Viral Dentuman Meteor di Langit Pulau Jawa, Begini Penjelasan Pakar BRIN

Thomas mengatakan, sejumlah warga di Cirebon dan Kuningan melaporkan mendengar suara dentuman beberapa saat setelah meteor melintas. Menurut dia, suara tersebut bukan berasal dari ledakan di permukaan, melainkan gelombang kejut (sonic boom) akibat meteor melaju dengan kecepatan sangat tinggi.

"Suara dentuman terjadi karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan rambat suara. Gelombang kejut itu baru terdengar beberapa saat setelah meteor melintas karena suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan," ujarnya, dikutip dari Antara.

Di Majalengka, meteor dilaporkan tampak berwarna biru. Selanjutnya, objek yang sama terlihat di kawasan Nagreg sekitar pukul 21.23.37 WIB dan di Tasikmalaya sebagai cahaya terang yang sesekali menerangi awan.

Saat melintas di wilayah Yogyakarta sekitar pukul 21.23.57 WIB, sejumlah warga menyaksikan meteor memancarkan cahaya hijau yang sangat terang. Menurut Thomas, warna hijau tersebut berasal dari unsur magnesium yang terkandung dalam batuan antariksa yang memancarkan cahaya khas saat terbakar akibat gesekan dengan atmosfer.

Dia menambahkan, perbedaan warna yang terlihat di sejumlah daerah merupakan fenomena yang umum terjadi pada meteor. Selain dipengaruhi komposisi mineral penyusunnya, perubahan warna juga dipengaruhi kondisi atmosfer yang dilalui.

Berdasarkan rangkaian pengamatan, BRIN memperkirakan meteor terus bergerak ke arah tenggara hingga kehilangan kecepatannya dan kemungkinan berakhir di Samudera Hindia, tepatnya di selatan Jawa Timur atau Bali.

"Fenomena ini merupakan peristiwa alam yang menarik sekaligus menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan lingkungan antariksa. Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir. Yang terpenting adalah memahami fenomenanya secara ilmiah agar tidak mudah terpengaruh berbagai informasi yang tidak benar," tutur Thomas.