96,68 Persen Merchant QRIS Berasal dari UMKM, Ini Datanya
Menariknya, sebagian besar merchant tersebut berasal dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sebanyak 96,68% merchant QRIS tercatat merupakan UMKM, menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran tidak hanya berkembang di pusat perdagangan modern, tetapi juga menjangkau pelaku usaha skala kecil.
Baca Juga: QRIS Sudah Dipakai 44,86 Juta Merchant, Bank Indonesia Bidik Digitalisasi UMKM
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, perkembangan tersebut menjadi bagian penting dalam transformasi perdagangan nasional.
“Kita melihat sistem pembayaran QRIS itu sudah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant, dengan 96,68 persen adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” kata Airlangga dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurut Airlangga, meluasnya penggunaan QRIS dapat mendukung terbentuknya ekosistem perdagangan yang lebih efisien dan inklusif.
“Tentu kita mendorong perdagangan yang lebih modern, komprehensif, struktural, dan adaptif,” ujarnya.
Besarnya porsi UMKM dalam ekosistem QRIS menjadi salah satu indikator penting dalam perkembangan pembayaran digital di Indonesia.
Dengan 96,68% merchant QRIS berasal dari UMKM, penggunaan pembayaran digital kini semakin dekat dengan aktivitas ekonomi sehari-hari masyarakat, mulai dari transaksi di usaha mikro hingga kegiatan perdagangan yang lebih besar.
Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa digitalisasi sistem pembayaran tidak hanya berkaitan dengan kemudahan konsumen dalam melakukan transaksi.
Bagi pelaku usaha, pembayaran digital menjadi bagian dari ekosistem perdagangan yang menghubungkan konsumen dengan merchant secara lebih cepat.
Airlangga mengatakan penguatan digitalisasi tersebut sejalan dengan upaya pemerintah membangun perdagangan domestik yang semakin modern.
“Perkembangan digitalisasi tersebut menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun ekosistem perdagangan yang semakin efisien dan inklusif,” kata Airlangga.
Baca Juga: BI: Transaksi QRIS Tumbuh 82 Persen, Uang Tunai Tetap Jadi Andalan
Perkembangan pembayaran digital berlangsung ketika konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu komponen utama perekonomian Indonesia.
Pada triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Komponen tersebut juga memberikan kontribusi sebesar 53,32% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Airlangga mengatakan penguatan perdagangan domestik tidak dapat dilepaskan dari peran konsumsi masyarakat terhadap perekonomian nasional.
“Penguatan perdagangan domestik juga sejalan dengan peran konsumsi sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Dari sisi keyakinan masyarakat, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia pada Juli 2026 berada di level 116,8. Angka tersebut masih berada di atas level 100 yang menjadi batas antara zona optimistis dan pesimistis.
Data tersebut menunjukkan aktivitas konsumsi domestik masih ditopang oleh tingkat keyakinan konsumen yang berada di zona optimistis.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto mengatakan, perkembangan perdagangan digital perlu dilihat sebagai bagian dari perubahan ekosistem usaha secara keseluruhan.
“Transformasi perdagangan tidak hanya berbicara mengenai peningkatan aktivitas belanja, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang menghubungkan konsumen, pelaku usaha, produsen dalam negeri, hingga sistem pembayaran dan distribusi,” kata Haryo.
Menurut Haryo, keterhubungan antara konsumen, pelaku usaha, produsen, sistem pembayaran, dan distribusi menjadi bagian penting dalam pengembangan perdagangan domestik.
“Dengan ekosistem yang semakin terintegrasi, potensi wisata belanja dan konsumsi domestik dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujarnya.
Dengan demikian, perkembangan QRIS tidak hanya dapat dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna dan merchant. Besarnya jumlah merchant UMKM menunjukkan bahwa pembayaran digital semakin terintegrasi dengan aktivitas perdagangan masyarakat.
Perkembangan tersebut juga berlangsung ketika konsumsi rumah tangga masih memberikan kontribusi lebih dari separuh terhadap PDB.
Integrasi antara sistem pembayaran, UMKM, konsumen, produsen, dan distribusi menjadi salah satu aspek yang akan menentukan seberapa jauh digitalisasi dapat mendukung perdagangan domestik.