Anak Makin Sering Pakai Gadget, Dokter Mata Ingatkan Risiko Miopia yang Terus Bertambah
Bagikan:
JAKARTA – Anak-anak yang menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar gadget kini menjadi hal yang lumrah. Tapi orang tua perlu memahami, di balik kebiasaan tersebut, dokter mata mengingatkan adanya risiko yang semakin sering ditemukan, yakni miopia atau mata minus.
Tak hanya jumlah kasusnya yang meningkat, perkembangan minus pada anak juga dinilai berlangsung lebih cepat dibandingkan beberapa tahun lalu. Kondisi ini menjadi perhatian karena miopia yang tidak dikendalikan sejak dini dapat berdampak pada kesehatan mata hingga usia dewasa.
Ketua PERDAMI Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed mengatakan, peningkatan kasus miopia semakin terlihat terutama setelah pandemi COVID-19, ketika aktivitas anak lebih banyak dilakukan di dalam rumah.
"Kalau kita lihat apalagi setelah pandemi, angka kejadian miopia itu makin meningkat, selain meningkat juga progresivitasnya atau penambahan minus dari tahun ke tahunnya itu juga cukup banyak, cukup pesat," ujarnya saat ditemui di Indonesia Meet The Expert 2026 (Konferensi Myopia Summit 2026) di Jakarta.
Menurutnya, faktor keturunan memang berperan, tetapi kini faktor lingkungan juga menjadi penyebab yang tidak bisa diabaikan. Kebiasaan menggunakan gadget dalam waktu lama, tingginya screen time, serta minimnya aktivitas di luar ruangan diduga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus miopia pada anak.
"Sebenarnya sinar matahari itu penting sekali untuk menahan atau mencegah myopia dan menahan progresivitasnya," kata dr. Julie.
Karena itu, ia menyarankan anak tetap memiliki waktu bermain di luar ruangan setidaknya dua jam setiap hari agar mendapatkan paparan cahaya alami yang cukup.
Sayangnya banyak kasus baru diketahui ketika minus anak sudah cukup tinggi. Tidak sedikit orang tua baru membawa anak ke dokter mata setelah mendapat laporan dari guru karena kesulitan melihat tulisan di papan tulis.
Menurut dr. Julie, ada sejumlah tanda yang sebenarnya dapat dikenali lebih awal di rumah. Misalnya, anak sering memicingkan mata saat melihat benda jauh, memiringkan kepala ketika melihat sesuatu, atau selalu mendekat ke televisi maupun layar.
"Jadi itu yang sering kali tidak disadari oleh orang tua, sehingga barulah ke dokter setelah masuk sekolah dengan ukuran yang sudah lumayan," jelasnya.
Semakin dini miopia muncul, semakin panjang pula waktu perkembangan minus yang dapat dialami anak. Hal ini membuat risiko memiliki minus tinggi ketika dewasa menjadi lebih besar.
Selain mengurangi screen time, dr. Julie mengingatkan pentingnya menerapkan kebiasaan sehat saat menggunakan perangkat digital.
Salah satunya dengan menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setelah menatap layar selama 20 menit, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 feet atau sekitar enam meter.
BACA JUGA:

Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi ketegangan mata akibat penggunaan layar dalam waktu lama.
Untuk anak yang sudah mengalami miopia, penanganan tidak berhenti pada penggunaan kacamata biasa. Saat ini terdapat berbagai pendekatan untuk memperlambat progresivitas minus, mulai dari perubahan gaya hidup, penggunaan obat tetes atropin dosis rendah berdasarkan rekomendasi dokter, hingga perkembangan teknologi lensa yang dirancang khusus untuk membantu mengendalikan pertambahan minus.
"Bukan berarti lensa ini menahan sama sekali tidak bertambah, dia bertambah tapi dibandingkan tanpa lensa ini, diharapkan dengan lensa ini lebih kecil penambahannya," ujarnya.
Banyak orang menganggap bertambahnya minus merupakan hal yang biasa. Menurut dr. Julie, memang secara alami ukuran minus dapat berubah seiring pertumbuhan anak, tetapi tetap ada batas yang perlu diawasi.
"Ya mungkin secara kasar kita bisa bilang setahun jangan lebih dari setengah. Sebisa mungkin kita menekan itu di bawah setengah," katanya.
Ia menjelaskan, miopia terjadi karena bola mata memanjang. Jika kondisi tersebut terus berlanjut hingga mencapai derajat tinggi, jaringan penting di bagian belakang mata, termasuk retina, dapat ikut tertarik dan menipis.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berisiko menyebabkan komplikasi serius yang dikenal sebagai pathological myopia dan dapat mengganggu fungsi penglihatan, bahkan meningkatkan risiko kebutaan.
Di kesempata yang sama, dr. Julie juga meluruskan anggapan atau mitos yang beredar yang katanya rutin mengonsumsi wortel dapat mengurangi mata minus.
Wortel memang mengandung nutrisi yang dibutuhkan sel-sel retina agar berfungsi optimal dalam menangkap cahaya. Namun, manfaat tersebut tidak berpengaruh langsung terhadap ukuran minus seseorang.
Dengan kata lain, menjaga kesehatan mata tidak cukup hanya dengan mengandalkan asupan makanan tertentu. Beberapa langkah pun perlu dilakukan, mulai dari membatasi penggunaan gadget, memperbanyak aktivitas di luar ruangan, melakukan pemeriksaan mata secara rutin, dan menangani miopia sejak dini tetap menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas penglihatan anak hingga dewasa.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+