Ada "Mooncake Festival 2026" di kawasan Pecinan Semarang
Ada "Mooncake Festival 2026" di kawasan Pecinan Semarang
Jumat, 25 September 2026 21:35 WIB
Pembukaan "Mooncake Festival 2026" di kawasan Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, Kamis (25/9/2026). (ANTARA/HO-Pribadi)
Semarang (ANTARA) - "Mooncake Festival 2026" yang berlangsung di kawasan Kelenteng Tay Kak Sie Semarang, 23-27 September 2026 menjadi momentum untuk menghidupkan kawasan Pecinan Semarang sebagai ruang budaya yang tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Ketua Panitia Mooncake Festival 2026 yang juga Ketua Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie Tanto Hermawan, di Semarang, Jumat, mengatakan festival tersebut adalah warisan turun-temurun.
"Kue bulan yang berbentuk bulat melambangkan keutuhan dan persatuan, semangat yang kami harapkan dapat terus kami jaga dalam kerukunan, keharmonisan, dan kebersamaan," katanya.
Menurut dia, "Mooncake Festival 2026" diselenggarakan atas gotong royong Sahabat Tionghoa Kota Semarang dan tanpa menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Ia menjelaskan kegiatan budaya itu juga mempertemukan seni, kuliner, sejarah, teknologi, dan masyarakat dari berbagai latar belakang di kawasan Pecinan.
Dalam "Mooncake Festival 2026", ada pertunjukan imersif yang mengangkat sejarah dan sosok Laksamana Cheng Ho yang dimaksudkan mengenalkan sosoknya kepada generasi muda.
Kebersamaan masyarakat juga tercermin dalam Jamuan Makan Tok Panjang, salah satu rangkaian Mooncake Festival 2026 yang diadakan di Kelenteng See Hoo Kiong.
Tradisi tersebut mempertemukan masyarakat, perwakilan kelenteng, dan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Semarang dalam satu meja.
Rangkaian "Mooncake Festival 2026" menghadirkan beragam kegiatan, di antaranya kirab budaya, Heritage Food Festival 2026 yang melibatkan 75 gerai UMKM di kawasan Gang Warung, serta pertunjukan seni dan budaya yang melibatkan berbagai komunitas.
Sementara itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan bahwa "Mooncake Festival 2026" menjadi ruang perjumpaan budaya yang menunjukkan bagaimana tradisi Tionghoa telah menjadi bagian dari kehidupan Kota Semarang.
"Perayaan ini tidak hanya menghadirkan tradisi, tetapi juga mempertemukan seni, kuliner, sejarah, teknologi, dan masyarakat dari berbagai latar belakang di kawasan Pecinan," katanya.
Menurut dia, keberagaman yang tumbuh di Semarang merupakan bagian dari perjalanan kota yang terus bergerak dari masa lalu menuju masa kini dan masa depan.
Ia mengingatkan keberagaman itu perlu dirawat melalui kebersamaan dan gotong royong, salah satunya lewat "Mooncake Festival 2026" yang sebelumnya dirayakan terpisah oleh berbagai kelompok masyarakat Tionghoa, tetapi kini dirayakan bersama.
Ia menilai Pecinan tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga memiliki potensi untuk terus berkembang sebagai destinasi wisata budaya, di antaranya melalui penataan kawasan Gang Baru dan pengembangan Pasar Semawis.
Pengembangan kawasan, kata dia, perlu dilakukan dengan tetap menjaga karakter dan kehidupan masyarakat yang telah menjadi bagian dari Pecinan.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.