Voxstream dan ADKASI Dorong Politik Berbasis Data Menuju Pemilu 2029
Bagikan:
JAKARTA – Persaingan politik menuju Pemilu 2029 diprediksi semakin dinamis seiring perubahan perilaku pemilih, fragmentasi informasi, serta tingginya biaya politik. Kondisi tersebut mendorong partai politik dan calon anggota legislatif untuk mulai mengandalkan strategi yang lebih terukur dan berbasis data.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam audiensi antara Voxstream dan Dewan Pengurus Nasional Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) di Jakarta, Rabu (12/8).
Forum bertajuk “Politik Berbasis Bukti Menuju Pemilu 2029” tersebut mempertemukan unsur legislatif daerah, akademisi, dan pengembang platform intelijen elektoral untuk membahas penerapan pendekatan evidence-based politics atau politik berbasis bukti dalam menghadapi kontestasi Pemilu 2029.
Ketua Umum ADKASI Siswanto mengatakan, penguatan kapasitas anggota legislatif tidak lagi cukup hanya mengandalkan pengalaman lapangan. Menurutnya, pengalaman praktis perlu diperkuat dengan analisis dan kajian berbasis data agar strategi politik dapat disusun secara lebih terukur.
“Sinergi antara ADKASI dan Voxstream ini penting karena menjembatani dua sisi yang selama ini terpisah. Praktisi politik tanpa data tidak bisa menetapkan perencanaan yang terukur, sementara akademisi tanpa keterhubungan dengan praktik hanya akan berhenti pada wacana,” ujar Siswanto.
Ia mengatakan kolaborasi antara praktisi, akademisi, dan teknologi diperlukan karena tidak semua persoalan politik dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri.
Siswanto mencontohkan kondisi ketika seorang kandidat telah bekerja keras dan mengalokasikan anggaran kampanye dalam jumlah besar, tetapi hasil elektoral yang diperoleh tidak sesuai harapan. Menurut dia, persoalan tersebut dapat terjadi karena strategi yang digunakan tidak didasarkan pada pemahaman yang tepat mengenai preferensi masyarakat.
“Rakyat itu bukan memilih yang paling banyak beriklan, paling banyak modalnya, atau yang paling ribut pidatonya. Rakyat memilih yang paling mereka sukai. Di sinilah pentingnya menggabungkan pendekatan akademisi dan praktisi, supaya kita tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat, bukan apa yang kita asumsikan mereka butuhkan,” katanya.
BACA JUGA:
Politik Berbasis Data untuk Pemilu 2029
Siswanto menilai kemampuan membaca aspirasi masyarakat secara objektif merupakan bagian penting dalam menjalankan fungsi legislatif. Sebab, anggota dewan pada dasarnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Sementara itu, CEO Voxstream Wahyu Permana mengatakan platform yang dikembangkan Voxstream hadir untuk membantu membangun proses politik yang lebih terukur, terutama menghadapi karakter Pemilu 2029 yang dinilai akan berbeda dengan pemilu sebelumnya.
“Berpolitik hari ini tidak cukup dengan modal semangat dan keinginan saja. Dibutuhkan ilmu, data, dan metodologi yang tepat. Kampanye 2029 sudah harus bisa dihitung dengan data dan matematik, bukan sekadar kampanye biasa,” ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, perubahan karakter pemilih juga menjadi salah satu faktor yang membuat pendekatan berbasis data semakin penting. Ia menyebut pemilih dari kelompok Gen Z dan milenial diproyeksikan mendominasi Pemilu 2029 dengan porsi sekitar 60 hingga 70 persen dari total pemilih.
Kelompok pemilih yang sangat terpapar informasi digital tersebut dinilai akan membawa perubahan terhadap lanskap kompetisi elektoral. Karena itu, strategi politik dinilai perlu disusun secara lebih presisi berdasarkan karakter dan kebutuhan pemilih di setiap wilayah.
Voxstream Integrasikan Data Pemilu
Wahyu menjelaskan, platform Voxstream mengolah berbagai indikator secara terintegrasi. Data yang digunakan antara lain rekam jejak perolehan suara dari KPU, data pengawasan pemilu dari Bawaslu, indikator sosial-ekonomi dari BPS, serta dinamika isu di media dan media sosial.
Analisis tersebut kemudian disajikan dalam tiga tingkatan, yakni kandidat, partai politik, dan daerah pemilihan (dapil). Dengan pendekatan tersebut, strategi politik dapat disusun secara lebih spesifik berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah.
Siswanto menilai pendekatan tersebut relevan dengan kebutuhan anggota DPRD Kabupaten, khususnya dalam menangkap aspirasi masyarakat di wilayah pemilihan yang semakin luas.
“Untuk pemain lama di DPRD Kabupaten, pola-pola lama perlu dimodifikasi dan disinergikan dengan dunia akademis, praktisi, dan teknologi,” katanya.
Menurut Siswanto, kebutuhan terhadap alat analisis berbasis data semakin besar bagi calon anggota legislatif yang memiliki cakupan daerah pemilihan lebih luas, seperti DPRD Provinsi maupun DPR RI.
“Voxstream dapat membantu caleg merangkum dan mengidentifikasi isu-isu yang menjadi kebutuhan masyarakat di setiap dapil,” ujarnya.
Tekan Biaya Politik
Selain membantu membaca aspirasi masyarakat, pendekatan berbasis data dinilai dapat membantu kandidat menyusun strategi kampanye yang lebih efisien di tengah tingginya biaya politik.
Siswanto mengatakan tantangan kandidat bukan hanya memenangkan kontestasi, tetapi juga memastikan kemenangan tersebut dicapai dengan penggunaan sumber daya yang efektif.
“Justru yang harus dipikirkan adalah bagaimana caleg bisa menang dengan biaya serendah-rendahnya, dan alat seperti Voxstream inilah yang dapat membantu caleg merangkum identifikasi isu, membaca kebutuhan masyarakat, dan menyusun strategi yang tepat sasaran,” katanya.
Meski demikian, Wahyu menegaskan bahwa teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan kerja politik di lapangan. Menurutnya, platform berbasis data hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam menyusun perencanaan dan menentukan prioritas.
“Teknologi tidak menggantikan kerja kader, relawan, maupun dialog langsung dengan masyarakat. Teknologi membantu memastikan bahwa kerja tersebut memiliki arah, prioritas, dan ukuran keberhasilan yang lebih jelas,” ujar Wahyu.
Audiensi tersebut menjadi titik awal pembicaraan kolaborasi lebih lanjut antara ADKASI dan Voxstream, termasuk kemungkinan menggelar diskusi ilmiah di lingkungan kampus serta kajian bersama untuk memperkaya materi bagi anggota legislatif di daerah.
Platform Voxstream juga menyasar partai politik, calon anggota legislatif, konsultan politik, akademisi, hingga masyarakat umum yang ingin memahami dinamika kompetisi elektoral secara lebih objektif.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+