Badai Simon dan Rachel Terjang Meksiko, 5 Orang Tewas
Liputan6.com, Mexico City - Sedikitnya lima orang tewas akibat terjangan Badai Simon dan Badai Tropis Rachel di pesisir Pasifik Meksiko. Bencana tersebut memicu banjir yang merobohkan pohon dan tiang listrik, memutus akses jalan, serta merendam rumah-rumah warga.
Dikutip dari The Guardian, Selasa (13/10/2026), gubernur negara bagian Guerrero, Evelyn Salgado, mengatakan Badai Simon menewaskan seorang pria berusia 71 tahun setelah sebuah tembok runtuh di Chilpancingo, wilayah selatan Meksiko.
Dalam konferensi pers, Salgado juga menyebut badai tersebut merusak infrastruktur dan rumah-rumah di sejumlah kota pesisir, termasuk Acapulco, salah satu pelabuhan utama di negara bagian itu.
Sementara itu, Badai Tropis Rachel dikaitkan dengan kematian empat anggota satu keluarga, termasuk dua anak-anak. Kantor Kejaksaan Baja California melaporkan, jenazah mereka ditemukan di pinggiran Kota Ensenada.
Lima orang lainnya masih dinyatakan hilang. Sementara itu, aparat keamanan menggunakan helikopter untuk menyelamatkan 32 orang, menurut keterangan kejaksaan. Gubernur Baja California, Marina del Pilar, mengatakan pihak berwenang juga memberikan bantuan kepada lebih dari 50 orang yang berada di tempat penampungan sementara.
Pihak berwenang menyatakan Simon tidak mencapai daratan dan telah melemah menjadi badai kategori dua dalam skala Saffir-Simpson yang memiliki lima kategori. Badai tersebut kini bergerak menjauhi pesisir, meski peringatan hujan masih diberlakukan.
Pusat Badai Nasional di Miami memperingatkan, hujan lebat yang berkaitan dengan Simon di wilayah barat-tengah Meksiko selama beberapa hari ke depan masih berpotensi memicu banjir dan tanah longsor yang mengancam jiwa.
Pejabat juga memperingatkan gelombang laut setinggi lima meter masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah pesisir. Banjir dan tanah longsor telah melanda komunitas yang berada di dekat sungai dan aliran air di negara bagian Michoacan dan Colima.
Fenomena El Nino, yang ditandai dengan kenaikan suhu air di Samudra Pasifik, turut memperkuat intensitas badai selama musim ini di kawasan tersebut.
Para ahli meteorologi menyebut fenomena El Nino 2026–2027, yang memicu perubahan pola angin dan curah hujan secara global serta kondisi cuaca yang tidak menentu, dipastikan menjadi yang terbesar yang pernah tercatat.
Para ilmuwan kini juga menilai pemanasan global akibat aktivitas manusia membuat fenomena El Nino menjadi semakin intens.