Asian Games: Indonesia Kirim 430 Atlet di Tengah Hantaman Erupsi dan Banjir Nagoya

Jumlah tersebut merupakan hasil penyesuaian akhir dalam proses Delegation Registration Meeting (DRM) dari yang sebelumnya tercatat sebanyak 432 atlet.

"Kontingen Indonesia juga dibantu oleh 145 ofisial serta 78 tenaga pendukung yang terdiri dari dokter, masseur, fisioterapis, hingga tim Head Quarter," kata Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia, Todotua Pasaribu, dalam acara Pengukuhan Kontingen Indonesia di Wisma Serba Guna, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Selain itu, Todotua juga memastikan bahwa pihak CdM bersama KOI akan memberikan pengawalan penuh dari aspek non-teknis agar fokus para atlet tidak terganggu selama bertanding di Negeri Sakura.

"Kami akan selalu memastikan bahwa kebutuhan akomodasi, transportasi, layanan pendukung, kebutuhan atlet dapat berjalan dengan baik melalui koordinasi dengan masing-masing cabang olahraga," jelasnya.

Kontingen Asian Games Lolos dari Erupsi Gunung Hingga Diterjang Banjir Nagoya

Perjalanan awal kontingen Indonesia menuju Jepang diwarnai berbagai tantangan tak terduga. Beberapa cabor, seperti tim bola basket dan anggar, telah berangkat lebih awal sejak Senin (7/9/2026).

Baca Juga: Asian Games: Resmi Dikukuhkan, Kontingen Indonesia Bakal Dilepas Prabowo sebelum ke Jepang

Bahkan, mereka harus memutar otak mengambil jalur darat ke Surabaya akibat imbas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berdampak pada penerbangan di Jakarta.

Tak berhenti di situ, sesampainya di Jepang, kabar banjir bandang yang menerjang Kota Nagoya kembali menguji kesiapan panitia dan kontingen.

Menanggapi rentetan kendala alam tersebut, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, menegaskan bahwa jadwal keberangkatan atlet lainnya akan terus berjalan secara bertahap pascapelepasan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Pria yang akrab disapa Okto itu menyebut seluruh perubahan skema penerbangan dilakukan secara adaptif dan mengutamakan kesepakatan bersama demi kenyamanan atlet.

"Skemanya menyesuaikan, memaksimalkan menyesuaikan keadaan. Kemarin pada saat mau berangkat ternyata airport-nya ditutup, kita cari solusi yang dikomunikasikan juga dengan para atlet dan ofisial," jelas Okto dalam kesempatan yang sama.

"Kalau mereka setuju, kita laksanakan. Karena yang paling utama kan memastikan pelayanan terhadap para atlet."

Lebih lanjut, Okto membakar semangat para pejuang Merah Putih agar tak runtuh mental menghadapi situasi darurat bencana, baik yang terjadi di Tanah Air maupun di lokasi pertandingan.

"Bukan hanya di Nagoya yang banjir. Ada kebakaran di Kalimantan, banjir di Sumatra, gunung erupsi di beberapa titik di Indonesia. Semua ini akan menjadi tantangan, dan insyaallah jawabannya nanti prestasi olahraga Indonesia," tegas Okto.

Ia berharap badai dan tantangan bencana yang sedang melanda justru menjadi pemicu motivasi bagi para atlet untuk pulang membawa medali tertinggi bagi rakyat Indonesia.

"Kami menyampaikan kepada para atlet bahwa semua tantangan ini harus dijawab dengan prestasi. Semoga bisa menjadi penguatan spirit dari semangat masyarakat Indonesia. Kita bangsa besar, kita tidak mungkin jadi kecil cuma karena tantangan-tantangan ini. Jawabannya harus menang," katanya.