Belajar dari Spanyol, Bekas Tambang Raksasa Disulap Jadi Danau

Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto menyoroti persoalan tambang ilegal dalam pidatonya di Sidang Tahunan MPR RI, Jumat (14/8/2026). Salah satu yang disinggung adalah penertiban sekitar 1.000 tambang ilegal di Bangka.

Penutupan tambang memang menghentikan aktivitas pertambangan. Namun, ada persoalan lain yang tak kalah penting setelahnya, bagaimana memulihkan lahan yang telanjur rusak akibat aktivitas tambang?

Lubang tambang dapat mengubah bentang alam secara permanen. Jika dibiarkan begitu saja, cekungan bekas tambang juga berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, mulai dari kualitas air hingga kestabilan lahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengalaman sebuah bekas tambang batu bara di Spanyol menunjukkan bahwa pemulihan lahan tambang bahkan dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun. Di Galicia, sebuah lubang raksasa bekas tambang lignit As Pontes direhabilitasi menjadi danau buatan dengan volume air mencapai 547 miliar liter.

Setelah aktivitas pertambangan dihentikan pada 2007, kawasan tersebut mulai diisi air pada 2008. Empat tahun kemudian, proses pengisian selesai dan bekas lubang tambang itu berubah menjadi Danau As Pontes, salah satu danau buatan terbesar di Spanyol. Danau yang terbentuk memiliki luas sekitar 865 hektare, panjang sekitar 5 kilometer, lebar sekitar 2 kilometer dan kedalaman maksimum lebih dari 200 meter.

Namun, mengubah lubang tambang menjadi danau ternyata tidak sesederhana membiarkannya terisi air. Seperti dikutip dari Times of India, proyek tersebut membutuhkan rekayasa lingkungan dan pemantauan kualitas air. Bahkan setelah menjadi danau, air As Pontes membentuk lapisan-lapisan dengan karakteristik kimia berbeda.

Danau As Pontes di Spanyol dulunya bekas tambang.Danau As Pontes di Spanyol dulunya bekas tambang. Foto: TripAdvisor

Ada Dua Lapisan Air

Besarnya cekungan membuat proses rehabilitasi tidak cukup hanya dengan memasukkan air. Para ahli harus memperhitungkan sumber air, kualitasnya, interaksi air dengan batuan bekas tambang, hingga perubahan kimia yang terjadi setelah kawasan tersebut terendam.

Hasil penelitian kemudian menemukan fenomena menarik. Air Danau As Pontes ternyata tidak sepenuhnya bercampur menjadi satu massa air homogen, tetapi membentuk dua lapisan dengan karakteristik kimia berbeda.

Lapisan atas relatif kaya oksigen dan hanya sedikit asam sehingga lebih menyerupai danau air tawar. Sementara lapisan yang lebih dalam memiliki kandungan oksigen sangat rendah dan tingkat keasaman lebih tinggi.

Keduanya dipisahkan oleh zona yang disebut kemoklin atau chemocline. Fenomena tersebut berkaitan dengan perbedaan sumber air, temperatur, kandungan mineral, dan densitas. Air dengan massa jenis berbeda dapat membentuk lapisan yang sulit bercampur.

Hal ini menjadi salah satu pelajaran penting dari rehabilitasi bekas tambang. Lubang tambang yang kemudian dipenuhi air tidak otomatis berubah menjadi danau yang aman.

Material geologi yang sebelumnya terbuka akibat pertambangan akan bersentuhan dengan air. Interaksi tersebut dapat mengubah kondisi kimia air. Pada beberapa bekas tambang, misalnya, oksidasi mineral yang mengandung sulfur dapat menghasilkan air bersifat asam. Logam tertentu juga dapat larut ke dalam air.

Kondisi setiap bekas tambang berbeda tergantung jenis batuan, mineral, air tanah, curah hujan, jenis komoditas yang ditambang, dan karakter lingkungan di sekitarnya. Karena itu, pengalaman As Pontes tidak berarti lubang bekas tambang di Indonesia bisa begitu saja diubah menjadi danau dengan cara yang sama.

Justru, proyek tersebut menunjukkan betapa kompleksnya pekerjaan yang dimulai setelah sebuah tambang berhenti beroperasi. Rehabilitasi As Pontes juga tidak berhenti pada lubang tambangnya.

Kawasan di sekeliling danau dipulihkan menjadi berbagai habitat, termasuk padang rumput, semak, hutan, dan lahan basah. Berbagai jenis satwa kemudian kembali memanfaatkan kawasan tersebut.

Fasilitas rekreasi seperti pantai dan jalur alam juga dibangun. Area yang sebelumnya menjadi lokasi industri pertambangan kemudian dapat digunakan untuk aktivitas seperti kayak dan kano.

Transformasi tersebut memperlihatkan bahwa bentang alam yang rusak akibat pertambangan masih mungkin mendapatkan fungsi baru. Namun, prosesnya membutuhkan perencanaan jangka panjang, rekayasa lingkungan, serta pemantauan kondisi air dan ekosistem.

Karena itu, ketika pemerintah menertibkan tambang ilegal, persoalannya tidak berhenti pada penghentian aktivitas pertambangan. Ada warisan lingkungan yang juga harus ditangani.

Bekas tambang dapat meninggalkan lubang, perubahan sistem air, material batuan terbuka, hingga bentang alam yang berbeda dari kondisi sebelumnya. Pengalaman As Pontes menunjukkan satu kemungkinan ekstrem tentang bagaimana lahan bekas tambang dapat direhabilitasi dan diberikan fungsi baru.

(rns/rns)

TAGS

LIHAT LAINNYA