunggulan sawit harus diiringi peningkatan nilai tambah

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menilai keunggulan produksi sawit nasional harus turut diiringi dengan peningkatan nilai tambah produk hilir hingga pengembangan teknologi serta sumber daya manusia (SDM) dalam ekosistem tersebut.

“Indonesia patut bersyukur telah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun, kita tidak boleh berhenti sampai di sini. Keunggulan produksi harus diikuti oleh keunggulan inovasi, keunggulan teknologi, keunggulan SDM, dan keunggulan di dalam menciptakan nilai tambah,” kata Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman di Jakarta, Senin.

Eddy mengatakan, pengembangan di sektor-sektor tersebut sangat penting mengingat perubahan kebutuhan dunia yang sangat dinamis saat ini, mulai dari perubahan iklim, tuntutan nilai keberlanjutan, digitalisasi, kecerdasan artifisial, bioekonomi, ekonomi sirkuler, dan dinamika perdagangan global.

Hal ini pun, lanjut dia, menuntut industri sawit Indonesia untuk terus bertransformasi yang hanya dapat diwujudkan apabila Indonesia juga memiliki ekosistem riset yang kuat sebagai salah satu investasi strategis bangsa.

Menurut Eddy, riset dan upaya hilirisasi sangat berkaitan untuk meningkatkan produktivitas sawit nasional, terutama sawit rakyat yang masih memiliki ruang pengembangan yang sangat besar.

"Ketika berbicara mengenai hilirisasi, perhatian publik sebagian besar seringkali hanya tertuju kepada biodiesel atau pengembangan bahan bakar nabati. Padahal biodiesel hanyalah salah satu bagian dari ekosistem hilirisasi sawit,” kata Eddy.

Baca juga: Ekonom nilai B50 dorong hilirisasi sawit ke produk turunan lain

Baca juga: Ekonom nilai produk turunan sawit perluas pasar ekspor nontradisional

Ia mengatakan, riset produk turunan kelapa sawit memiliki peran yang sangat menentukan dan setiap inovasi akan melahirkan produk baru, demikian juga setiap produk baru akan membuka industri baru.

"Setiap industri baru akan menciptakan investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Eddy.

“Oleh karena itu, hilirisasi dan riset merupakan dua sisi mata uang yang sama. Tidak ada hilirisasi yang kuat tanpa inovasi. Namun demikian, juga tidak ada inovasi yang bermakna apabila tidak sampai kepada tahapan hilirisasi,” imbuhnya.

Sementara itu, BPDP menampilkan berbagai inovasi pengelolaan sawit berkelanjutan untuk sektor pangan hingga energi dalam ajang Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026, yang digelar 20-21 Juli di Jakarta.

Ajang ini turut menghadirkan berbagai seminar, diskusi, pameran hasil riset, business matching, kompetisi inovasi, serta forum kolaborasi yang melibatkan peneliti, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, dan mahasiswa.

Lebih jauh, kegiatan ini juga akan menampilkan berbagai hasil penelitian pada enam bidang utama, yaitu bioenergi; lingkungan; biomaterial; budidaya dan pascapanen; pangan dan kesehatan; serta sosial, ekonomi, manajemen, pasar, dan teknologi informasi.

Baca juga: BPDP ajak UKMK tangkap peluang bisnis produk turunan sawit

Baca juga: BPDP: Manfaat sawit hadir dalam kehidupan sehari-hari

Baca juga: PalmCo geser fokus ke produk turunan guna pacu perekonomian

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.