AS Genjot Energi Nuklir, Bill Gates dan Warren Buffett Dukung Reaktor Natrium
Bagikan:
JAKARTA – Amerika Serikat kembali menggenjot pengembangan energi nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus tumbuh. Di Kemmerer, Wyoming, reaktor generasi baru Natrium yang didukung Bill Gates dan Warren Buffett sedang dibangun dengan bantuan pembayar pajak sebesar 2 miliar dolar AS.
USA TODAY dikutip Senin, 10 Agustus, menyebut proyek milik TerraPower itu menjadi bagian penting dari dorongan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membangun puluhan reaktor nuklir baru. Listriknya antara lain ditujukan untuk pusat data dan industri yang membutuhkan pasokan energi besar.
Natrium ditargetkan mulai menghasilkan listrik dalam empat tahun ke depan. Reaktor skala kecil itu dirancang agar dapat dibangun dan mulai beroperasi lebih cepat dibanding pembangkit nuklir konvensional yang berukuran sekitar dua kali lebih besar.
Proyek tersebut dibangun sekitar 8 kilometer dari pusat Kemmerer, kota kecil yang selama puluhan tahun bergantung pada batu bara. Tambang di kawasan itu bisa ditutup dalam sekitar satu dekade jika tidak mendapatkan pelanggan baru.
Pembangunan Natrium telah mendatangkan banyak pekerja konstruksi ke wilayah tersebut. TerraPower memperkirakan proyek itu pada akhirnya menciptakan sekitar 1.600 pekerjaan konstruksi sementara dan hingga 300 pekerjaan permanen untuk mengoperasikan pembangkit.
BACA JUGA:
Upah pekerjaan tambang di kawasan itu relatif tinggi. Menurut Bureau of Labor Statistics, banyak pekerjaan tambang di Kemmerer membayar sekitar 40 dolar AS per jam sebelum lembur, hampir dua kali upah median seluruh pekerjaan di wilayah tersebut.
“Saya hidup dan bernapas bersama tambang batu bara itu selama 35 tahun dan saya menyukainya,” kata pekerja tambang Michelle Pollard, 61 tahun kepada USA TODAY. “Tetapi kita harus berubah mengikuti zaman dan saya senang mereka memilih Kemmerer.”
Dorongan nuklir AS tidak hanya terlihat di Wyoming. Empat reaktor nuklir uji skala kecil lainnya baru-baru ini menunjukkan keberhasilan di Idaho National Laboratory.
Menteri Energi AS Chris Wright menyebut langkah tersebut sebagai kebangkitan kembali tenaga nuklir Amerika. Menurut Wright, teknologi nuklir maju dibutuhkan untuk memasok energi bagi industri, memperkuat keamanan energi, dan mempertahankan posisi AS dalam inovasi nuklir.
Saat ini, sekitar 100 reaktor dari gelombang pembangunan nuklir pada 1960-an dan 1970-an masih beroperasi. Tenaga nuklir memasok sekitar 20 persen listrik Amerika Serikat.
Namun, proyek Natrium juga menghadapi kritik. Sejumlah warga mempertanyakan penggunaan uang pembayar pajak untuk proyek yang didukung miliarder. Kekhawatiran lain menyangkut keselamatan dan limbah radioaktif.
TerraPower menyatakan Natrium merupakan kemitraan publik-swasta dengan kontribusi perusahaan dan pembayar pajak yang sama besar. Menurut perusahaan, investasi tersebut diperlukan untuk membangun industri nuklir generasi baru, termasuk pasokan bahan bakar, rantai pasok, dan tenaga kerja.
Fisikawan sekaligus Direktur Keselamatan Tenaga Nuklir Union of Concerned Scientists Edwin Lyman khawatir jadwal agresif pemerintahan Trump untuk mengoperasikan reaktor baru dapat mengorbankan keselamatan dan keamanan.
Amerika Serikat belum memiliki tempat penyimpanan limbah nuklir terpusat. Karena itu, limbah radioaktif dari reaktor seperti Natrium akan tetap disimpan di lokasi pembangkit.
TerraPower menawarkan teknologi berbeda dari reaktor konvensional. Natrium menggunakan logam natrium cair untuk memindahkan panas dari uranium ke turbin uap terpisah, bukan memakai uap bertekanan tinggi di dalam reaktor.
Presiden dan CEO TerraPower Chris Levesque mengatakan kepada USA TODAY bahwa perusahaan ingin membuktikan teknologi tersebut dapat mempercepat pembangunan pembangkit tanpa mengorbankan keselamatan.
“Ini benar-benar awal dari era baru tenaga nuklir,” kata Levesque.
USA TODAY yang mengunjungi lokasi proyek pada Mei menyebut pembangunan masih berada pada tahap awal. Bangunan reaktor belum mulai dibangun dan belum ada bahan bakar nuklir di lokasi.
Pekerjaan fasilitas nonnuklir dimulai pada Juni 2024, sedangkan pekerjaan di lokasi nuklir dimulai pada April.
TerraPower tidak berencana berhenti di Wyoming. Levesque mengatakan perusahaan ingin membangun lebih dari 100 reaktor sejenis di berbagai negara.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+