67% Pengangguran RI Ternyata Anak Muda, Vokasi Jadi Solusi
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mempercepat program pelatihan vokasi nasional sebagai bagian dari stimulus ekonomi semester II-2026. Langkah ini dilakukan untuk menjawab tantangan tingginya angka pengangguran muda yang masih mendominasi pasar tenaga kerja Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan sekitar 67% dari total pengangguran nasional saat ini berasal dari kelompok generasi muda atau setara 4,8 juta orang. Karena itu, program pelatihan vokasi dinilai menjadi instrumen penting untuk memperkecil kesenjangan antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan industri.
"Program ini merupakan arahan Bapak Presiden yang menjadi bagian dari stimulus di semester dua di tahun 2026 yang perlu dijalankan secara efektif, tepat sasaran, dan berdampak bagi masyarakat," kata Airlangga saat membuka Program Pelatihan Vokasi Nasional Batch IV Tahun 2026 di Serang, Banten, dikutip Rabu (2/9/2026).
Airlangga menjelaskan, penguatan vokasi menjadi semakin penting seiring derasnya arus investasi yang masuk ke Indonesia. Hingga semester I-2026, realisasi investasi tercatat mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2% secara tahunan (year on year/yoy), setara 49,5% dari target tahunan.
Investasi tersebut telah menciptakan sekitar 1,4 juta lapangan kerja baru. Namun, pemerintah menilai penciptaan lapangan kerja harus diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
Di sisi lain, tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional memang telah turun menjadi 4,65%. Meski demikian, dominasi pengangguran dari kelompok usia muda menunjukkan masih adanya persoalan mismatch antara kebutuhan industri dan keterampilan pencari kerja.
Selain sektor manufaktur dan jasa, kebutuhan tenaga kerja baru juga muncul dari transformasi ekonomi digital dan transisi menuju ekonomi hijau.
Menurut Airlangga, perkembangan industri energi terbarukan akan melahirkan berbagai profesi baru yang membutuhkan keterampilan khusus, mulai dari teknisi panel surya, teknisi turbin, hingga tenaga kerja yang menguasai teknologi pertanian modern atau smart farming.
Pemerintah saat ini juga tengah mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW). Angka tersebut bahkan lebih besar dibandingkan kapasitas listrik nasional saat ini yang berada di kisaran 88 GW.
Sementara itu, kapasitas produksi panel surya dalam negeri telah mendekati 11 GW. Kondisi tersebut dinilai akan membuka peluang besar bagi tenaga kerja yang memiliki kompetensi di sektor energi baru dan terbarukan.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026 menargetkan total 340.000 peserta. Jumlah itu terdiri dari 70.000 peserta yang dibiayai melalui alokasi APBN reguler dan tambahan 270.000 peserta melalui stimulus ekonomi semester II-2026.
Hingga Agustus 2026, sebanyak 89.337 peserta telah mengikuti program pelatihan. Sementara pada Batch IV yang dilaksanakan serentak, jumlah peserta mencapai 12.128 orang.
Airlangga menegaskan target tersebut hanya dapat tercapai apabila seluruh fasilitas pelatihan dimanfaatkan secara optimal, termasuk melalui keterlibatan pemerintah daerah dan dunia usaha.
"Jadi Bapak Presiden ingin agar ini skalanya besar termasuk untuk vokasi ini, maka tentu ke depan kita harus memanfaatkan seluruh fasilitas yang dimiliki tidak hanya oleh Pemerintah pusat, Pemerintah daerah, tetapi juga kalangan industri," ujarnya.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menambahkan, program vokasi harus dirancang lebih adaptif agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan dunia kerja yang bergerak cepat akibat perkembangan teknologi.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan sektor industri menjadi kunci agar program upskilling dan reskilling tidak hanya meningkatkan keterampilan tenaga kerja, tetapi juga memastikan lulusan pelatihan dapat terserap oleh pasar kerja.
"Pelatihan vokasi perlu dirancang secara adaptif agar kompetensi yang diberikan benar-benar relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan jenis pekerjaan," kata Haryo.
Dengan target ratusan ribu peserta dan fokus pada sektor-sektor masa depan, pemerintah berharap program vokasi dapat menjadi salah satu instrumen utama untuk menekan pengangguran muda sekaligus memenuhi kebutuhan tenaga kerja di tengah derasnya investasi dan transformasi ekonomi nasional.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]