Babel percepat swasembada kurangi ketergantungan pasokan beras luar - ANTARA News Bangka Belitung

Pangkalpinang (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melakukan percepatan program swasembada pangan, guna mengurangi ketergantungan pasokan beras dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah itu.

"Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan beras masyarakat masih mengandalkan pasokan beras dari Jakarta dan Sumatera Selatan," kata Kepala DPKP Provinsi Kepulauan Babel Kurniawan di Pangkalpinang, Sabtu.

Ia mengatakan produksi beras petani Kepulauan Bangka Belitung hanya 38.117 ton atau 32,55 persen dari total kebutuhan beras tahun 2026 sebanyak 117.106 ton. Artinya, sekitar 67,45 persen atau setara 78.989 ton kebutuhan beras masyarakat di Kepulauan Babel masih harus dipasok dari luar daerah.

"Saat ini, kita masih sangat bergantung pada pasokan luar daerah, sehingga diperlukan percepatan swasembada melalui upaya ekstensifikasi atau perluasan lahan panen dan peningkatan produktivitas, guna mengurangi ketergantungan tersebut secara bertahap," katanya.

Ia menyatakan dalam meningkatkan produksi beras lokal itu, DPKP Kepulauan Babel telah menyiapkan strategi yaitu peningkatan produksi, produktivitas dan nilai tambah produk pertanian melalui penggunaan benih bermutu, seperti penyediaan bantuan benih unggul dan pengawasan sertifikasi mutu benih.

Selain itu, peningkatan ketersediaan infrastruktur pertanian, peningkatan kualitas SDM pertanian dan pencegahan dan pengendalian alih fungsi lahan untuk menjaga keberlanjutan lahan pertanian di daerah itu.

"Dalam percepatan produksi beras lokal ini terdapat tantangan-tantangan yang perlu diatasi seperti menurunnya lahan pertanian produktif, akibat alih fungsi lahan yang terus terjadi di berbagai daerah," katanya.

Selain itu, tantangan keterbatasan SDM bidang pertanian, baik dari sisi jumlah maupun kapasitas petani dan tenaga penyuluh serta dampak perubahan cuaca dan iklim, yang memengaruhi pola tanam, produktivitas, dan risiko gagal panen," kata Suryanto.

Pewarta: Aprionis
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.