Benarkah begadang bisa menyebabkan darah tinggi? Ini penjelasannya
Jakarta (ANTARA) - Kebiasaan sering begadang atau kurang tidur dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi (hipertensi). Meski bukan menjadi satu-satunya penyebab, kurang tidur yang terjadi secara berulang dapat memengaruhi kesehatan tubuh.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur yang berlangsung dalam jangka panjang dapat mengganggu sistem pengaturan tekanan darah serta meningkatkan risiko hipertensi dan berbagai penyakit kardiovaskular.
Menurut organisasi kesehatan dan para ahli jantung, orang dewasa idealnya tidur selama 7–9 jam setiap malam. Saat tidur, tekanan darah secara alami akan menurun sebagai bagian dari proses pemulihan tubuh.
Namun, ketika seseorang sering begadang atau mengalami kurang tidur, mekanisme tersebut terganggu sehingga tekanan darah cenderung tetap tinggi.
Baca juga: Dokter ahli jelaskan penyebab tekanan darah tinggi pada anak
Baca juga: Ahli Gizi ungkap minuman pagi terbaik bagi penderita kolesterol tinggi
American Heart Association (AHA) dalam pernyataan ilmiahnya pada 2025 menyebutkan durasi tidur yang kurang dari tujuh jam per malam berkaitan dengan meningkatnya risiko hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan metabolisme. Selain durasi, kualitas dan keteraturan waktu tidur juga berpengaruh terhadap kesehatan jantung.
Kurang tidur dapat memicu peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik, yaitu sistem yang mengatur respons tubuh terhadap stres. Kondisi ini menyebabkan detak jantung meningkat, pembuluh darah menyempit, dan hormon stres seperti kortisol meningkat sehingga tekanan darah menjadi lebih tinggi.
Selain itu, begadang yang dilakukan dalam jangka panjang juga dapat memicu peradangan kronis, resistensi insulin, hingga peningkatan berat badan. Faktor-faktor tersebut diketahui menjadi pemicu berkembangnya hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
Penelitian yang dipublikasikan American Heart Association juga menemukan bahwa orang dengan jadwal tidur yang tidak teratur memiliki risiko lebih besar mengalami tekanan darah tinggi dibandingkan mereka yang memiliki pola tidur konsisten.
Bahkan, orang yang rata-rata tidur kurang dari enam jam setiap malam memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidur sesuai rekomendasi.
Baca juga: Pakar gizi bagikan pola makan tinggi protein untuk kontrol gula darah
Baca juga: Lima penyakit yang harus menghindari asupan garam
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah mencapai atau melebihi 140/90 mmHg secara menetap.
Penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga dikenal sebagai "silent killer" dan menjadi salah satu penyebab utama penyakit jantung, stroke, serta gagal ginjal di dunia.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa hipertensi tidak hanya dipengaruhi oleh kebiasaan begadang. Faktor lain seperti usia, riwayat keluarga, konsumsi garam berlebihan, obesitas, kurang aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, stres berkepanjangan, hingga penyakit tertentu juga berperan dalam meningkatkan tekanan darah.
Karena itu, menjaga pola tidur yang sehat menjadi salah satu langkah penting untuk menurunkan risiko hipertensi. Selain tidur cukup selama 7-9 jam setiap malam, masyarakat juga dianjurkan menjaga waktu tidur yang teratur, mengurangi konsumsi kafein pada malam hari, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi asupan garam, serta memeriksa tekanan darah secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko hipertensi.
Dengan demikian, anggapan bahwa sering begadang dapat menyebabkan darah tinggi bukan sekadar mitos. Berdasarkan bukti ilmiah, kebiasaan kurang tidur memang dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi, terutama jika berlangsung terus-menerus dan disertai gaya hidup yang tidak sehat.
Namun, hipertensi merupakan penyakit multifaktor sehingga pencegahannya perlu dilakukan melalui penerapan pola hidup sehat secara menyeluruh.
Baca juga: Faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko hipertensi pada usia muda
Baca juga: Hipertensi yang tidak terkontrol bisa memicu komplikasi
Baca juga: Kacang-kacangan dan kedelai bantu lawan hipertensi sampai 30 persen
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.