◐

25 Tim Jawa-Bali Ramaikan Kediri, Barongsai Didorong Jadi Sport Tourism |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Deru tambur, simbal, dan gerakan akrobatik barongsai memenuhi GOR Jayabaya, Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (3/10/2026). Sebanyak 25 tim dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Bali mengikuti Kejuaraan Barongsai dan Naga Wali Kota Kediri Cup 2026 yang digelar selama dua hari hingga Ahad (4/10/2026).

Kejuaraan tersebut menjadi ajang barongsai dan naga pertama yang digelar Kota Kediri dalam format kompetisi ini. Pemerintah daerah berharap kegiatan tersebut tidak hanya melahirkan atlet baru, tetapi juga menjadi pintu masuk pengembangan sport tourism dan menggerakkan ekonomi kota.

Wakil Wali Kota Kediri K.H. Qowimuddin Thoha mengatakan kepercayaan menjadi tuan rumah merupakan kebanggaan bagi Kota Kediri. Kehadiran peserta dari berbagai daerah menunjukkan barongsai berkembang semakin luas sebagai olahraga prestasi.

“Ini merupakan kebanggaan bagi Kota Kediri karena dipercaya untuk menyelenggarakan kejuaraan Barongsai dan Naga,” kata Qowimuddin di sela pertandingan.

Barongsai memang telah bergerak jauh dari sekadar seni pertunjukan. Federasi Olahraga Barongsai Indonesia atau FOBI mencatat barongsai resmi menjadi cabang olahraga prestasi setelah diterima menjadi anggota KONI Pusat pada 2013.

FOBI kini telah memiliki jaringan di 29 provinsi. Berdasarkan data keanggotaan federasi, terdapat sekitar 2.000 atlet aktif dan sekitar 500 klub barongsai, pekingsai, dan naga di Indonesia, dengan sekitar 400 klub telah terdaftar sebagai anggota FOBI.

Perkembangan tersebut membuat kompetisi seperti Wali Kota Kediri Cup mempunyai fungsi yang lebih luas. Atlet tidak hanya tampil untuk hiburan, tetapi bertanding dengan teknik, ketepatan, kekuatan fisik, koordinasi, dan standar penilaian olahraga.

“Barongsai sekarang tidak hanya sekadar seni, tetapi sudah masuk cabang olahraga. Ini menjadi kesempatan untuk mencari bibit dan mempersiapkan atlet,” ujar Qowimuddin.

Menurut dia, turnamen menjadi ruang untuk menemukan atlet potensial yang nantinya dapat dibina menghadapi kejuaraan pada tingkat lebih tinggi.

Bidik Sport Tourism

Pemerintah Kota Kediri juga melihat kejuaraan tersebut sebagai bagian dari pengembangan wisata olahraga.

Kehadiran atlet, pelatih, keluarga, pendamping, dan penonton dari berbagai daerah menciptakan pergerakan orang selama akhir pekan. Dampaknya diharapkan ikut dirasakan hotel, rumah makan, transportasi, pusat belanja, dan pelaku usaha kecil di Kota Kediri.

“Dengan adanya perlombaan ini tentu ada hal yang luar biasa bagi Kota Kediri. Akan banyak tamu yang datang dan ini penting untuk menggerakkan city tourism sekaligus ekonomi Kota Kediri,” kata Qowimuddin.

Konsep tersebut membuat arena olahraga tidak hanya dipandang sebagai tempat mencari medali. Sebuah kejuaraan dapat menjadi alasan bagi orang dari luar daerah untuk datang, tinggal, berbelanja, dan mengenal kota tempat pertandingan berlangsung.

Bagi Kota Kediri, pendekatan itu membuka peluang baru. Barongsai memiliki unsur visual dan pertunjukan yang kuat sehingga berpotensi menarik bukan hanya penggemar olahraga, tetapi juga keluarga dan masyarakat umum.

Wakil wali kota mengapresiasi FOBI, KONI Kota Kediri, pelatih, pendamping, orang tua atlet, panitia, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan turnamen tersebut.

“Untuk semua atlet, selamat bertanding. Jaga sportivitas, jaga kekompakan, dan nikmati pertandingannya,” ujarnya.

Kediri Sudah Punya Modal Prestasi

Ketua KONI Kota Kediri Eko Agus Koko mengatakan Wali Kota Kediri Cup 2026 menjadi agenda perdana cabang olahraga barongsai dengan skala peserta seperti ini di Kota Kediri.

“Untuk FOBI atau barongsai ini baru pertama diadakan di Kota Kediri. Pesertanya cukup banyak, kurang lebih 25 tim dari Jawa dan Bali,” kata Koko.

Kediri sebenarnya telah mempunyai modal prestasi. Pada Porprov IX Jawa Timur 2025, atlet barongsai Kota Kediri meraih tiga medali emas dan satu perak dari lima nomor yang diikuti. Emas diperoleh antara lain dari nomor barongsai ketangkasan, barongsai kecepatan, dan naga bebas.

Tren itu berlanjut pada Kejuaraan Provinsi 2026. Atlet barongsai Kota Kediri membawa pulang lima medali, terdiri atas tiga perak dan dua perunggu, termasuk dari nomor yang relatif baru mereka ikuti.

Rekam jejak tersebut membuat Wali Kota Kediri Cup tidak hanya berfungsi sebagai acara seremonial. Kompetisi dapat menjadi bagian dari proses mengukur hasil latihan, menemukan kekurangan atlet, sekaligus memperluas pengalaman menghadapi lawan dari daerah lain.

Koko mengatakan pembinaan akan terus dilakukan bersama FOBI Kota Kediri. Targetnya bukan hanya mempertahankan capaian, tetapi meningkatkan jumlah nomor yang mampu menghasilkan medali.

“Kami terus mempersiapkan atlet. Kalau sebelumnya mendapatkan tiga medali dengan dua nomor, ke depan kami berharap bisa meningkat menjadi empat medali,” ujarnya.

sumber : Antara