◐

BPBD Barsel sebut pekatnya kabut asap akibat tingginya karhutla lokal

BPBD Barsel sebut pekatnya kabut asap akibat tingginya karhutla lokal

Sabtu, 10 Oktober 2026 11:20 WIB

Image Print

Tim sedang memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Barito Selatan. ANTARA/Istimewa.

Buntok (ANTARA) - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Selatan, Kalimantan Tengah, Agus In'Yulius mengatakan, kabut asap pekat menyelimuti wilayah setempat akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah setempat.

"Kabut asap pekat di daerah ini akibat karhutla yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini," katanya di Buntok, Jumat.

Dikatakannya, hal itu berdasarkan hasil koordinasi yang dilakukannya dengan pihak Badan Metrologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Statmet Sanggu pada Jumat pagi.

Berdasarkan pemantauan titik panas (hotspot) terbaru, Jumat (9/10/2026) pukul 06.00 WIB terpantau ada sebanyak 383 titik, sumber api terlihat berasal dari daerah Barito Selatan dan di wilayah Kecamatan Dusun Selatan menjadi salah satu wilayah yang jumlah hotspotnya masih banyak.

Berdasarkan data Sipongi Kemenhut, beberapa desa di Kabupaten Barito Selatan yang diketahui menjadi pusat tertinggi titik api atau hotspot selama periode 1 Agustus – 8 Oktober 2026 adalah Desa Madara sebanyak 1.567 titik, Sungai Jaya 1.256 titik, Kalahien 1.038 titik, Marawan Lama 744 titik dan Kelurahan Mangkatip 344 titik.

Selain itu, data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) Eropa tentang sebaran aerosol, yakni partikel halus seperti asap dan debu, menunjukkan konsentrasi tinggi di wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan.

“Dari data tersebut, sumber api dinilai memang berasal dari wilayah Barsel, lalu asapnya menyebar ke daerah lain yang titik panasnya sedikit atau tidak ada sama sekali,” ujarnya.

Sementara kecepatan angin di Barito Selatan juga tidak signifikan, yakni 2–5 knot atau sekitar 1,8–9,3 kilometer per jam. Dengan angin selemah itu, asap yang menyelimuti Barsel tidak dapat dikaitkan dengan kiriman dari wilayah lain.

“Berdasarkan rangkaian data tersebut, bisa disimpulkan bahwa faktor utama kebakaran hutan dan lahan di Barito Selatan adalah banyaknya titik api yang terkonsentrasi di wilayah kita sendiri,” sebut dia.

Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Jumat (9/10/2026) pukul 07.00 WIB untuk wilayah Kabupaten Barito Selatan, konsentrasi partikulat PM10 atau partikel dengan diameter hingga 10 mikrometer tercatat mencapai 1000 µg/m3. Sedangkan konsentrasi PM2.5 atau partikel udara yang berukuran sangat kecil, yaitu 2,5 mikrometer atau kurang, tercatat mencapai 659 µg/m3.

Tingginya nilai ISPU tersebut menunjukkan kualitas udara berada pada level Berbahaya atau melebihi ambang batas yakni 300 µg/m3.

Dengan kondisi ini, lebih lanjut Agus In’yulius mengimbau semua pihak termasuk masyarakat agar bersama-sama proaktif mencegah meluasnya karhutla serta meningkatkan kewaspadaan dan menjaga lingkungan sekitar dari aktivitas yang berpotensi menyebabkan karhutla.

Ditegaskannya, pencegahan kebakaran lahan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi juga memerlukan peran aktif dan kesadaran semua pihak termasuk masyarakat.

"Kami mengimbau warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di lingkungan sekitar,” ujar Agus.

Untuk mengantisipasi terus meningkatkan karhutla, ia meminta semua pihak mewaspadai ancaman kebakaran di lahan gambut. Sebab, karhutla sering terjadi akibat kelalaian manusia. Hal itu diketahui lantaran kejadian Karhutla kerap berulang di lokasi yang sama.

"Tidak hanya kelalaian, sebagian juga akibat unsur kesengajaan menjadi penyebab karhutla. Oleh karena itu, khususnya yang beraktivitas di sekitar kawasan gambut untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran lahan dan hutan. Apalagi cuaca sangat kering saat ini," demikian Agus.

Baca juga: BNPB laksanakan operasi modifikasi cuaca di langit Barito Selatan

Baca juga: TRC BPBD Barito Selatan berhasil temukan dua orang hilang di Talio

Baca juga: Belanja daerah pada APBD Perubahan 2026 Barito Selatan Rp1,188 triliun

Pewarta : Bayu Ilmiawan
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.