7 Aturan Keuangan Adrian Maulana untuk Kelola Gaji dan Investasi - Keuangan Katadata.co.id
Aktor sekaligus praktisi keuangan, Adrian Maulana, membagikan tujuh aturan keuangan yang dapat menjadi panduan bagi masyarakat dalam mengelola gaji, mempersiapkan masa depan, dan membangun investasi.
Aturan tersebut mencakup pembagian penghasilan bulanan, penyiapan dana darurat, pengelolaan biaya tempat tinggal dan kendaraan, hingga waktu yang dibutuhkan untuk menggandakan nilai investasi.
Melalui unggahan video di akun Instagram @adrianmaulana pada 13 Juli lalu, Adrian menjelaskan bahwa pengelolaan keuangan yang sehat perlu dimulai dengan membangun fondasi keuangan sebelum seseorang berinvestasi.
Ia menekankan pentingnya mengatur pengeluaran, menyisihkan penghasilan, dan memastikan kondisi keuangan tetap aman sebelum mengejar imbal hasil investasi. “Kalau saya bisa kembali ke usia 20-an, saya akan praktikkan 7 aturan keuangan ini,” kata Adrian, dikutip Senin (12/10).
Aturan pertama yang Adrian sarankan adalah aturan 50-30-20, yakni membagi penghasilan menjadi tiga pos utama. Seseorang perlu mengalokasikan 50% penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, 30% untuk memenuhi keinginan, dan 20% untuk mempersiapkan masa depan. “Intinya, sisihkan dulu, baru belanjakan,” ujarnya.
Aturan kedua berkaitan dengan aturan 4% untuk dana pensiun. Adrian menggunakan ilustrasi seseorang yang memiliki dana pensiun Rp 1 miliar. Dengan menarik 4% dari dana tersebut setiap tahun, orang itu dapat menggunakan sekitar Rp 40 juta per tahun atau Rp 3,3 juta per bulan.
Jika dana yang tersedia dirasa belum mampu menopang kebutuhan sehari-hari, seseorang perlu mempertimbangkan untuk menunda pensiun sembari membangun bisnis atau sumber penghasilan pasif.
“Rp 3,3 juta per bulan cukup nggak? Kalau dirasakan nggak cukup, jangan pensiun dulu. Buruan bangun bisnis atau passive income,” kata Adrian.
Aturan ketiga adalah menyiapkan dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran. Dana tersebut berfungsi sebagai penyangga keuangan ketika seseorang menghadapi kondisi tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau terhentinya penghasilan.
Aturan keempat menyangkut batas biaya tempat tinggal maksimal sepertiga penghasilan. Adrian menyarankan masyarakat menjaga pengeluaran untuk rumah agar tidak melebihi sekitar 33% dari pendapatan yang diterima.
Pembatasan tersebut bertujuan menjaga keseimbangan keuangan bulanan. Dengan mengendalikan biaya tempat tinggal, seseorang tetap memiliki ruang untuk menabung, berinvestasi, dan menikmati kehidupan tanpa menghadapi tekanan keuangan yang berlebihan.
“Untuk biaya rumah, idealnya tidak lebih dari sepertiga penghasilan kita,” ujarnya.
Aturan kelima adalah menerapkan prinsip beli satu, investasi satu. Eks finalis Abang None Jakarta ini menyarankan seseorang menyisihkan dana investasi dengan jumlah yang sama setiap kali membeli barang konsumsi sesuai kemampuannya. Sebagai contoh, seseorang yang mampu membeli gawai seharga Rp 3 juta dapat menyisihkan Rp 3 juta lagi untuk mempersiapkan masa depan.
Aturan keenam adalah aturan mobil 20-4-10. Adrian menyarankan calon pembeli mobil menyiapkan uang muka minimal 20% dari harga kendaraan, membatasi masa kredit maksimal empat tahun, serta menjaga total biaya kepemilikan mobil agar tidak melebihi 10% penghasilan bulanan.
Aturan ketujuh adalah rule of 72 atau aturan 72, yakni metode untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan agar nilai investasi berpotensi menjadi dua kali lipat berdasarkan tingkat imbal hasil tahunan.
Adrian menjelaskan bahwa seseorang dapat memperkirakan periode tersebut dengan membagi angka 72 dengan tingkat imbal hasil tahunan dalam persentase. Sebagai contoh, investasi yang menghasilkan imbal hasil 12% per tahun secara konsisten membutuhkan waktu sekitar enam tahun untuk menggandakan nilai awalnya.
“Misalnya kita bisa investasi ke instrumen yang memberikan imbal hasil 12% per tahun. Berarti 72 bagi 12 adalah enam. Artinya, uang Anda ini berpotensi menjadi dua kali lipat dalam enam tahun,” kata Adrian.
Kendati demikian, Adrian menyampaikan bahwa investasi bukan satu-satunya aspek penting dalam pengelolaan keuangan. Seseorang perlu membangun fondasi keuangan yang kuat terlebih dahulu melalui pengaturan pengeluaran, penyediaan dana darurat, dan perencanaan kebutuhan jangka panjang sebelum mengalokasikan uang ke instrumen investasi.
“Tapi terlepas dari semua aturan itu, pelajaran terpentingnya bukan investasinya. Tapi jangan berinvestasi sebelum bangun fondasi,” ujarnya.